26 November 2023
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman
Oleh Khalil Satta Èlman*
Upacara Menyangkal Malapetaka
i/
bulan baru berangkat, anakku
angin mengirim asin laut ke halaman rumah kita
meniup kemenyan yang baru kunyalakan
mengusap mantra-tembang
yang kakekmu lontarkan
“kesedihan macam apa yang hendak
kita tanggalkan, ibu?”
hidup cuma sekedar belajar melupakan, anakku
sedetik yang lalu adalah masa lalu
sedetik yang akan datang siapa yang tahu
udara semakin runcing,
malam ikut menggigil
dengan seutas benang di tanganmu
bergegaslah meninggalkan empedu
sebab di ujung sana, sebuah rindu menantimu
ii/
bulan merah saga mengambang di atas kepala,
langit berwarna tembaga
kalian sepasang merah atas nama mawar
mencoba lepas dari kutukan bernama kesedihan
lewat tembang yang bergelayut di pipi malam
jiwa-jiwa dikultuskan
“kenapa kesedihan harus ditinggalkan, Ibu?
apakah dia lebih mengerikan dari sebutir peluru?”
tidak juga, anakku
karena hidup sudah berbalur kesedihan
jangan juga pelupukmu menyeka airmata
maka, di malam yang sedingin kapak ibrahim ini
kita mandikan tubuhmu
dengan tembang dan mantra-mantra
lewat asap dupa
yang harumnya melebihi cinta.
sebelum gugur embun-embun pada pipi daun
sebelum matahari mengirim mega
pada dadamu.
Kutub/Yogyakarta, 2023
Catatan:
Puisi di atas merupakan adaptasi dari salah satu tradisi di Madura yang bertahan sampai sekarang. Tradisi Pandhâbâ tersebut dipercayai sebagai ritual menolak bala atau malapetaka. Menggunakan sebuah kitab yang katanya berasal dari Sunan Kalijaga, dan isinya berupa aksara-aksara jawa yang ditembangkan dari ba’da isya sampai subuh tiba.
Simfoni Kota
:yogyakarta
i/
setelah malam membuatkan rumah bagi terang lampu jalan,
serorang perantau menuliskan kerinduan juga kepedihan
pada koran-koran dengan hitam airmata. dan tiba-tiba
kata perkata menjadi peta nasib bagi deru lapar.
ii/
trotoar atau jalan panjang yang licin, selalu mencatat
jejak pejalan meski mereka bertubuhkan gelombang.
iii/
pada mega yang terciprat di ufuk barat, ada kisah
yang tak selesai dibacakan seorang juru bicara
ia beku sebelum rambu lalu lintas berkedip biru
hingga ia menjadi seonggok masa lalu
yang kemudian ditinggalkan.
Kutub, 2022
Genesis Kerinduan
ada panggung api
membakar habis kesunyian
dalam derap-deru perbincangan.
‘kini tinggal kita berdua,
merawat pucit bunga
pada biji mata.’
temaram lampu kota
apologi bermacam cuaca
membungkus pertemuan kita.
ini puisi, sekadar cawan
untuk menangkap bulan berlumut
dari pipimu, nalea.
selain kucur darah
keruh airmata
ganas waktu
yang perlahan mencabik usia kita.
kemudian,
perasaan menciptakan jarak
hingga dari sajak segala nampak
:jam dinding jadi puing,
airmata menolak sahara
dan kucur pahit darahku
jadi ritmis gerimis paling romantis
Pincuk, 2023
Sore di Pincuk
blues menjadi paralon
penyampai fragmenframen bahasa
yang tak sempat dibendung mega
wajahmu menyimpan lebat hujan.
kuucapkan padamu prihal cinta
dengan suara tonggeret yang patahpatah
kesunyian memberinya debar
kesepian memberinya getar
tak satupun kalimat gugur
dari bibirmu
hanya wangi bunga pada lukisan
menyeka udara
yang hendak menjumpai kita.
Kutub/Yogyakarta, 2023
===
*Khalil Satta Èlman, bergiat di Komunitas Kutub Yogyakarta sambil kuliah jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisi-puisinya terpublikasi di surat kabar daerah dan nasional seperti, Tempo, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Minggu Pagi, dll. Buku keduanya yang akan terbit Skyzofrenia.