5 Maret 2023
Ibadah Paling Khusyuk
Oleh : Katarina Retno Triwidayati*

“Ibu, aku akan jadi kecoak,” katamu kepada ibumu. Kalian berpandangan. Bisa jadi kalian saling menerka isi hati satu dan yang lain.
“Apa kamu bahagia jika menjadi kecoak?” tanya ibumu. Kamu mengangguk. Tampak begitu yakin dengan keinginan itu.
Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa ibumu tidak bertanya alasanmu menjadi kecoak. Ibumu hanya bertanya apakah kamu akan menjadi bahagia atau tidak? Dan hal itu bisa jadi tidak masuk dalam prediksimu sama sekali.
“Kapan?” tanya ibumu. Dia meletakkan pakaian usang yang ditambal sulam untuk kesekian kalinya. Pakaian itu teronggok menyedihkan di pangkuannya.
Kalian berpandangan lagi. Kembali kamu terheran-heran karena ibumu memilih bertanya waktu yang tepat untuk menjadi kecoak. Mengapa ibumu tidak bertanya caramu menjadi kecoak?
“Nanti malam, atau mungkin sebentar lagi,” katamu. Kamu tampak mengangkat bahu. Mungkin maksudmu ingin mempertegas kesan bahwa kamu belum tahu kapan waktu yang kamu pilih untuk menjadi kecoa.
Dan ibumu benar-benar tidak mengajukan pertanyaan lanjutan. Dia hanya mengangguk. Lalu dia melakukan pekerjaannya. Semua dilakukan dengan gerakan yang sangat lambat.
Ia lalu kembali mengambil pakaian usang itu. Kembali menisik dengan gerak lambat seolah itu adalah gerakan ibadah yang paling khusyuk yang bisa dilakukannya saat ini.
Apakah ibumu memperlakukan kegiatan menisik itu sebagai doa? Bukankah saat berdoa, manusia melakukannya sekhusyuk mungkin? Atau jangan-jangan secepat-cepatnya sebab yakin Tuhan itu maha tahu?
Kamu mengamati ibumu. Perempuan berrambut keperakan. Raut mukanya lusuh. Pakaiannya lusuh. Dan semua selaras dengan rumah yang lusuh.
Gerakan tirai jendela menunjukkan ada pergerakan angin. Hal itu membuatmu bisa melihat secarik kertas yang berkibar-kibar di dekat ranjang. Tepatnya di bagian kepala ranjang, sekitar dua puluh centi dari jendela yang terbuka.
Kamu berdiri. Lalu mendekat pada jendela itu. Tanganmu menyentuh kertas kumal menyedihkan yang semula melambai-lambai itu.
“Bu, kata ibu, ibu pengin melihatku berguna.” Kamu diam sesaat. Mungkin kamu memberi waktu untuk ibumu mengingat kata-katanya dulu.
“Bu, kalau aku jadi mahasiswa, aku jadi berguna, ‘kan?” tanyamu. Tanganmu menelusuri huruf-huruf yang ada di kertas itu. Kertas dengan gambar tiga perempuan dan tiga laki-laki yang memakai jubah dan sesuatu di kepalanya.
“Katanya kalau sekolah baik-baik, nanti bisa lulus dengan hasil baik juga. Ya to, Bu?” tanyamu lagi. Ada rangkaian huruf yang ditata begitu rapi di kertas itu. Kamu tahu isinya ajakan untuk masuk ke sebuah universitas.
Ada huruf-huruf dengan ukuran kecil di bagian bawah. Isinya informasi biaya yang mesti dibayarkan jika ingin menjadi mahasiswa di kampus itu.
“Iki lho, Bu. Ini namanya kampus. Tempat belajar biar jadi insinyur. Ho’oh ‘kan, Bu?”
Ekspresi orang-orang muda di kertas itu tampak bahagia. Dan tidak penting menjadi apa pun, setelah lulus dari tempat itu mereka akan kamu sebut sebagai insinyur. Orang yang ahli dalam suatu bidang. Orang yang keren karena penyebutan itu.
“Aku ya pengin berguna kayak mereka itu, Bu. Mereka ini biasanya demo kalau ada kebijakan pemerintah yang nggak pas. Nanti aku juga bisa ngomong sama pemerintah kalau banyak masyarakat hidup nggak sejahtera. Minimal aku bicara tentang kita, Bu.”
Kamu menoleh. Ibumu masih saja menisik dengan khusyuk. “Ibu!”
Tapi ibumu masih saja menisik. Kepalanya menunduk. Gerakan tangannya lambat tapi konsisten.
Samar-sama bunyi tokek terdengar. Kamu mencoba mengikuti bunyi itu dengan menggantinya dengan “kuliah … nggak … kuliah … nggak”. Sialnya, kali ini bunyi itu berhenti pada kata “nggak”.
“Ah, payah. Tokek juga bilang aku nggak bisa kuliah.” Kamu mengentakkan kaki. Lalu mendekati ibumu. “Bu, aku beneran mau jadi kecoak saja.”
Ibu meletakkan pakaian yang ditisiknya itu. “Ya,” jawab ibumu singkat.
“Aku serius lho, Bu!” Dari kata-katamu itu jelaslah kamu hanya sedang merajuk. Sebuah cara merayu agar ibumu mengikuti apa yang kamu mau.
“Ya, ya, ya! Ibu sudah bilang iya. Mau jadi kecoak, mau jadi cacing, kaki seribu atau apa pun itu terserah!” Tiba-tiba ibumu berteriak. Teriakan yang sedikit mengagetkan mengingat suara ibumu selama ini lembut dan cenderung mencicit seperti bunyi tikus.
Kamu menatap ibumu seolah perempuan itu orang asing. Itu seperti tatapanmu pada orang-orang yang lalu-lalang di stasiun kereta. Atau mereka yang berjubel di pasar.
“Kamu mau jadi apa saja terserah. Tapi kalau boleh ibu minta, jadilah berguna. Sebentar saja. Hiduplah baik-baik, sebaik-baiknya, layaknya manusia baik.”
Kamu sedikit terkejut dengan kata “terserah” yang disampaikan ibumu. Bukankah “terserah” itu terasa “sedikit tidak peduli”?
“Kurang apa ibu mendidikmu? Beribadahlah dengan khusyuk. Minta betul-betul sama Tuhan! Kurang khusyuk apa pula ibu berdoa buatmu? Sudah kuminta pada-Nya agar kamu jadi orang berguna. Nyatanya kamu malah jadi tidak berguna.”
Ibumu asyik berteriak-teriak. Dengan suaranya yang lebih mirip cicit tikus atau burung gereja yang mampir sebentar di jendela.
Kamu menghela napas. Ibumu mungkin sedang lupa “kecoak” adalah pendaur ulang yang sangat profesional. Bahkan dia tidak minta bayaran untuk kerja baiknya menyelamatkan bumi itu.
Perlahan kamu melangkah pergi. Suara ibumu masih terdengar. Baur membaur dengan suara lain yang menciptakan bising tak berkesudahan. Seperti suara-suara yang kau keluhkan selalu memenuhi kepalamu. Sebuah alasan yang sempurna untuk membuatmu tak mampu beribadah secara khusyuk seperti pinta ibumu.[]
==
*Katarina Retno Triwidayati merupakan ibu dari dua orang anak. Beberapa cerpen dan esainya dimuat di media cetak/ online baik lokal/ nasional.
Selamat dan sukses buat mbak Katarina Tri W, naskahnya bisa lolos kurasi dari Bpk. GolA Gong. Teruslah berkarya ya Mbak. Biar bisa mendunia mengharumkan nama bangsa.
Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 5 Maret 2023 - SIP Publishing