19 Maret 2023
Pulau-Pulau Pengantar Patah Hati
Oleh : Farizal Sikumbang*

Seorang perempuan patah hati suatu hari datang ke pulauku dengan hasrat mencari bahagia. Namun dua minggu sebelum kedatangannya, seorang kenalan lama menelponku. Jika laki-laki itu tidak mengenalkan dirinya terlebih dahulu, tentulah aku tidak tahu siapa yang menghubungiku itu. Sebab sudah lebih lima belas tahun lamanya, aku sengaja menghapus namanya di ponselku karena suatu kebencian yang akan aku kisahkan.
“Apa kau sehat-sehat saja, Darman?” tanyanya
“Aku sehat-sehat aja sejak kepergianmu,” balasku.
“Oh ya, kudengar kau sekarang menetap di Pulau Derawan. Sudah jadi guide sekarang, ya.”
“Ya, aku punya perahu mesin. Siap mengantar para pelancong bila ingin ke pulau-pulau di kampungku,” kataku lagi.
“Ya, ya. Begini maksudku, Darman,” katanya.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Aku mohon bantuanmu.”
“Bantuan apa?”
“Aku punya anak perempuan. Ia sedang mengalami kesedihan yang tak bisa aku lukiskan. Intinya, ia baru bercerai. Ia sering mengurung diri di kamar. Istriku, dan aku sudah lelah menghiburnya. Terakhir ia mengatakan padaku ingin pergi ke suatu tempat yang dapat membuatnya bahagia. Ia katanya ingin ke Bali. Tapi kami sarankan agar ia ke Berau. Apalagi itu kan kampung halaman ibunya juga. Dan ia setuju. Nanti, kau antarkanlah ia berkeliling ke pulau-pulau lainnya.di Berau. Kau bisa bawa ia ke pulau Derawan atau Maratua ya. Aku yakin, setelah ia berkunjung ke pulau-pulau yang ada di kampungmu, ia akan dapat melupakan mantan suaminya yang brengsek itu. Kau tak usah takut soal biaya. Aku paham ini tidak gratis. Oh ya, jangan lupa kau kenalkan ia pada istrimu, ya.”
Aku tidak menjawab. Rupanya Jauhari tidak tahu jika aku tak pernah menikah sejak ia mematahkan hatiku.
***
Arai, perempuan patah hati itu telah berada di Pulau Derawan. Dan sore ini aku menjumpainya.
“Maaf, agak terlambat datang,” ujarku. Karena menyadari bahwa senja akan berganti malam dan aku merasa sudah terlambat menemuinya.
Arai memandangku sejenak. Lalu matanya kembali di arahkan ke laut lepas.
“Tidak apa-apa,” jawabnya kemudian.
Dan dengan pelan aku duduk di depannya. Aku dan dia hanya dipisahkan oleh meja kayu yang memanjang. Ia menghadap ke laut lepas dan aku menghadap ke arah pulau Derawan.
“Tolong kisahkan tentang asal usul pulau ini,” ujarnya mengagetkanku.
“Apakah ibumu tidak berkisah?” tanyaku.
“Pernah, tapi, akan lebih menyenangkan dan terasa dramatis diceritakan ketika aku berada di dalam latar kisah yang akan diceritakan. Iya kan, Pak?” katanya tersenyum.
Aku membalas senyumanya. Tapi, tiba-tiba saja aku membayangkan jika yang ada ada di depanku itu bukanlah Arai, tapi seseorang lain yang menyerupainya. Ia bernama Maharati.
Maharati? Ah.
Perkenalanku dengan Maharati terjadi di sebuah acara adat. Saat itu aku melihat Maharati sedang memperagakan tari kancet ledo di lamin desa diiringi musik sape. Dua tangannya memegang bulu burung enggang. Kaki dan tanganya bergerak mengikuti alunan musik. Aku bukan hanya terpesona pada tariannya, tapi jauh daripada itu, kecantikan Maharati.
Usai pertunjukan, aku berkenalan dengan Maharati. Ia perempuan yang ramah dan dengan antusias menerima perkenalanku. Kami berbicara beberapa hal yang menjurus pada hal-hal yang bersifat pribadi. Dan hari itu sungguh sangat menyenangkan.
Pertemuan kami terus berlanjut pada hari-hari lainnya. Maksudku, jika hari libur tiba, tidak jarang aku berkunjung ke rumahnya. Sesekali aku tidak pergi sendiri, tapi di temani Jauhari. Teman satu kos-ku.
Suatu hari aku pernah mengajak Maharati ke pulau Derawan. Aku pernah mengisahkan tentang asal-usul penamaaan pulau itu padanya.
“Tentang asal-usul pulau Derawan, begini kisahnya Maharati,” kataku. “Konon, dulu kabarnya, ada seorang laki-laki bernama si Dalak, ia mengarungi lautan mencari keluarganya yang hilang karena perahu yang mereka tumpangi pecah di lautan. Si Dalak yang selamat terus mencari keluarganya sambil berlayar. Berhari-hari ia berlayar mencari saudaranya yang hilang di lautan. Suatu waktu ia sampai di lautan yang ada di Berau. Ketika ia melihat sebuah pulau, si Dalak pun singgah di pulau itu. Ia berharap di sana akan menemukan keluarganya. Tapi ternyata pulau itu tak berpenghuni. Karena pulau itu tak bernama, maka si Dalak memberinya nama pulau Derawan atau Pulau Perawan. Ia memberikan nama itu sebagai kenangan untuk anak gadisnya yang hilang,” begitu kisahku pada Maharati tentang penamaan asal muasal penamaan pulau Derawan.
“Selanjutnya si Dalak terus berlayar mencari keluarganya yang hilang. Dalam keputusasaan, si Dalak kembali melihat sebuah pulau yang cukup besar. Dengan sekuat tenaga, si Dalak merapatkan perahunya ke pulau itu. Ia berharap akan bertemu dengan keluarganya, apakah itu istri, atau mertuanya. Tapi setelah menyusuri pulau itu ia tetap saja tidak menemukan siapapun. Sebelum meninggalkan pulau tak berpenghuni itu, si Dalak memberinya nama pulau Maratua, sebagai penghormatan untuk mertuanya yang hilang.”
Aku juga hendak menceritakan perihal asal-usul penamaan pulau Kakaban dan pulau Laki pada Maharati, tapi ia telah memotong penjelasanku.
“Berarti si Dalak sangat penyayang kepada keluarganya ya,” kata Maharati padaku.
“Ya, ya,” jawabku. “Buktinya si Dalak telah menamakan beberapa pulau lainnya sebagai nama keluarganya. Pulau Kakaban itu merupakan wujud cintanya pada kakaknya. Serta pulau Laki juga wujud cintanya pada anak laki-lakinya yang hilang,” kataku.
“Aku ingin punya suami seperti itu,” ujar Maharati sambil tertawa dengan menutup mulut.
Aku pun tersenyum dikulum. Sejak itu aku semakin menyukai Maharati. Tapi bodohnya, aku tidak pernah menyatakan kesukaanku padanya.
Dan celakanya, suatu hari telah kudapat kabar, jika Jauhari telah mengawini Maharati dan memboyongnya ke Jakarta. Kabar itu membuatku sempoyongan. Aku tidak tahu bagaimana caranya Jauhari memikat Maharati. Aku sangat benci pada Jauhari. Sampai-sampai namanya kuhapus di ponselku. Kuingin ia hilang dalam kisah hidupku. Hilang bersama Maharati.
***
Tapi kini sosok Maharati tampil di depanku. Ia adalah Arai. Anak Maharati. Aku tidak tahu, apakah Jauhari sengaja kembali menikam hatiku untuk kedua kalinya dengan mengirimkan anaknya padaku. Atau malah Maharati sengaja mengirimkan Arai untuk terus mengabadikan lukaku.
“Ayo, kisahkanlah tentang asal usul pulau-pulau itu padaku,” ujar Arai mengagetkanku.
“Ya, ya, “ jawabku gugup.
Aku berkisah pada Arai seperti juga aku pernah berkisah pada Maharati puluhan tahun silam.
Setelah aku usai bercerita, ponselku berbunyi. Rupanya dari Jauhari.
“ Hai Darman, apakah Arai bersamamu?” Tanyanya.
Aku terdiam. Aku tidak menjawab. Aku mematikan ponselku. Sungguh, malam ini aku ingin berdua saja bercerita bersama Arai.
*) Berau-Banda Aceh, 2020
*Farizal Sikumbang lahir di Padang. Perajin Prosa. Bekerja di Provinsi Aceh.
Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 19 Maret 2023 - SIP Publishing