LiteraSIP

3 September 2023

Jejak Kenangan

Oleh Sutono Adiwerna*

 

 

Tegal 2001

Nak, mata Abahmu berbinar-binar begitu tahu di perut Bunda sudah ada kamu. Setiap saat Abahmu mencium perut Bunda. Terkadang tergelak senang merasakan dirimu menendang-nendang rahim Bunda. Setiap malam, sebelum tidur Abahmu berzikir dengan membaca Surat Al-Luqman di kamar kita, Nak.

Nak, Bunda sih maunya kamu terlahir perempuan. Tapi  Abahmu inginnya laki-laki. Biar kelak bisa jadi guru ngaji sepertinya. Menurut Abahmu, guru ngaji di kampung kita masih bisa dihitung pakai jari. Akhirnya Bunda mengalah, berdoa seperti Abahmu agar kamu terlahir laki-laki. Tapi, kami sepakat apapun jenis kelaminnya, Bunda dan Abahmu akan menyambut dengan senang hati.

Nak,  Alhamdulillah, sembilan bulan kurang seminggu berkat bantuan Bidan Marni, kamu lahir. Abahmu, senang sekali. Matanya,  Bunda lihat tak hanya berbinar tapi dipenuhi butiran kristal keharuan ketika mengumandangkan adzan di telinga mungilmu. Nak, kami sepakat menamaimu RIZKI PRATAMA.

 

Tegal 2006

“Bunda, Kiki mau jadi tentara. ” Saat itu hari pertama kau masuk sekolah dasar.

“Kiki boleh punya cita-cita apapun. Asal?”

“Pandai ngaji seperti Abah.”

Nak, kami bersyukur memilikimu. Kata para tetangga, kamu tampan. Tapi bukan itu yang membuat bunda bangga. Tapi karena kamu ramah, santun dan tak pernah malas jika disuruh salat atau ngaji di surau  dekat rumah.

Waktu kamu berumur 3 tahun, kalau adzan subuh terdengar, dengan jenaka kamu berceloteh “Unda, azan, alat  ubuh.”

 

Tegal 2007

Nak, bunda bersyukur memilikimu. Bunda juga beruntung bersuamikan Abahmu. Meski Abahmu hanya penarik becak, jiwa sosialnya tinggi. Bersama teman-temannya, awalnya Abahmu bikin kelompok pengajian. Kelompok pengajian Abahmu semakin berkembang dan berkembang. Anggotanya semakin beragam. Ada tukang becak, guru, dokter, hingga pengusaha. Dari kelompok pengajian ini, maka lahirlah sebuah panti asuhan yang Abahmu idam-idamkan.

Berkat dukungan donatur, juga sumbangsih pemerintah setempat akhirnya berdiri panti asuhan bernama Darul Faroh, Nak.

Setahun setelah panti asuhan berdiri keluarga kecil kita tinggal di salah satu kamar di  Panti Asuhan Darul Faroh. Sejak saat itu, Abah dan Bundamu tak hanya milikmu Nak, tapi milik banyak anak-anak.

Nak, kamu ingat? Awal pindah di panti, kamu jadi pendiam. Katamu, kami sekarang beda. Tidak sayang lagi sama Kiki karena lebih banyak bersama anak-anak lain.

Nak, setelah Abah dan bundamu memberi pengertian bahwa anak-anak lain sebatang kara, banyak yang tak tahu ayah-ibunya. Anak-anak lain sejatinya saudaramu, akhirnya kamu mengerti. Dan Bunda sangat bahagia melihatmu mau bermain-main  dengan penghuni panti lainnya. Alhamdulillah.

 

Tegal 2012

“Bunda…Kiki lulus..!” Serumu setelah mengucap salam.

“Alhamdulillah.”

“Kata Pak Guru, nilai ujian Kiki bagus. Terus Pak guru bilang sebaiknya masuk SMP Satu saja.”

“Kiki mau masuk SMP Satu?” selidikku.

“Kiki maunya mondok di Babakan.”

Ah. Kau tahu, Nak? Hati Bunda kala itu berbunga-bunga mendengar keinginanmu.

 

Tegal 2013

Nak, awalnya bunda tidak tenang memikirkanmu di pondokan sana. Bagaimana makanmu? Bagaimana istirahatmu? Bagaimana tabiatmu kepada teman dan gurumu? Betahkan kamu di sana, Nak.

Nak, Bunda hanya bisa berdoa kepada Allah agar dirimu selalu dalam lindungan-Nya. Agar kau diberi kemudahan saat menerima ilmu-ilmu dari para ustad dan kiai di sana.

Nak, setahun setelah kamu mondok, kini Bundamu baru bisa mulai tenang. Karena kamu memang bintang yang bisa benderang di manapun.

 

Tegal 2015

Nak, waktu berderak begitu cepat. Tiba-tiba kamu sebentar lagi lulus MTS. Artinya sebentar lagi kamu akan kembali ke rumah, meski mungkin cuma sebentar. Karena mau kami, kamu mondok lagi di Gontor, Nak.

 

Tegal 2016

Nak, awalnya Bunda keberatan akan keinginanmu untuk tak melanjutkan sekolah selama setahun. Bunda baru ikhlas setelah tahu kalau matamu pedih kalau harus membaca tulisan dari jarak agak jauh. Bunda sedih, bingung. Kata dokter, matamu baik-baik saja. Akhirnya, bunda mewajibkan kamu minum jus wortel setiap hari. Kamu ingat, Nak?.

Nak, Bunda bangga padamu. Selain menjaga salat, cinta Al-Qur’an, kamu juga mudah bergaul dengan siapa saja. Termasuk dengan para pengurus masjid di dekat panti asuhan. Singkatnya, kamu diminta jadi panita idul kurban. Karena bunda takut kamu kecapaian, bunda larang. Tapi kamu kukuh bergabung jadi panitia dan berjanji akan baik-baik saja.

Nak, sehari setelah kamu jadi panitia idul kurban, tiba-tiba suhu badanmu meninggi, batuk-batuk. Wajahmu pasi. Akhirnya bunda dan Abah membawamu ke rumah sakit. Kamu ingat, Nak? Kata dokter kamu kena DB. Demam berdarah.

Seminggu lamanya di rumah sakit, Bunda senang sekali saat kamu diperbolehkan pulang ke rumah. Ke panti kita yang  selama kamu di rumah sakit, cahayanya suram. Setelah kamu sampai di rumah, di panti, cahayanya kini benderang lagi.

Nak, tak ada duka dan bahagia yang abadi. Kita tinggal menjalani saja takdir dari Illahi. Kamu ingat nasehat abahmu itu, Nak?

Sore itu Bunda baru pulang dari pengajian , Bunda hiseris melihatmu  tergolek tak sadarkan diri di depan ruang tamu. Bunda yang panik, segera menelpon Abahmu yang kala itu juga sedang ngisi pengajian ibu-ibu di kampung sebelah. Kamu ingat, Nak?

Nak, kami membawamu ke rumah sakit yang sama ketika kamu terkena DB.  Tapi kali ini pihak rumah sakit memberi surat rujukan agar membawamu ke rumah sakit di Semarang. Karena peralatan di sana lebih komplit.

Nak, Bunda seperti ditimpa gada raksasa. Kata dokter di sana, kamu terkena leukimia. Kanker darah. Ya Allah, kenapa bukan hamba saja yang kena penyakit yang maha berat dan sulit dicari obat?

Nak, sekuat tenaga telah kami berusaha demi kesembuhanmu. Pontang-panting mencari pendonor darah, mengusahakan beragam obat; dari obat kimia hingga obat herbal. Bunda juga sudah menjual semua benda yang berharga yang bisa dijual agar kamu bisa kemoteraphi. Tapi Nak, Allah rupanya lebih sayang kamu. Di Jumat yang insyaallaah mubarak, kamu meninggalkan kami. Bunda, abah, anak-anak panti untuk selamanya dan tak bisa kembali lagi.

Nak, meski ikhlas itu berat, bunda berusaha merelakanmu menjumpai dzat yang Maha Sempurna. Nak hanya jejak-jejak kenangan yang tak ingin bunda lupakan. Selamanya.   (*)

 

===

*Sutono Adiwerna, Ketua FLP Tegal. Penulis Kumpulan Cerpen Kemuning, Bapak, Baju untuk Lili, Warsih, Rahasia Bang Udin serta buku duet berjudul Tuntunan Lengkap salat untuk Anak. Cerpen-cerpenya bertebaran diberbagai media massa. Seperti Majalah Ummi, Syiar. Tabloid Cempaka, Genie, Seputar Tegal. Koran Radar, Suara Merdeka, Kompas, Kedaulatan Rakyat dll. Sekarang mengajar eskul jurnalistik di beberapa SD.

 

1 thought on “Jejak Kenangan”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *