26 Maret 2023
FETISH
Oleh : Aliurridha*

“KAMU MENJIJIKAN!” kata Melisa.
Andre benar-benar kaget. Dia langsung menghentikan apa yang dilakukannya. Dia lengah. Dia pikir Melisa telah lelap tertidur. Dia tidak menyangka Melisa memergokinya bermasturbasi sambil menonton film porno dengan adegan yang membuat Melisa menatapnya seperti menatap kotoran.
Andre tidak mampu membalas baik perkataan maupun tatapan Melisa. Dia mencoba menjelaskan namun lidahnya kelu. Dipandanginya air yang membelah kedua pipi kekasihnya itu. Melisa menangis. Namun Andre yang merasa teriris.
Sejak malam itu Melisa tidak lagi mau bertemu dengannya. Berkali-kali Andre berusaha menghubunginya, tetapi Melisa tetap tidak mau mengangkat teleponnya. Wanita itu tidak juga mau membalas pesan Andre atau sekadar menjawab salam yang Andre titip lewat temannya. Andre sadar bahwa hal yang dilihat Melisa malam itu tidak akan bisa diterimanya. Tidak ada perempuan normal akan menerima apa yang disaksikannya malam itu. Seandainya saja Melisa tahu bahwa setiap mereka bercinta Andre selalu membayangkan sosok yang ditontonnya di layar datar.
Bukan karena Melisa tidak cantik Andre membayangkan sosok lain. Melisa adalah wanita paling cantik yang pernah dikenalnya. Hanya saja otak dan tubuh Andre tidak merespons seperti kebanyakan pria.
***
HARI BERGANTI HARI, minggu berganti minggu, dan Andre masih menunggu kabar dari Melisa. Andre mengerti bahwa apa yang terjadi di antara mereka tidak dapat diperbaiki lagi. Dia telah mengikhlaskannya. Namun, tetap saja perasaan bersalah itu menerornya, dan dia juga takut kalau sampai rahasia yang disimpannya rapat-rapat selama ini diketahui orang lain.
“Kamu tidak usah khawatir. Rahasiamu tidak akan lepas dari bibirku. Aku akan lebih dulu mati sebelum orang-orang mengetahui rahasiamu,” kata Melisa ketika mereka pertama kali bertemu setelah sekian lama.
Andre lega mendengarnya. Namun perasaan lega itu tidak bertahan lama karena selanjutnya Melisa berkata, “Tetapi maaf Andre, aku tidak bisa bersamamu lagi. Bukan karena aku tidak menyayangimu; aku sangat menyayangimu, dan kamu tahu itu. Tapi kamu benar-benar butuh konseling. Itu penyakit, dan aku ingin kamu sembuh.”
Sejak hubungannya dengan Melisa berakhir, Andre tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan wanita lain. Dia merasa lebih baik sendiri. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memperbanyak aktivitas fisik dan berolahraga. Ternyata itu semua tidak cukup. Pikirannya selalu kembali kepada imajinasi liar yang dilihatnya di layar datar. Dia semakin tidak mampu berkonsentrasi. Pekerjaannya mulai terganggu dan dia semakin sering gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu.
Dengan semakin kerasnya tekanan kerja, dia merasa dirinya semakin rentan. Kemudian sesuatu dirasakan bergerak-gerak dalam perutnya. Jika sudah begitu, napasnya akan memburu dan pandangannya mengabur. Kemudian darahnya berdesir dan mengalir menuju satu titik. Perlahan-lahan kesadarannya memudar, dan dia harus mencari cara untuk membuat dirinya lega.
Andre terlihat semakin kacau. Imsomnia mengacaukan hidupnya. Produktivitas kerjanya menurun. Karena itu atasannya menyarankan Andre untuk cuti.
“Sepertinya kamu butuh liburan,” kata atasannya itu.
Mungkin laki-laki itu benar. Sudah lama Andre tidak liburan. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali berlibur. Andre berencana untuk mengunjungi kakaknya. Telah begitu lama dia tidak bertemu Kania dan keponakannya yang menggemaskan itu—Nina. Andre penasaran sudah sebesar apa Nina sekarang.
***
BERDIRI di depan pintu rumah Kania membuat Andre diserang perasaan nostalgia. Tempat itu tidak berubah sejak dia kecil dulu. Itu membuat Andre selalu merasa seperti bocah kecil yang tak tahu apa-apa, dan itu membuat perasaannya lega.
Diketuknya pintu rumah sampai tiga kali.
“Tunggu sebentar,” kata suara seorang wanita yang sangat dikenalnya.
Kemudian terdengar suara langkah kaki yang membuat jantungnya berdebar. Tidak lama pintu dibuka, seorang wanita separuh baya muncul di balik pintu.
“Oh, Andre! Akhirnya kamu datang juga,” kata Kania yang langsung memeluknya.
Lumayan lama Kania memeluknya, dan itu membuat Andre merasa nyaman. Setelah pelukan dilepaskan, Andre menerawang wajah Kania yang kini mulai dihiasi kerutan. Waktu bertanggung jawab atas dosa itu, namun waktu belum cukup mampu menuntaskan kerjanya menyamarkan kecantikan wanita di hadapannya. Kania masih cantik di usianya yang mendekati lima puluh tahun.
“Kamu terlihat berantakan, Adik kecilku. Apakah dunia begitu kejam kepadamu?”
Andre tersenyum mendengar gaya bicara kakaknya. Dia selalu senang jika Kania berbicara dengan nada cemas seperti seorang ibu kepada anaknya. Jarak usia keduanya memang cukup jauh, membuat Andre melihat Kania seperti sosok ibu yang tidak pernah dimilikinya. Dia selalu senang jika Kania memperlakukannya seperti anak-anak. Andre selalu ingin kembali menjadi anak-anak. Dunia anak baginya adalah dunia yang begitu ramah, dunia dimana tidak ada tekanan kerja, tidak ada tenggat waktu, tidak ada serangan panik, tidak ada insomnia, dan yang paling penting, tidak ada berahi!
“Duh, kamu terlihat sangat berantakan. Seharusnya kamu tinggal bersama kakak, biar ada yang mengurusmu.”
“Aku baik-baik saja, Kak.”
Kania memperhatikan wajah Andre seperti seorang ibu yang meneliti kebohongan anaknya. Kemudian matanya yang penuh selidik itu menatap tajam pada mata Andre. Ketika mata mereka bertemu, Kania berkata: “Kamu bisa berbohong kepada siapa pun, tapi tidak pada kakak. Tidak ada orang yang baik-baik saja terlihat sepertimu. Ah, coba kamu bercermin, Andre. Matamu seperti orang tidak tidur berhari-hari.”
Andre tersenyum kecut. Tidak ada yang bisa dikatakan. Kania memang selalu tahu segala hal tentang dirinya. Kecuali rahasia itu, tidak ada yang tidak diketahui Kania tentangnya.
“Om Andre!” teriak Nina.
Gadis kecil itu melompat entah dari mana dan berlari menubruk tubuh Andre dari belakang. Andre membalik badannya, mencoba menangkap keponakannya, namun Nina mampu meliuk dengan lincah untuk menghindarinya. Andre mengejarnya dan berhasil menangkapnya tepat di depan televisi di ruang tengah. Mereka berguling seperti sepasang pegulat yang sedang bertarung. Nina tertawa cekikikan ketika kedua tangan Andre menggelitik perutnya.
“Ampun, Om! Ampun!” teriak Nina menggeliat-geliat, berusaha lepas dari cengkraman Andre.
Saat itulah Andre memperhatikan wajah Nina. Anak ini benar-benar sudah banyak berubah. Dia memang masih keponakan mungilnya yang manis, tapi kini dia terlihat berbeda dibanding terakhir kali Andre mengunjunginya. Ketika itu usia Nina baru lima tahun, dan kini dia sudah berusia sepuluh tahun.
“Kenapa lihatin Nina sampai segitunya, Om?” Pertanyaan Nina membuyarkan lamunan Andre.
“Kamu sudah besar rupanya … dan makin cantik,” kata Andre tergagap.
Nina tersenyum dan mengecup pipi Andre.
Mendadak Andre merasakan sesuatu bergerak-gerak dalam perutnya. Napasnya memburu dan pandangannya mengabur. Kemudian darahnya berdesir dan mengalir menuju satu titik. Perlahan-lahan kesadarannya memudar. (*)
Gang Metro, 2021
==
*Aliurridha, Pengajar di Universitas Terbuka. Cerpennya berjudul “Metamorfosa Rosa” masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Dia bergiat di komunitas Akarpohon.
Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 26 Maret 2023 - SIP Publishing