3 Desember 2023
Puisi-Puisi Windhihati Kurnia
Oleh Windhihati Kurnia*

Saat Kota Ini Kehilangan Kamu
Kepada angan yang tertiup angin
Janganlah terus mengarah pada yang tiada
Jika semua hanya seumpama
Cukuplah tak ada terus menduga
2023
Apa Yang Tersisa dari Ingatan?
Di sudut ruang,
Lengang menguasai waktu
Malam datang menggigilkan tubuh
Sementara angin menelusur entah kemana
Membawa kisahmu semakin jauh
Menanam lebam di hati merapuh
Kusesap muram,
mengingat kau yang tak mengingatku.
2023
Denyut Menunggu
Di ujung senja kau dan aku menetap,
berlainan arah.
Sementara sang waktu terus berlompatan
memintal kecemasan
Di sini, kita hanya sepasang jejak tanpa haluan
menyentuh ruang yang diam.
Entah berapa banyak lagi malam-malam yang basah
Di antara kerinduan yang terus menyala
Belum juga ada kata yang kau hadirkan
Kau tahu,
aku hanya perempuan penerima keadaan.
2023
Aku dan Ketabahan Ini
Di kesendirian ini,
kaulah ombak yang memberi desir,
menabuh buih.
Dan aku pasir pantaimu
Menelan segala hening
Terbata memanggilmu menetap
2023
Ruang yang Tak Lengkap
“Di mana ujung perjalanan ini?’
Pertanyaan sederhana
Namun membuat mata sulit terpejam
Hingga yang kumampu
Hanya menyisipkan barisan puisi
Di balik punggungmu yang menjadi tempat paling sunyi
Bagi senja yang datang, dirayakan angin yang menari
Kuimpikan kuterlelap di sana, meski sekejap lalu mati.
2023
===
*Windhihati Kurnia, lahir di Bandung pada tanggal 1 Maret. Kembang Ronce (2015) , Istana Pasir (2016), Kotak Pesan (2021), dan Masihkah Kau Ada di Kotak Pesanku (2022) adalah antologi puisi pribadinya yang telah diterbitkan. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen telah banyak terpilih di berbagai komunitas penulis dan penyair Indonesia dan dibukukan. Kini selain menulis, aktivitasnya juga diisi sebagai moderator dan narsum berbagai kegiatan literasi.