3 Desember 2023
Api di Atas Kuburan
Oleh Dody Widianto*

Setelah desis terakhir, bercampur erang kenikmatan yang mengangkasa di langit-langit cungkup dengan beberapa genteng yang sudah melorot, di lereng bukit sebelah beji (sumber air keramat), ular itu merayap pelan di atas tubuhnya yang telanjang. Menuruni leher, menyusur ke bawah dada, meliuk menuju perut, meninggalkannya, menembus keremangan. Perjanjian telah dibuat. Ia berharap segala sesuatu di depannya akan berubah. Sesuai harapannya.
Setiap bulan purnama, di malam Selasa legi, Kiwung selalu datang untuknya. Tunai sudah kewajibannya. Punggungnya sedikit tertahan oleh rumah rayap di belakangnya. Bau apak mengudara. Ia masih merebah di atas rerumputan kering di dalam cungkup. Ilalang setinggi pinggang yang sedikit layu di luar terlihat remang di bawah sinar bulan. Pakaiannya terserak di samping. Ia masih merasakan seluruh tubuhnya melayang ke awang-awang. Raganya belum sepenuhnya sadar, diliputi kenikmatan yang baru saja ia rasakan. Dengan gadis cantik bersanggul dan kemban jarit motif sidomukti. Entah siapa dia, tetapi ia sering berkata akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.
Barulah, ketika matahari perlahan mengintip di sela dedaunan mahoni di atasnya, ia baru tersadar dan berusaha terbangun. Gegas menutupi perutnya dan anggota tubuh bagian bawah dengan bajunya. Ini sudah keenam kalinya. Tinggal menunggu Selasa legi purnama ketujuh, segala pengorbanannya akan selesai. Semua yang dicita-citakannya bakal terwujud. Begitu janji gadis cantik itu padanya. Umurnya kemungkinan setengah dari umur istrinya. Kiwung tak peduli. Yang penting, setelah segala prosesnya terlewati, ia bakal memetik apa yang diharapkannya.
Tentu saja ia masih mencintai istrinya. Namun, perjanjian sudah dibuat. Jauh hari ia selalu mengingat-ingat, jangan bercampur dulu dengan istrinya hingga segala proses itu selesai. Enam bulan terlewat, dan bulan ketujuh begitu lama. Hingga sehari sebelum purnama ketujuh sesuai yang dijanjikan, malam itu ia melihat wajah istrinya begitu cantik. Sungguh, lelaki mana yang bisa menahan goda berahi ketika seorang perempuan yang sah diapakan saja ada di depan mata.
Di depan pintu kamar saat ia sedang menonton televisi tabung, kedip mata istrinya begitu menggoda. Harum parfum melati mengambang membentur sudut-sudut ruang tengah. Istrinya tahu, enam bulan ini ia tak pernah menyentuhnya. Atas naluri berbenah diri, malam ini, ia begitu lain di mata suamiya sendiri. Ia hanya bisa menelan ludah. Seekor kucing dihidangkan ikan asin gurih yang menggoda hidung dan mata.
Ia harus selalu ingat, perjanjian telah dibuat. Ia tak ingin usahanya sia-sia. Maka, ketika ia berusaha beranjak dari kursi rotan tua dengan penyangga kursi yang karatan, derit itu berhasil membuatnya menghentikan langkah. Lengannya tertahan. Lalu kedip itu membuatnya tak tahu harus menolak atau mengiyakan.
“Tidak Bu. Bapak belum bisa.”
“Kenapa? Ibu sudah tidak cantik lagi? Anak-anak sudah pada tidur lho.”
Perempuan di depannya memang tak marah, walau menyimpan jutaan kecewa. Ia melihat dari mata sebening kelereng yang tiba-tiba meredup. Ia melirik ke kalender yang tergantung di dinding anyaman bambu rumahnya. Senin wage, malam Selasa kliwon. Hari pantangan di malam Anggara Kasih, seperti yang ia dengar dari perempuan cantik yang menemuinya di cungkup, sebelah beji di lereng bukit, setengah jam langkah kaki dari rumahnya. Ia sekuat tenaga menggeleng. Berusaha menuju pintu ke luar rumah. Menenangkan di pelataran, menyulut rokok, menghempaskan hawa dingin yang memeluk tubuhnya. Namun, seorang perempuan tetiba datang dari arah depan muncul dari kegelapan, mengedipkan mata, merayunya. Ia paham siapa.
Hingga gema subuh bernyanyi dengan kokok suara ayam yang terus berbunyi, ia baru menyadari tubuh telanjangnya telentang di atas dipan miliknya sendiri. Ia melihat ke kanan kiri, tak ada siapa-siapa. Baru setelah istrinya mendatanginya dan mencium bibirnya, ada yang bergolak dalam dada.
Istrinya lalu bediri di depan cermin lemari, merapikan rambutnya yang basah dan mengeringkannya dengan handuk. Binar dari matanya mengatakan sesuatu jika semalam telah terjadi sesuatu yang membuatnya bahagia. Tidak. Tidak mungkin. Perempuan di halaman bukankah ia yang selalu menunggunya di cungkup makam? Yang selalu memberinya janji kemakmuran hidup? Ia beranjak duduk dalam kebingungan dan ketakutan di tepi dipan. Kiwung meremas-remas kepalanya.
Masih ia rasakan cubitan genit di perutnya yang gembul ketika istrinya terus menyuruhnya mandi. Sudah siang. Namun, ia seperti menunggu waktu. Detik berlalu begitu mengerikan dan ia tak tahu, apa yang akan terjadi jika ia melanggar janji itu. Betapa ia menyadari, manusia seolah tercipta begitu mudahnya untuk ingkar.
Semalam setelah itu, pagi di hari Selasa kliwon, kakinya tak bisa digerakkan. Ia rasakan begitu nyeri dan kaku merasuk ke dalam tulang lutut, jemari kaki, dan seluruh tangannya. Ia tak tahu kenapa. Ia ketakutan dan beteriak membuat dua anaknya yang masih sekolah dasar mendatanginya dalam kengerian. Melihat kulit bapaknya kini mulai memerah, sedikit melepuh seperti daging yang terpanggang. Istrinya hanya bisa geleng-geleng tak percaya sambil menangis. Semalam begitu cepat mengubah semua keaadaan. Hingga tepat di hari Selasa kliwon purnama kedelapan, Kiwung mengembuskan napas terakhirnya.
***
Lebih dari dua dekade, aku masih ingat bagaimana bapak terus mengerang kesakitan saat kakinya seperti terlilit tali. Padahal, yang kulihat di kaki bapak hanya lepuhan kulit kebiruan seperti terbakar.
Dulu, aku masih ingat bagaimana Mbah Manggolo, dukun di tempatku yang menyemburkan air yang baru saja ia minum ke kaki bapak. Nyatanya, setelah tiga minggu lebih pengobatan, tak ada perubahan apa-apa. Bapak tetap lumpuh tak berdaya dalam suara erang kesakitan yang menyayat dada.
Aku tak tahu bapak terkena penyakit apa. Mantri yang biasa menyuntikku jika demam juga tidak bisa berbuat banyak. Satu yang kuingat, Mbah Manggolo pernah berbisik ke telinga ibu, walau ucapnya lirih, suara itu terdengar dan teringat sampai sekarang, “Bapak ingkar janji. Mbah masih cari cara.”
Aku nyekar bersama istri dan dua anak perempuanku yang masih balita. Kulihat makam bapak ditumbuhi ilalang dan perdu yang super tinggi. Sejak adikku memutuskan tinggal di Balikpapan bersama istrinya, ia jarang pulang. Tempat tinggalku sekarang berjarak enam jam perjalanan mobil dari rumah mendiang ibu dan bapak. Dikatakan jauh tidak, dekat juga tidak.
Hari ini, aku ingin menginap barang sehari saja di rumah bapak dan ibu yang sedikit tidak terurus. Sampai sekarang aku masih merasa aneh atas kematian bapak yang mendadak. Mbah Manggolo kunci jawabannya, tetapi ia sudah meninggal. Sekarang sudah kubawa air khusus dalam botol setengah liter pemberian pak kiai guru ngajiku. Aku selalu bermimpi tentang api yang menyala-nyala di atas makam bapak. Dengan air itu, aku berdoa bisa memadamkannya sekarang.
===
*Dody Widianto lahir di Surabaya. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.