12 Maret 2023
Puisi-Puisi Tri Astoto Kodarie
Oleh : Tri Astoto Kodarie*

WAJAH DI CERMIN TERBELAH
Sepertinya ragu-ragu memandangi wajahnya sendiri
cermin itu terpaku di tembok menahan nyeri
lalu wajah itu milik siapa? Dengan rambut tergerai
merampas kecemasan dengan senyum bias terurai
Wajah itu tekun menganyam air mata
hanya diam sendu tak ada yang diminta
di cermin yang terbelah tak ada percakapan
sudut-sudut bibirnya mencoba memberi keramahan
mungkin telah lupa pada waktu yang terlewati
serupa perca-perca kisah telah lama mati
Tak juga pergi diri cermin wajah itu
meski larut malam tiba masih saja begitu
menghamburkan bau kembang sedap malam
meratap perih yang datang dari masa silam
wajah itu menjelma sekuntum melati
mengharumkan tidur malam paling inti.
Parepare, 2022
ITU SEPI MENCUBIT PIPI
Tak lagi bisa kuhitung hening yang runtuh
sedang yang datang kau suguhkan masih utuh
sungguh, sebenarnya tak ada keberanian melompat
untuk bunuh diri pun perdebatan hatiku belum sepakat
langit berawan kelabu mengumumkan mendung
serangga di awal senja menawarkan kidung
sepi itu mencubit pipi
menggandengku menuju tepi
lembah berjurang menganga sungguh dalam
sepi terus menghasut datang dari masa silam
lalu kenapa aku tak mau menyerah
padahal kuntum mawar sudah tak lagi merah
Di depan cermin, mukaku memerah dicubit sepi
tak juga selesai nasib ini kususun rapi
bila datang bisik-bisik kematian yang dicurigai
barangkali setiap hidup perlu harum dan dihargai
tapi mewujudkan sepi menjadi api unggun
membuatku berhari-hari harus diam tertegun
Pintu-pintu dan jendela menjelma keranda
biarkan sepi ini kulipat rapi sebagai penanda
Parepare, 2022
SURAT CINTA YANG KUTULIS DI TUBUHMU
Kulihat warnanya telah memburam, bahkan purba
tapi masih kuat dan berjiwa, berulang-ulang kuraba
serupa angsa-angsa berkejaran dan berenang
tubuhmu adalah rawa-rawa hening berair tenang
Berpuluh tahun surat cinta itu kutulis ditubuhmu
semenjak pintu di rumah itu bertemu
belum pudar bahkan huruf-hurufnya terus menari
sampai seprai kusut bekas seperti kenduri
Kasih bersemayam di tubuhmu telah senyawa
dengan tinta yang kugores sepenuh jiwa
hingga menjadi telur dan menetas
dan kau hanya bilang, peluklah hingga tuntas
Sungguh, kulihat hatimu semakin hujan
tapi itu bukan sayatan-sayatan kesedihan
kurasa basah masih saja mengalir di tubuhmu
hening menawarkan sebuah harga untuk bertemu
Surat cinta yang kutulis di tubuhmu menjadi lembah
mesti segera didaki dan tak boleh gegabah.
Parepare, 2022
KAULETAKAN KERANDA DI DADA
Memeluk pinggang sunyi malam ini
dan mencium jenjang lehernya berulang kali
ada rasa perih, dingin dan hampa
atau mungkin dengan wangimu aku lupa
nadi sepertinya deras mengalirkan kecurigaan-kecurigaan
akan menjadi bekal saat ajal menjemput kematian
Begitulah, selalu saja kau cari senyum melati di bibirku
padahal keganjilan demi keganjilan telah mengaku
selalu saja kaumerasa telah mengadu pada kaok burung malam
lalu menanyakan apa maksud kenangan diberi tangan masa silam
Bayangkan jika sebelum ajal tiba dan malaikat datang lebih pagi
serupa setangkai melati tak punya harum, tak punya duri lagi
hanya kauletakan keranda di dada tanpa kain kafan
membiarkan wajahku menggambar sendiri batu nisan.
Parepare, 2022
===
*Tri Astoto Kodarie, lahir di Jakarta, 29 Maret, besar di Purbalingga, sekolah di Yogya dan menetap di Parepare, Sulawesi Selatan. Ada 11 buku puisi tunggal yang telah terbit. Buku puisinya berjudul Hujan Meminang Badai mendapatkan Penghargaan dari Kemdikbud Tahun 2012, serta berbagai penghargaan lainnya. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan. Puisinya termuat pada 117 antologi puisi bersama di berbagai kota. Berbagi keindahan puisi melalui kanal Youtube: @TriAsKodarie Channel. Kini tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan.
Selamat Succesfull Sedulur SatuPena SatuHati SatuJiwa SatuRasa KOMPAK KEBERSAMAAN sepanjang masa Succesfull Sedulur