LiteraSIP

19 Maret 2023

Puisi-Puisi S. Prasetyo Utomo

Oleh : S. Prasetyo Utomo*

 

MUARA SUNGAI

Muara sungai mengalirkan aneka cerita
laut meluap sampai muara. Dewa Baruna
mengayunkan gelombang. Arus laut
bagai ombak berbalik arah. Memutar alur sungai
ke relung pemukiman. Jalanan tergenang
air menerjang tiap ruang tanpa perlindungan.

Muara sungai sekeruh lumpur tanpa mantra
Tak ada permohonan atas keselamatan nelayan
kusaksikan laut mendeburkan gelombang nasib
goncangan perahu-perahu kehilangan segala berkah
di ambang laut itu aku pandangi Dewa Baruna berwajah ragu.
meniti arus gelombang dan Reta – hukum alam
yang liar, luput dari genggaman tangan
“Hujan badai lepas dari aturan dan peranku!”

Arus  deras,  siapa pun dihanyutkan ke ambang laut
kini aku mencari  perahu yang tergoncang ombak
dipusar badai. Bergulung-gulung
tercabik-cabik layar. Tiangnya patah merapuh
di pantai itu aku kembali rindu bening muara
yang meredakan murka laut, meredam badai,
ketika perahu dijaga  Dewa Baruna
untuk menemu segala yang bijaksana.

 

DEWA RUCI DI DASAR LAUT

Layakkah  aku menenggak air kehidupan
saat berpaling dari cinta seorang guru
dan melupakan asal-muasal ilmu
yang serba menuntut laku. Abai air suci
penawar zaman penawar dusta

Layakkah  aku mengarungi laut
berhadapan dengan seekor naga
tanpa keyakinan, tanpa keperkasaan
menyusuplah dalam pusaran gelombang
untuk menemui keheningan Dewa Ruci
yang muncul dalam dusta peradaban

Layakkah aku bersua keajaiban
setelah menolak segala wejangan
yang tumbuh sebagai pewahyuan
di tengah sungsang zaman
begitu saja menantang gelombang
pusaran gelap tanpa cahaya
dan naga mencabik luka jiwa

Layakkah kini aku menyelam ke dasar laut
Dewa Ruci tak pernah mencapai pusat jiwa
Jadilah aku manusia kehilangan kiblat!

 

BERSUA CAKIL DI HUTAN

 Di rongga dada Cakil berpusar desau angin
dan di tangan, senjata dalam genggaman
di hati, tersembul keangkuhan
yang mesti berhadapan dengan ksatria
pencari wahyu dan tahta.

Desau angin menampar Cakil saat kaunyatakan
“petualanganmu semu dan penuh prasangka
perseteruanmu menyempurnakan permainan!”
lelaki itu gagal menjadi penguasa yang menjaga
keselamatan hutan dan reranting pohon hayat

di dalam hutan yang bersembunyi Cakil
dilacak lagi ceceran rasa keberanian
dan para ksatria tanpa ampun memberi siksa
hingga maut di ujung senjata dan kuasa mereka

Hutan itu masih tetap milikmu, sepenuhnya milikmu
desau angin yang kaupendam di dalamnya
tak pernah mengalahkan kuasa ksatria

Tapi bagaimana mungkin aku tega, saat kauserukan,
“Selama hidup aku cuma pecundang
sekadar permainan yang kaupelihara.”

 

JALAN KELUAR DARI HUTAN

Berkutat dalam hutan, tersungkup kerakusan
Kau menolak Rama yang mengasihi pepohonan
Dalam  derita orang buangan yang terusir dari tahta
Memusuhi jin dan raksasa perusak belantara
Atas nama Dewa Wisnu .

Berkutat dalam hutan ranggas terbakar
Kaunistakan Dewi Sita dalam kesia-siaan
sambil berharap perlindungan punggawa raja
dan menobatkanmu sebagai penguasa zaman baru

Masih banyak yang tersembunyi dari hutan, sangkamu
kau menolak sebagai pertapa di antara pepohonan
malih rupa  Rahwana menelan segala hutan
menyisakan remah-remahnya sebagai serpihan

Tak pernah kumengerti, kebusukan pengakuanmu,
“aku paling suka membuka dunia baru
hutan sebagai persembunyian ketamakan!”

 

==

*Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *