LiteraSIP

12 Maret 2023

Musim Bunga Penari Sema

Oleh S. Prasetyo Utomo*


BUNGA
tulip bermekaran di taman-taman sepanjang perjalanan pensiunan polisi. Terlalu  pagi ia mengendarai sedan tua, meninggalkan apartemennya di Kota Konya. Kelopak-kelopak bunga tulip  masih berembun. Ia mencapai Ankara menjelang siang. Kenangan masa silam bermunculan dalam benaknya saat ia  tiba di toko roti Orhan Fatih untuk menghadiri pernikahan Saad dan Fahmara.

Toko roti itu disulap menjadi gedung pernikahan. Di sudut-sudut ruangan, di atas meja, dipasang bunga-bunga tulip merah dalam vas keramik. Orhan Fatih menyambut pensiunan polisi dengan pelukan,

“Lama sekali kau tak kemari,” kata Orhan Fatih. “Saad meminta restumu.”

Dulu ketika pensiunan polisi itu masih bertugas di Ankara, selalu berlangganan membeli baklava 1). Ia mengenal Saad, imigran gelap asal Suriah, penjaga toko roti Orhan Fatih. Ketika pensiunan polisi pindah ke Konya,  Saad berhenti bekerja di toko roti Orhan Fatih. Ia tinggal di Konya, bekerja di Mevlana Museum dan menjadi penari sema di Mevlana Cultural Centre. Kini Saad menetapkan pilihan kembali bekerja di toko roti Orhan Fatih dan menikahi Fahmara, sesama imigran Suriah, yang sudah menjadi warga negara Turki.

Pensiunan polisi mendekati pengantin. Alangkah  kaget dia. Di antara pengantin tampak sosok Kerem, lelaki tua yang mengajarinya menari sema. Kerem mengenakan jubah panjang warna putih dan topi menjulang. Mengapa ia menampakkan diri di sini? Bukankah ia sudah meninggal?

“Rupanya kau menemukan jodoh di sini,” kata pensiunan polisi ketika menyalami pengantin lelaki. Saad mengucapkan terima kasih, pensiunan polisi pernah melindunginya selama ia tinggal di Konya.

“Maafkan saya, tak bisa terus bekerja di Mevlana Museum,” balas Saad, yang berhutang budi atas kebaikan-kebaikan pensiunan polisi, selama ia tinggal di Konya.

“Semoga kau tak meninggalkan kebiasaanmu sebagai penari sema,” pinta pensiunan polisi, yang tak lagi melihat sosok Kerem di antara dua tubuh pengantin. Pensiunan polisi itu bersikap tenang. Ia mengendalikan perasaan gugup dan gusar.

***

SENYAP senja, pensiunan polisi kembali mencapai apartemennya di Konya. Ia menemui anak perempuannya, Akila, yang tengah mengandung anak pertama. Akila sibuk merawat ibunya yang lumpuh. Selama beberapa tahun Akila tinggal di Istambul. Ia  berhenti bekerja sebagai pramugari setelah menikah dengan Kemal. Tiga hari ini ia menengok pensiunan polisi.

Pensiunan polisi memberikan etli ekmek 2) yang dibelinya di toko roti pada Akila.

“Kau akan pulang ke Istambul besok pagi?” tanya pensiunan polisi, seperti ingin menahan Akila agar tak meninggalkannya.

“Ya, Baba 3), aku pulang dengan penerbangan pertama,” balas Akila sambil menghidangkan etli ekmek dan ayran 4) dengan banyak busa di mulut gelas.

Pensiunan polisi itu  menikmati etli ekmek dan  minum ayran dengan diam. Termenung, ia memandang jauh,  mengenang taman-taman di Mevlana Museum yang ditumbuhi bunga-bunga. Ia mengenang kembali saat mementaskan tari sema di Mevlana Cultural Centre. Kerem meninggal setelah putaran terakhir pertunjukan tari sema. Wajahnya seteduh permukaan Tuz Golu, Danau Garam, yang dingin, beku, dan putih, dalam ketenangan alam.      

***

 SAMBIL menyetir mobil sedan tua kesayangannya ke bandara pagi itu, pensiunan polisi masih menyimpan sebuah pertanyaan untuk Akila. Alangkah  berat untuk mengucapkannya. Ia mesti menyampaikan pesan ini pada anak perempuannya, sebelum mencapai bandara. Ia tak mungkin menyampaikan pesan ini pada Anka, anak lelakinya yang tinggal di Istambul, dan bekerja sebagai pemandu wisata turis asing.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu,” kata pensiunan polisi pada Akila. Tiap kali  melihat bunga-bunga tulip bermekaran, ia teringat akan Kerem yang menari sema dengan jubah putih mengembang dan topi menjulang, roboh dalam putaran terakhir.

“Sepertinya Baba ingin bicara serius.”

“Ini tentang nasib ibumu.”

Sepasang mata Akila yang bulat bening memandangi ayahnya. Perempuan  yang hamil muda itu menahan diri. Menunggu ayahnya bicara.

“Aku kini semakin tua,” kata pensiunan polisi. “Suatu saat aku akan meninggalkan kalian. Bagaimana dengan ibumu?”

“Saya akan merawat Anne 5),” kata Akila. “Akan saya bawa Anne ke Ankara. Saya sudah berhenti sebagai pramugari, bisa menawat Anne dan bayi yang kulahirkan. Kami menyediakan satu kamar untuk Anne.

Pensiunan polisi itu meninggalkan bandara dan membeli bunga-bunga tulip merah.

Tiba di apartemen pensiunan polisi memasang bunga-bunga tulip merah dalam vas keramik di sudut kamar istrinya. Istri pensiunan polisi tergolek di ranjang, tak bisa bergerak, tak bisa bicara. Lelaki tua itu merawat istrinya yang lumpuh, tanpa bicara, dan melihat lelehan bening di pipi keriputnya. Perempuan tua itu pernah meninggalkan keluarga, hidup dengan seorang lelaki di ladang gandum Pamukkale, dengan pemandangan hamparan bukit-bukit seputih kapas. Perempuan tua itu disingkirkan kekasihnya ke panti jompo ketika terserang lumpuh. Akila dan Kemal – suaminya, seorang pilot –  yang menjemput perempuan tua itu dari panti jompo, membawa pulang ke apartemen di Konya.

Tak  pernah diketahui pensiuanan polisi: apakah istrinya menyesal, marah, atau merasa malu dengan perbuatan yang pernah dilakukannya.

***

 BUNGA-BUNGA bermekaran di taman Mevlana Museum. Pensiunan   polisi bertugas sebagai aparat  keamanan.  Ia teringat Kerem yang mengajaknya untuk menari sema di Mevlana Cultural Centre.

Tiba di pelataran Mevlana Cultural Cenrtre untuk mementaskan tari sema, pensiunan polisi itu tertahan di suatu tempat dekat ruang parkir.

Pensiunan polisi memasuki ruang pertunjukan tari sema, mengenakan jubah panjang warna putih  dan topi menjulang. Dalam pusaran para penari sema, ia melihat Kerem mengenakan jubah panjang warna putih dan topi menjulang. Sekilas. Lenyap.  Muncul. Menghilang. Tampak lagi. Tersenyum. Pensiunan polisi itu tergagap. Ia ingin menyelesaikan seluruh putaran tari sema,

Pensiunan  polisi itu tergetar mendengar musik blagama 6), flute dan tabla 7), menggerakkan tubuhnya untuk memutar berlawanan arah jarum jam. Ia terus memutar dan Kerem menampakkan senyum samar. “Tiba saatnya kau mengakhiri peranmu sebagai penari sema. Musim bunga menyambutmu.”

Sepasang mata pensiunan polisi itu sempat mengabur. Tubuhnya terhuyung pelan.  “Apa kau mau menjemputku?”

“Tugasmu sudah selesai. Kau mendampingi Saad sampai pemuda itu menemukan pasangan hidupnya. Kelak, bila ia tua, akan kembali ke kota ini, meneruskan perannya sebagai penari sema.”

“Biarkan aku selesai menari,” tukas pensiunan polisi. Ia bertahan agar tak jatuh dalam putaran.

Aroma bunga tulip tercium dalam ruang pertunjukan tari sema.

***

Konya, Juli 2022

Pandana Mereka, Februari 2023                                                                                   

Keterangan:

  • baklava = makanan ringan di Turki
  • etli ekmek = roti berisi daging semacam pizza
  • baba = ayah
  • ayran = minuman terbuat dari yogurt dan susu
  • anne = ibu
  • baglama = instrument senar yang dipetik, kecapi berleher panjang.
  • tabla = instrumen musik perkusi tradisional

====

*S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma.
Semenjak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia, Suara Karya, Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabasi.

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen Cermin Jiwa, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen Sakri Terangkat ke Langit dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen Penyusup Larut Malam dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Midnight Intruder (Juni 2018). Cerpen Pengunyah Sirih dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

 

 

1 thought on “Musim Bunga Penari Sema”

  1. Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 12 Maret 2023 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *