27 Agustus 2023
Pelangi di Kurusetra
Oleh Farida D Emmy

Manda mengibaskan, mengeringkan tetesan hujan di wajah dengan ujung kerudung coklat muda yang dikenakannya. Ia setengah berlari menuju mesin pendeteksi wajah sebagai bukti kehadiran di tempat kerja. Mesin menunjukkan ia terlambat satu menit.
“Bu Manda,” sapa Bu Lila saat berpapasan di depan pintu masuk. “Proposal yang kita ajukan ada revisi lagi.”
Ini untuk ketiga kalinya proposal kegiatan Ulangan Akhir Semester dicoret oleh Kepala Sekolah dan harus diganti. Padahal pelaksanaan tinggal beberapa hari lagi.
Manda membuka halaman yang ditunjukkan Bu Lila. “Tak apa. Tandai yang diminta Bapak untuk direvisi, ganti sesuai permintaan beliau, lalu ajukan lagi dengan menunjukkan bagian yang ditandai sudah diganti sesuai permintaan. Kalau ada tambahan coretan lagi untuk diperbaiki tapi tidak dicoret sebelumnya, abaikan.”
“Saya tidak berani, Bu Manda,” kata Lila pelan. Sinar matanya gelisah.
Manda dan Lila satu tim sebagai panitia pelaksana Ulangan Akhir Semester. Dari semester ke semester, kepanitiaan bergiliran. Manda guru yang patuh dan memahami prosedur kerja. Sebagai pegawai negeri, kepatuhan dan loyalitas terhadap aturan adalah sikap yang penting sebagai pegawai profesional.
Manda tercenung ketika apel Bapak memuji kepanitiaan semester berikutnya yang dipimpin Bu Solekhah.
“Bagus sekali kerjanya. Solid, dan aktif.”
Manda mengingat saat ia ditunjuk sebagai ketua panitia. Proposal sering disalahkan. Sementara proposal kegiatan di tim Bu Solekhah tidak terdengar ada kesalahan. Bapak juga mendampingi panitia selama kegiatan berlangsung. Berbeda jauh saat kepanitiaannya,
“Bagaimana beliau menilai dan membandingkan dua kegiatan yang sama dan memuji-muji yang satunya sedangkan perlakuannya berbeda?”
Sedih menghujam. Tapi ia harus tegar dan sabar. Bukan sekali Bapak berlaku tidak adil kepadanya.
Saat istirahat Wakil Kepala Sekolah mengumumkan pelaksanaan workshop. Dibacakan kepanitiaan kegiatan tersebut. Manda dinyatakan kordinator pemateri.
###
Sore hari cuaca cerah. Manda sedang mengecek kondisi pot tanaman di teras. Hati perempuan yang masih sendiri itu mekar melihat tanaman di pot berbunga. Hape di saku baju berbunyi.
“Selamat, ya,” sapa Estriana, seorang guru dari sekolah lain.
“Untuk apa?” Manda heran.
“Jadi panitia workshop,” kata Estriana seolah merasa senang.
Manda tertawa. Bukan tawa senang ataupun pura-pura senang. “Sudah direvisi kepanitiannya. Sejam lalu ada edaran daftar kepanitiaan di grup.” Ia mengejek Estriana.
“Kenapa begitu?”
“Tidak tahu. Tanya saja pada Bapak. Kamu kan teman akrabnya.” Manda tertawa lagi.
Hari berganti. Manda dan puluhan atau ratusan ribu guru di seluruh negeri, mungkin juga di seluruh dunia, menjalankan peran masing-masing sebagai pendidik. Di kurun waktu setahun, kinerja guru dinilai. Wewenang menilai diberikan pada Kepala Sekolah. Namun disepakati semua guru membuat nilai mereka sendiri. Gaduh argumentasi siapa menilai siapa mereda setelah disepakati, nilai sama dengan tahun sebelumnya. Hanya diganti data kepala sekolah baru. Lalu Bapak memberi tanda tangan. Jadilah sebendel rapor guru.
Usai mengajar di kelas sembilan, Manda menghadap Bapak, menyerahkan berkas-berkas penilaian yang dibuatnya. “Bila Bapak tidak berkenan, saya siap memperbaiki,” ucap Manda dengan dada berdegup kencang. Kalau anak remaja jatuh cinta, dada yang berdegup mengisyaratkan cinta. Tapi bagi seorang bawahan yang merasa tidak disukai atasan, itu degup ketakutan.
Seminggu, dua minggu, belum ada kabar atau pemanggilan terhadap dirinya. Apakah disetujui, atau ditolak. Manda tidak tahu dan tidak suka menunggu untuk penantian yang bisa dilakukan satu jam saja.
“Bisa Anda tunjukkan bukti kalau Anda mengenal semua murid Anda?” Laki-laki itu menatap Manda tajam. Dari sudut bibirnya saat berucap, terlihat ia menahan geram.
Manda yang berpikiran polos, berusaha selalu mengenyahkan pikiran dan prasangka buruk orang kepadanya, menyahut penuh percaya diri.
“Bisa, Pak. Saya ada berkas-berkas catatan tentang mereka.”
“Tunjukkan sekarang!”
Manda bergegas mengambil berkas di meja kerjanya lalu segera kembali menghadap Bapak untuk menunjukkan yang diminta beliau. Beberapa staf, rekan-rekan Manda yang menjadi pejabat sekolah, sudah duduk di kantor Bapak.
“Tidak usah. Besok saja!”
Manda melafalkan kalimat-kalimat penabah hati. “Yang tabah, ya.” Kata Manda pada dirinya sendiri, berulang, setiap hari. Sekolah ini tempat dia mencari makan dan mendedikasikan sedikit ilmu yang ia miliki. Akhir-akhir ini, tempat kerja seperti padang pertempuran Kurusetra. Rekan sesama pegawai memperebutkan simpati Bapak. Manda berebut dengan dirinya sendiri agar meraih ketenangan bekerja. Dia pesimis berkesempatan mengembangkan karir di pendidikan karena kesempatan itu hanya milik mereka yang disukai atasan.
Keesokan hari, Bapak memanggil Manda melalui Bu Solekhah. Beliau tidak meminta berkas-berkas bukti yang dimintanya.. Disaksikan Bu Solekhah adan Bu Waka, Bapak mengkritik rapor kinerja Manda dengan gaya bijak. ” Tidak ada guru yang mampu menjadi Amat Baik.”
Di luar kantor Bapak, Bu Solekhah berbisik kepada Manda. “Gara-gara kamu, saya diajak mendidikmu menjadi guru yang baik. Padahal saya pun bukan guru yang baik.”
Manda tertawa. Bukan tawa senang atau pura-pura senang. Di hari berikutnya, saat langit di atas gedung sekolah sedang panas-panasnya, Dua petugas dari Arsip dan Perpustakaan. Mereka memeriksa kondisi perpustakaan sekolah yang dikelola Manda sebagai tugas tambahan selain mengajar. Setelahnya mereka menyuruhnya mendaftar program akreditasi ke Perpusnas. Manda menggeleng.
“Apa kendalanya?”
“Pak Doni, jelaskan ke mereka.” Doni adalah pustakawan yang lebih lama mengelola perpustakaan sekolah.
“Berat, Pak, Bu.” Jawab Doni singkat.
“Kecuali,” Manda menyela. “Pak Toto dan Bu Niken menjelaskan kepada atasan, pentingnya program ini.”
Kepada beberapa guru, Manda dengar, Bapak terkesan keberatan. Manda keminter, bisik Bu Solekhah kepadanya. Apalagi akreditasi bakal memakan anggaran.
Dengan ekspresi mengejek di depan Bu Solekhah, Bapak berucap, “Emang Manda bisa apa?”
Tergiur dengan manfaat perpustakaan pada kemajuan litarasi di sekolah Manda, perempuan yang pernah bercita-cita terbang menuju cakrawala maha luas luas, namun kenyataan dia hanya mampu hinggap di dunia orang-orang sinau, bertekad mengerahkan jiwa-raga mewujudkan jalan bagi orang melek baca.
Berbulan-bulan ia berjibaku, bergumul antara intelektualitas dan spiritualitas, kesulitan dan keteguhan, kelemahan dan kekuatan mental sebagai manusia biasa. Bermalam-malam Manda lembur ketika tim yang dibentuknya pulang sebelum usai jam kerja. Sindiran dan cibiran Bapak saat apel pagi, seperti gada di dada Manda. Apa boleh buat, ia harus terus maju.
Di pagi yang hangat, Manda mengajar dan murid-muridnya belajar dengan gembira di ruang kelas. Terdengar rington handphone memanggil.
“Kamu masih di sekolah?” Pegawai Arpusda memberi selamat perpusnya berhasil meraih akreditasi terbaik. “Harusnya saat ini kamu naik panggung menerima sertifikat.”
Air mata Manda berlinang. Haru dan gembira.
Tak berapa lama kemudian Estriana mengirimkan foto Bapak sedang menerima penghargaan. Melihat foto itu, Manda menghirup udara dalam-dalam. Kurusetra tetap kelam, sekeras apapun ia berjuang.
###
*Farida D Emmy yang bernama asli Emi Farida adalah guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah negeri di Banyumas. Ia yang senang membaca dan menulis. Selain menulis cerpen, puisi, dan novel, juga menulis artikel. Buku antologi puisinya; Puisi-Puisi Pinggiran, Tambak Gugat, Candramawa Kusuma, dan Bulan di atas Stratford upon Avon (2018). Selain menulis puisi, beberapa karya cerpen dimuat di media masa. Buku fiksi yang pernah diterbitkan; antologi cerpen Sikas (2015), dan novel Winter in Hayes (2018) dan Summer in Harrow (2020).