26 November 2023
KUCING BUNTING DI WARUNG NASI UDUK
Oleh Rizan Panda*

Sore itu, ketika mentari hanya menyisakan seberkas kilau jingga di ufuk barat. Kala wajah-wajah lelah berhamburan menuju jalan pulang setelah seharian bekerja. Jalan raya selalu sesak dengan kendaraan di jam-jam begini, karena semua orang berlomba saling mendahului agar dapat segera sampai ke rumah. Perut-perut lelah itu juga sudah turut bersuara, bak berteriak minta segera diisi. Irfan yang termasuk dalam kerumunan gelombang pulang sore itu menepi. Ia bermaksud untuk membeli makan sebelum ia sampai ke tempatnya bermukim. Sebuah warung nasi uduk di pinggir jalan seakan menggoda kehadirannya untuk singgah. Bayangan gurih sedap santan dari nasi dipadu dengan manis-asin lauk pauknya, serta pedas dari sambal menggugah Irfan menepi. Aroma lauk pauk yang berjajar di meja warung itu tampak masih mengepul. Segera Irfan memesan, sepiring nasi uduk dengan telur balado dan gorengan bakwan. Lengkap dengan konco kenthel-nya nasi uduk—orek tempe manis dan bihun goreng, juga sambal. Ia juga ikut memesan segelas teh tawar hangat. Warung itu menyediakan meja dan kursi, namun, Irfan memilih untuk duduk lesehan di pinggiran toko tempat warung itu berdiri.
Irfan tengah menikmati suap demi suap nasi uduk. Tiba-tiba, ia dihampiri oleh seekor kucing. Irfan menaksir kucing ini betina, dikarenakan warna rambutnya yang belang tiga—atau biasa disebut kembang telon. Warna telonnya agak pudar, tampak kasar dan kotor. Sorot matanya ramah, menatap Irfan yang asyik mengunyah bakwan dari sudut kakinya. Irfan—yang kebetulan adalah seorang dokter hewan—tentu tidak hanya diam saja ketika kucing itu menatapnya. Tatapan mata kucing itu tidak bergeming. Tak sekalipun ia mengedip. Irfan meletakkan piring berisi nasi uduk yang belum setengahnya habis itu di pahanya. Telapaknya kini dengan lembut mengelus dahi kucing itu.
Kucing itu dengan jinak mendengkur. Tanda bahwa ia merasa nyaman. Tanpa sadar, kini Irfan serius melakukan pemeriksaan fisik sederhana pada kucing itu. Mulanya, ia periksa bagian dalam telinganya. Telinganya kotor. Kemungkinan ada ‘kutu’ telinga, gumamnya. Dilanjutkan dengan pemeriksaan elastisitas kulit untuk mengamati status hidrasi kulitnya. Kulit punggung kucing yang dicubit Irfan dengan segera kembali, menandakan kucing itu terhidrasi cukup baik. Pemeriksaan itu beranjak ke bagian mata, hidung, dan mulut. Selaput lendirnya masih tampak normal, tidak ada perubahan pada struktur maupun warna. Ia kemudian meraba bagian punggung dan perutnya. Dapat ia rasakan tulang punggung dan rusuk si kucing, namun, perutnya begitu besar. Irfan mengernyitkan dahinya, dan kembali meraba perut kucing itu. Ia tidak merasakan adanya tumpukan cairan di sana.
“Pus, kamu lagi bunting, ya?” Irfan spontan bertanya pada kucing itu.
Kucing itu hanya mendengkur, kemudian mengedipkan kedua matanya pada Irfan. Tak lama, kucing itu bersin hingga hidungnya meler tak keruan.
“Astaga! Bunting dan pilek! Wah, kasihan kamu. Pasti kamu lapar, ya? Maaf, ya, uangku sudah habis untuk obat bapakku, jadi, aku hanya beli telur pedas ini. Seandainya aku beli ayam, pasti akan aku bagi denganmu,”
Irfan mendadak berceloteh. Kucing itu tampak dengan khusyuk mendengarkan.
“Andai saja, aku bisa dapat kerja yang lain. Seperti yang diinginkan Bapak. Pastinya aku bisa beli ayam sore ini. Dan kamu, pasti bisa makan ayam juga! Hahaha!”
Kucing telon itu memiringkan kepalanya. Kaki belakangnya mendadak bergerak cepat menggaruk telinga kirinya.
“Bapak pernah bilang, kalau gajiku kecil. Padahal aku punya potensi yang besar, lho, kata beliau. Terus, Bapak membandingkan aku dan dia. Katanya, zaman dia baru lulus kuliah, dia bisa langsung kerja di perusahaan besar dan dapat gaji gede!” lanjut Irfan.
Kucing itu masih menggaruk.
“Yah, itu kan, zaman dahulu. Beda sama sekarang. Bisa dapat kerja saja, sudah alhamdulillah. Lagian, yang minta aku kerja di sini, ya, Bapak sendiri! Katanya agar dekat dengan rumah, dan jika jantung Bapak kumat, aku tidak perlu jauh-jauh menghampiri Bapak,”
Suaranya tercekat. Irfan meneguk segelas teh tawar hangat di sampingnya.
“Aku dapat tawaran kerja di Jakarta tahun lalu, ketika aku baru lulus kuliah. Klinik besar, di tengah kota. Sayang, Bapak melarang aku kerja di sana karena jaraknya jauh dari rumah. Katanya, lebih baik gajiku dipakai untuk membiayai rumah ini saja, dibanding aku harus indekos di sana. Eh, giliran sudah kerja di pinggiran begini, malah dikatai gaji kecil. Kadang hidup memang lucu, ya, Pus?”
Irfan tertawa getir. Kembali ia mengelus kucing itu.
Hidung kucing itu kini maju, mengendus-endus piring nasi uduk Irfan. Dengan pasti, moncong kucing itu menggigit sisa bakwan dan menyeretnya ke tanah. Irfan hanya tersenyum, kemudian melanjutkan makan.
“Makanlah, Pus. Semoga kebutuhan nutrisimu dan anak-anakmu terpenuhi dari sepotong bakwan itu. Terima kasih juga, lho, makanku jadi tidak sendirian!”
Kucing itu kini fokus menggigiti bakwan yang sudah tercampur dengan debu dan tanah. Ia tak menghiraukan lagi Irfan yang kini kembali asyik mengunyah nasi uduk dengan telur balado sambil berniat dalam hati untuk membelikan pakan kucing.
***
Ketika senja sudah bergulir kembali keesokan harinya, Irfan kembali menepi di warung nasi uduk itu. Menu yang ia pesan tetap sama, sengaja ia tidak pesan ayam karena ia sudah mengantungi pakan kucing di jaketnya. Sembari menunggu pesanannya jadi, Irfan celingukan mencari kucing yang kemarin. Kucing itu tidak tampak, tak sehelai rambutnya.
“Kucing yang biasa di sini, ke mana, Mbak?” Tanya Irfan pada perempuan penjaja nasi uduk.
“Oh, kucing yang lagi hamil, ya, Mas? Barusan banget dikubur sama anak saya. Tadi pas saya mau buka jualan, dia udah lemes di tengah jalan. Hidung sama mulutnya berdarah, pantatnya juga. Kayaknya kelindes orang, Mas!”
Jantung Irfan serasa lepas dari aorta. Dapat ia rasakan panas mulai naik ke wajahnya.
Irfan kembali duduk di pinggiran toko. Tempat yang persis seperti kemarin ia mengelus-elus kucing bunting itu. Tanpa sadar, air matanya meleleh menetesi piring nasi uduk.
*)Cileungsi, September 2023.
===
*Rizan Panda, dokter hewan praktisi hewan kecil yang mukim di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hobi menulis sambil menyesap minuman manis.