LiteraSIP

28 Januari 2024

DUA PULUH ENAM TAHUN KESUNYIAN

Oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita*

 

 

Aku masih berdiri di sini, di ruangan apartemenku, tempat tubuhku tergeletak begitu saja pada pukul tiga pagi setelah seorang misterius menikamku. Sekarang, sejak saat itu, dua puluh enam kali orang-orang merayakan tahun baru. Jika setiap tahun baru lonceng dipukul sebanyak 108 kali, berarti sudah 2808 kali lonceng dipukul. Dengan waktu sebanyak itu, aku masih di sini, terikat kepada dunia ini, tidak bisa pergi ke alam arwah karena keadilan belum datang kepadaku.

Penikamku yang masih misterius itu tidak pernah mampu dilacak oleh pihak berwajib, informasi dari orang-orang sekitar juga tidak cukup berguna. Aku masih di sini. Berdiri di atas tatami sebuah apartemen yang sudah berganti penghuni kira-kira sembilan kali.

Dini hari itu, seseorang menyelinap ke apartemenku. Dia menyibak selimutku. Musim gugur sedang berlangsung. Suhu sudah mulai dingin. Terlebih lagi, hujan juga turun. Karena selimutku disibak begitu saja, aku segera membuka sedikit mataku dan hendak mengambil selimut itu lagi sebelum sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku dan sebuah tangan lagi membungkam mulutku dengan sapu tangan. Mati-matian aku berusaha untuk berteriak.

“Siapa kau?” tanyaku dengan suara yang tidak jelas.

Sosok itu tidak menjawab. Tapi, dari perawakannya, dapat kupastikan bahwa dia adalah seorang laki-laki. Kepalanya mengenakan topeng ski dan seluruh tubuhnya mengenakan pakaian yang sepenuhnya hitam. Seperti siluet penjahat dalam komik Detektif Conan.

“Tolong!” teriakku, lebih seperti keputusasaan. Lagi pula, ini adalah tempat elite, tempat semua orang teralienasi.

Dengan sapu tangannya, dia semakin kuat menekanku. Dia kemudian mengambil sebuah pisau dapur dari lantai. Pisau itu, menancap di jasadku tanpa ditarik lagi oleh si penikam. Setelah menikamku tanpa alasan, dia pergi ke luar. Aku yang arwah melihat ke luar jendela, di sana terdapat seorang lagi yang berdiri di bawah hujan sambil melihat ke arah apartemenku. Dia mengenakan jas hujan berwarna kuning dan tidak membawa payung. Di bawah sinar lampu jalan, dia berdiri terus sambil diguyur hujan.

Polisi baru datang tiga hari setelahnya ketika keluargaku berkunjung ke apartemenku dan melihat tubuhku sudah perlahan membusuk dengan sebilah pisau yang masih tertancap di dadaku. Aku bisa melihat mereka, ibuku pingsan, ayahku segera memanggil polisi dengan telepon di apartemenku, dan adik laki-lakiku berusaha membangunkan ibuku. Entah hal apa yang membawa mereka untuk mendatangiku. Terlebih lagi, hubungan kami cukup renggang. Karena hal itulah aku memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen dengan uang yang mereka berikan—bagaimanapun, mereka tetap memberiku uang. Kerenggangan hubungan itu terjadi karena satu sebab, yang mungkin bagi sebagian orang, sederhana. Aku menolak perintah mereka agar aku masuk ke sekolah kedokteran dan memilih untuk memelajari sastra. Waktu SMA, aku tergila-gila dengan Kawabata Yasunari.

Sebuah mobil polisi dan sebuah ambulans tiba. Para petugas polisi itu segera memasang garis polisi di sekitar TKP. Kemudian, mereka mengambil beberapa gambar di TKP, menanyai ayahku—ibuku belum lagi siuman—dan kemudian menginstruksikan bahwa tubuhku harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi, ayahku tidak keberatan akan hal itu.

“Saya berharap,” kata ayahku dengan penuh dendam, “pelakunya bisa segera tertangkap.”

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”

“Terima kasih banyak.”

Polisi mulai mengumpulkan berbagai informasi dari orang-orang yang tinggal di sekitar sana.

Menurut pemeriksaan medis, tubuhku sudah membusuk sekitar tiga hari. Pada hari kematianku itu, salah satu warga setempat mengaku melihat seorang berjas hujan warna kuning sedang berdiri di dekat tembok bangunan seberang apartemenku. Dia berdiri, membiarkan hujan yang lumayan deras menerpanya. Karena warga setempat itu begitu mengantuk, dia segera menutup gorden dan berbaring tidur. Dia berpikir itu hanyalah orang iseng.

Sementara polisi terus bekerja untuk menguak misteri kematianku, arwahku masih berada di ruang apartemenku. Ruang apartemen itu sudah dikosongkan. Barang-barangku sudah dibawa pulang oleh ayahku. Di atas tatami sebuah garis membentuk pose tubuhku yang terbaring pada hari itu. Aku terperangkap di ruangan ini. Aku memang bisa melihat ke luar melalui jendela, tapi aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan diriku dari sana, seujung jari pun tidak bisa. Seolah-olah aku akan terpenjara di tempat itu sampai misteri kematianku terkuak dan pelakunya diadili.

Satu tahun berlalu. Aku masih terjebak di sini. Sementara beberapa kali agen penjualan bersama beberapa kliennya yang berbeda-beda masuk ke apartemen ini untuk melihat-lihat. Mereka sepertinya cukup kesulitan untuk menjualnya karena ada fakta tentang seorang mahasiswi ditikam di apartemen ini dan pelakunya belum diketahui. Aku merasa bersalah juga, meskipun itu bukanlah kesalahanku. Bagaimanapun, aku tidak tega melihat orang lain kesusahan. Tapi, meski demikian, apartemen itu tetap terjual juga, meskipun banyak yang tidak kerasan.

Pemilik yang terakhir, seorang mahasiswa canggung dan gugup, mungkin adalah pemilik yang membuatku terharu. Begitu dia mendengar bahwa di apartemen yang akan dibelinya itu pernah terjadi sebuah pembunuhan yang sampai sekarang pelakunya belum ditemukan dan polisi tampaknya hampir menyerah kalau saja ayahku bukanlah salah satu orang penting di daerah ini, dia segera membelinya.

“Saya sangat berterima kasih,” kata agen penjualan itu, agen penjualan yang berbeda dari dua puluh enam tahun yang lalu. “Bagaimana, ya, mengatakannya? Setiap klien saya hampir selalu mengurungkan niat mereka untuk membeli apartemen ini. Tapi, Tuan sepertinya bukanlah orang yang takut dengan hal-hal semacam itu.”

“Saya memang tidak takut.”

“Kalau begitu, semoga Tuan dianugerahi keberuntungan selama berada di sini.”

“Oh, ya. Apakah Tuan tahu siapa nama mahasiswi yang terbunuh itu?”

“Eh,” dia berpikir sebentar, “saya pernah membacanya di berita, kalau tidak salah namanya Kobayashi Yuuko.”

“Terima kasih.”

Setelah mahasiswa canggung dan gugup itu resmi menempati apartemen ini, dia memasang altar untuk mendoakan arwahku. Memang tidak ada foto di sana, tapi ada dupa yang dibakar untukku setiap sore, menjelang matahari tenggelam, setelah dia pulang dari kampus. Meskipun hal itu tidak bisa membebaskanku dari tempat ini, aku tetap berterima kasih kepadanya.

Suatu sore dia membawa pulang sebuah surat kabar. Di halaman depan, surat kabar itu memuat berita tentang peringatan kasus kematianku. Judul berita itu menyatakan bahwa polisi masih berusaha untuk menguak misteri ini. Namun, dengan jarak waktu yang membentang dari hari kematianku sampai tahun ini, aku merasa bahwa selamanya aku akan berada di sini, terkurung di apartemen ini, melihat satu per satu orang menghuninya dan pergi.

Hanya menunggu. Menunggu entah sampai kapan. Seratus tahun? Seribu tahun? Mungkin, ketika akhir dunia datang sekali pun, ruang apartemen ini akan tetap tersisa sebagai penjara bagiku.

 

*) 2021—2024

 

===

*Mochamad Bayu Ari Sasmita. Lahir di Mojokerto pada HUT RI Ke-53.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *