LiteraSIP

10 Maret 2024

Dalam Kilau Seribu Kunang-Kunang

Oleh: Sayekti Ardiyani*

 

 

“Dua kilo meter lagi ada perempatan ambil kiri ya, kita rehat dulu,” perintah abah kepada Gilang. “Kamu juga perlu ngopi sepertinya.”

Gilang melajukan mobilnya sesuai perintah abahnya. Dia memasuki gang yang di kanan-kirinya berderet ruko-ruko dan tempat makan kekinian.

“Depan plang masuk,” lanjut abah

Gilang dan abah memasuki kedai kopi yang asri. Meja kursi kayu berada di halaman yang hijau oleh pohon-pohon kecil dan tanaman berdaun lebar.  Kedai dengan arsitektur bangunan kuno peninggalan Belanda terbingkai tanaman merambat.

“Abah familiar sekali dengan tempat ini,” ujar Gilang melihat interaksi ayahnya dengan pemilik kedai berusia setengah baya.

“Beberapa kali om Kris ngajak ke sini. Enak tempatnya buat ngobrol santai. Sekalipun ramai, masih  nyaman karena lapang. Kami suka diskusi di sini kalau pertemuan di kota ini. Tempat ini cikal bakalnya sebuah pabrik kopi tersohor. Lain kali kita ajak kakak-kakakmu ke sini,” Abah menyeruput espreso pesanannya.

Cuping hidung Gilang membaui adanya kopi yang disangrai. Pabrik itu masih bekerja. Di dalam kedai dilihatnya toples-toples besar tempat biji kopi. Bisa juga besok mengajak timnya ke sini untuk bekal pelatihan.

“Aksi terakhir maksimal yang sudah kamu lakukan apa?” Abah sudah to point.

“Terakhir pelatihan UMKM dan penyaluran bantuan modal, juga beasiswa pendidikan. Kemarin waktu kemarau sukses dengan bantuan air di beberapa kecamatan.”

Abah paham Gilang dan timnya kebanyakan kawula muda dengan idealisme masih menggebu.  Kampus menempa mereka dengan beragam aksi di lapangan dan forum yang menyita sebagian waktu kuliah.

“Kamu perlu mendatangkan massa.”

Gilang teringat masa kecilnya, bersama teman-temannya mendatangi panggung dangdut besar di lapangan desa.

“Belum kepikiran.”

Abah memperlihatkan sebuah video. Kerlap kerlip LCD ponsel dari tangan-tangan yang terayun ritmis  memenuhi sebuah lapangan luas tumpah ke jalanan. Ini lebih megah daripada konser musik. Lebih membludak dengan bendera yang terayun-ayun mengikuti alunan sholawat.

“Acara begini sekarang menjadi magnet. Kita datangkan bersama kyai. Orang yang datang dari segala usia beda dengan pertunjukan musik. Satu lagi, mereka akan sendiko dengan kyai.”

Gilang menurut.

“Nanti abah atur,” jari abah menutul-nutul gawainya lalu berbicara serius.

Gilang menyesap kopi yang tersisa. Dia tidak meragukan pengalaman abah berpolitik. Sendiko dengan abah bisa berjalan tanpa menepikan idealismenya. Abah bisa mengerti dunia muda.

Abah merasa sudah lelah.  Saatnya Gilang terjun meneruskan kiprahnya. Sementara kakak-kakaknya lebih memilih mengembangkan usaha peternakan dan  kuliner keluarganya yang bercabang di banyak kota.

***

Di depan Gilang, jamaah di lapangan desa tumpah hingga ke setiap ruas jalan dan teras-teras rumah penduduk. Acara malam ini bertema doa dan shalawat atas majunya Gilang Catur dalam pemilihan caleg. Siapa yang sudah kenal Gilang, yang kiprahnya baru seumur jagung karena dia baru lulus S2. Tidak banyak, sekalipun tetangga satu desa. Sebab ia banyak merantau mencari ilmu.

Ada habib dan kyai yang mengisi acara. Habib yang memimpin sholawatan sudah memulainya. Semua yang hadir dihipnotis dan suara merdu habib. Ikut bersenandung sembari mengayun-ayunkan cahaya dan bendera. Gilang merasa haru abahnya bisa menghadirkan massa seperti seribu kunang-kunang. Mereka yang datang bukan hanya penduduk sekitar. Nama habib dan kyai menyeret penduduk dari luar daerahnya datang  berombongan.

“Kyai yang akan mengisi pengajian hingga saat ini belum datang, beliau nanti minta langsung naik panggung.” Gilang agak cemas. Dia sebenarnya butuh berbicara dengan sang kyai sebelum naik panggung.

Kyai itu menolak untuk singgah di ruang transit karena sudah terlambat. Begitu tiba, ia naik panggung bersama Gilang, abah, dan petinggi partai. Tanpa prolog panjang,  ceramahnya menarik perhatian massa.

“Bagus, anak muda seperti Mas Gilang sudah peduli dengan nasib rakyat. Sudah mau berpolitik memikirkan negara. Memang masa depan negara ada di tangan generasi muda,” ujar sang kyai di tengah-tengah syiarnya. Gilang tersenyum dengan sang kyai lalu mengangguk di hadapan hadirin. Ia merasa di atas angin.

“Saya pernah mendengar seorang intelektual muda mengutarakan pendapatnya tentang politik. Saya setuju dengannya, bahwa politik itu bagaimana membahagiakan orang lain. Sebelum membahagiakan orang lain, perlu membahagiakan diri sendiri. Nah, pertanyaannya apakah Mas Gilang sudah cukup membahagiakan diri sendiri?” sang kyai menoleh kepada Gilang.

“Tentu saja sudah, Pak Kyai,” jawab Gilang mantab.

“Oiya, Mas Gilang itu muda, cerdas, apakah sudah menikah?”

Jleb, Gilang menggeleng. “Sebelum maju, menikahlah dulu…,”

Hadirin mendadak tertawa dengan celetukan-celetukan kyai soal status single Gilang.

“Lha, iya kan? Kedepannya mau memimpin rakyat minimal bisa mimpin keluarga dulu kan?”

“Sial,” umpat Gilang dalam hati. Mereka salah mengundangnya. Bukannya pengajian, Gilang seperi menyaksikan stand up komedi  yang me-roasting dirinya.

 

 

Ket:

Sendiko: menurut

 

===

*Sayekti Ardiyani, alumni Sastra Indonesia UGM yang menjadi guru sekolah dasar di Kabupaten Magelang. Lahir dan besar di Magelang. Beberapa cerpennya dimuat di media lokal, begitu pula cerpen anak dan cernak berbahasa Jawa.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *