5 Maret 2023
Puisi-Puisi A. Warits Rovi
Oleh : A. Warits Rovi*

HUJAN AWAL TAHUN
setiap yang diingkari adalah mendung
rahimnya menganga di jendela
melahirkan hujan dan segala yang berwajah pelangi
melengkung di gagang pintu
gigil tak perlu disembunyikan
dalam retak karatan tulang
sebab ada kalanya sesuatu tak perlu telanjang
untuk bisa dipandang
punggung jendela yang basah
menghampar bayangan tahun yang pergi
dengan sejumlah puisi dan skema rintih
di angka satu yang merah ini
hujan mengawali langkah sebagai tindakan
menyusun tembok masa depan
dari yang cair dan mengalir
supaya kau pandai membuat selokan
di antara jarum jam yang terus berkejaran.
Rumah IbelFilza, Januari 2023
KALENDER BARU
tak ada yang lain dari diriku
kecuali warna dan jasad kertas
kembali berpangku ke satu paku
di sebelah pintu rumahmu
kukirim angka-angka pada harimu
sebagai bahasa paling rahasia
perihal waktu yang tak takut batu
dan kau menjumlah umurmu
dengan hitungan jemari ringkih
menegaskan rencana di hari nanti
dan melupakan mati.
Gapura, Januari 2023
MONTASE HARI YANG CERLANG
Helmina Rovi
gelak cakap dua buah hati kita
adalah gradasi warna dalam sebuah lukisan
tumpuan garis liku, pendar arsiran, dan titik cipratan
pada jisim gambar gunung, pematang, dan lautan
teguh berumah pigura kecil di dinding dada kita
bergantung pada pakumu dan pakuku
berhadap-hadapan dengan waktu, mengelak dari sapuan debu
kita lihat lukisan itu dari puisi ini
dari jendela hati yang belah tirainya tak dijangkau sepi.
Gapura Timur, Januari 2023
RINTIH RUMAH TUA
masa laluku tersisa di lipatan kain usang dekat pintu, bekas sobekan sampir seorang perempuan yang kehabisan cara untuk menghapus air matanya pada Sabtu yang dingin, saat ia mengenali wajahnya di cermin, tak lebih sekadar bunga absurd yang nyaris kering.
sehabis menangis, ia meninggalkanku pergi, pintuku tanpa ia tutup, dibiarkannya menganga pada waktu yang lebat dan berkelebat. jam dinding yang mati tak mampu lagi berbicara soal itu, kecuali hanya seekor kupu-kupu yang sesekali tandang menyampaikan kabar, bahwa hidup memang angin sahaja yang sulit dibaca arah silirnya.
lalu sekawanan rayap mulai mencampuri hidupku dengan sarang berliuk dari bawah kursi dan perlahan menegaskan wujud yang pasti pergi, aku tak bisa mengucapkan kata-kata, selain menumpahkan air mata rahasia, sembari membayangkan perempuan itu datang kembali, membawa melati atau puisi, lalu mematut wajahnya kembali di cermin, seraya membuat kesimpulan betapa hidup bukan sekadar gelengan atau anggukan.
Rumah FilzaIbel, 2023
==
*A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media antara lain: Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, MAJAS, Sindo, Majalah FEMINA, dll. Memenangkan beberapa lomba karya tulis sastra tingkat nasional. Buku puisi terbarunya Bertetangga Bulan (Hyang Pustaka, 2022). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.