LiteraSIP

14 Januari 2024

Harga Gelembung Suara

Oleh Sutono Adiwerna*

 

 

Wardi sedang tidur dengan posisi meringkuk seperti anak kucing di kursi rotan di ruang tamu ketika pintu rumahnya digedor berkali- kali. Setengah sadar, ia membuka pintu. Jam dinding di ruang tamu menunjukan pukul dua belas malam. Tengah malam ganggu tidur orang saja. Runtuk Wardi dalam hati.

“Saatnya kamu beraksi, Wardi ! “ perintah Pak Jon, orang kepercayaan Pak Lurah.

“Tapi…,” gumam Wardi.

“Tunggu apalagi. Mumpung balai desa sudah sepi, tinggal Polisi Darno  dan Raji. Mulut mereka sudah disumpal ratusan ribu sama Pak Bos. Surat suara yang harus kau tusuki dengan paku itu  sudah disiapkan oleh Polisi Darno, “ jelas Pak Jon.

“ Tapi… “

“ Aku nggak mau tahu. Ingat! Kamu bisa seperti sekarang, berkat siapa, heh? Jangan seperti kacang lupa kulitnya, kau! “

Wardi sadar, sebelum menjadi  Carik atau sekdes di desa Sukamaju, dirinya adalah tukang rujak buah keliling di kota Kecamatan. Penghasilan dari jualan rujak buah tidak sedikit, cukuplah untuk sekedar bertahan hidup di desa. Tapi kalau musim hujan datang, biasanya orang – orang lebih suka berburu makanan semacam bakso, soto, mie ayam ketimbang rujak buah dan Wardi biasanya sering libur jualan jika musim hujan datang.

****

Saat warga  Desa Sukamaju lain tengah lelap dalam dekapan mimpi, Wardi dengan sepeda motor matic yang cicilannya baru selesai bulan kemarin membelah langit malam menuju balai desa. Malam itu tampak cerah ditandai dengan gumintang yang menghias langit malam.

Sesampainya di sana, mata Wardi tidak mendapati Raji si penjaga malam balai desa. Mungkin dia sedang ke warungnya Yu Siwas yang jahe susunya laris dan buka sampai menjelang dini hari. Polisi Darno dengan terkantuk – kantuk duduk di kursi panjang setelah menginstrusikan teman-temanya untuk keliling desa,  patroli untuk memastikan pilkades nantinya berjalan lancar sesuai dengan rencana Pak Lurah yang ingin menjabat satu periode lagi.

Setelah menyapa Polisi Darno, Wardi melaksanakan tugasnya meski dengan keringat dingin yang terus menerus menetes. Wardi tahu perbuatannya salah, tidak benar. Tapi ia bisa apa? Selain menuruti perintah Pak Lurah – orang yang mengangkat derajatnya dari seorang pedagang buah yang kebetulan suka baca dan bisa mengoperasikan computer, menjadi pejabat desa yang cukup dikenal dan disegani warga Desa Sukamaju. Orang yang telah membuat dirinya tidak dipandang sebelah mata oleh tetangga kanan kiri lagi.

Setelah selesai  dengan tugasnya, carik desa yang juga lebe yang mengurusi perihal kematian warga desa itu buru – buru pulang untuk  istirahat dan melanjutkan mimpi.

****

“ Wardi! Wardi! Keluar kamu! Jangan pura – pura tidur! “ suara–suara bersahutan seperti ribuan lebah berdengung, tengah mencari orang yang telah merusak sarangnya.

Wardi yang  sedang asyik bermimpi dibangunkan Lastri, istrinya yang sudah  berwajah pias  seperti  kapas. Lastri yang tengah hamil besar bingung kenapa rumahnya diserbu warga, diseruduk warga.

Seperti yang disebut di atas, Wardi adalah orang yang disegani warga Sukamajau. Berkat Wardi, setiap ada warga yang kepaten tidak kesulitan lagi menghubungi lebe. Lebe yang sudah – sudah, baru mengurus jenazah  dengan tanpa beban jika yang kepaten orang – orang yang punya uang banyak atau punya kedudukan di masyarakat. Tapi karena tahu carik muda itu telah berbuat curang demi junjungannya terpilih lagi, warga hilang respek, hilang simpati.

“ Hajar! “

“ Gampar!“

Entah siapa yang pertama kali mengompori . Begitu Wardi menampakkan diri, warga yang sebagian besar pemuda mulai menghajar, memukul hingga  sekujur tubah Wardi dipenuhi lebam, memar.

“ Bakar !“

“ Bakar ! “

“ Bakar !“

Beruntung sebelum tubuh Wardi lumat dimakan api, Polisi Darno dan teman- temannya muncul dan menggelandang Wardi  ke kantor polisi  untuk diamankan.

Ketika Wardi digelandang polisi, Pak Jon menyeringai seperti serigala. Bibirnya menyungging senyum kemenangan. Sementara di dalam kamar, Lastri meringkuk ketakutan sambil memegangi perutnya yang buncit.

 

===

*Sutono Adiwerna adalah penulis cerpen tinggal di Tegal. Sejumlah cerpennya pernah dimuat Di Tabloid Cempaka, Radar Tegal, dan beberapa Antologi cerpen bersama penulis lainnya seperti Cinta Laki – Laki Biasa, Tugu, Kemuning, Sapporo, Obituari Kayu dan lain – lain.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *