9 Juni 2024
KECAP MANIS NOMOR SATU
Oleh Dhianitha*

“Nih, sarapan dulu, gih. Pagi-pagi muka kusut amat. Udah kayak seragam belum disetrika di hari Senin,” ledek Humairah, menyodorkan bungkusan plastik berisi nasi pecel dengan peyeknya.
“Jadi berapa, Ra?” Alva menanyakan harga untuk sebungkus nasi pecel titipannya.
“Ambil aja. Ibuk bilang gratis buat Alva. Katanya kasihan, lagi ada masalah. Emang iya, ya? Kok kamu nggak cerita? Ada apa?”
“Ah, biasalah. Masalah keuangan,” Alva dengan nada ragu, “Butuh modal usaha.”
Humairah mengangguk dan tersenyum. Ia memiliki solusi atas permasalahan Alva. Diambilnya sebuah kartu nama dari tas kecilnya, lalu disodorkan kepada Alva.
“Sejak kapan kamu punya kenalan pinjol, Ra?” Alva tidak percaya .
“Bunganya gak segede kayak orang-orang punya. Sok atuh dicoba, Al.”
Alva mematung. Humairah yang taat beragama, kerap menyerukan anti-riba tiba-tiba memberi sebuah solusi pinjaman daring seperti itu.
“Buset. Ada yang gak beres sama ini anak,” gumam Alva dengan tatapan kosong di hadapan Humairah.
Humairah membuyarkan lamunan Alva.
“Eh, beneran pecelnya gratis, Ra?” Alva mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya. Beneran. Apa perlu aku telepon ibuk sekarang?” tantang Humairah.
“Kagak usah. Aku cuma memastikan aja. Kasihan ibuk kalo ngasih nasi pecel lengkap gratis ke aku gini,” sahut Alva, “Besok-besok jangan gratis lagi, yak.”
Humairah mengangguk. Ia pun membalikkan badannya dan berjalan perlahan menjauhi Alva, yang masih mematung. Tangan kiri Alva memegang bungkusan plastik berisi nasi pecel, tangan kanannya memegang selembar kartu nama bertuliskan nama Handoko Revaldo.
***
“Al, gimana? Udah dapat solusi, belum?” tanya Nando yang tiba-tiba saja muncul dari bilik meja kerja tepat di depan Alva.
“Udah,” jawab Alva santai, “Santai aja. Aku nggak buru-buru, kok. Masih menyesuaikan keuangan juga.”
Tanpa berpikir panjang, Nando menyodorkan selembar kartu nama bertuliskan nama Handayani Imanika. Alva mengernyitkan dahinya. Nando berjalan menghampiri Alva.
“Pinjol solusinya. Bunga lebih ringan daripada pinjol-pinjol yang ada di sini,” bisik Nando.
Deg!
“Hah?!” Alva terkejut.
Nando menutup mulut Alva dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengacungkan jari telunjuk yang ditempelkan di depan bibirnya.
“Udah, ya. Simpan dulu aja. Solusi paling akhir, Al.” Nando pun kembali ke meja kerjanya.
Alva menggaruk kepalanya. Ia merasa dua orang terdekatnya memberi solusi yang sama, namun mereka mengklaim dapat memberikan pinjaman cukup besar dengan bunga paling ringan. Alva menggelengkan kepalanya.
***
“Sendirian aja, nih, Al!” sapa Nando yang sedikit mengejutkan Alva.
Alva tersenyum. Ia juga mempersilakan Nando untuk duduk di kursi kosong yang berada di sebelah kirinya. Nando menarik kursi plastik dan duduk dengan mengarahkan badannya ke arah Alva yang sedang menyantap makan siang.
“Nasi rames, nih. Mantap porsinya,” celetuk Nando sambil memperlihatkan makanannya kepada Alva.
Alva tersenyum. Tidak berselang lama, Humairah menghampiri keduanya. Tanpa aba-aba, ia langsung duduk di kursi kosong yang berada di hadapan Alva. Tanpa basa-basi pula, perempuan berhijab tersebut menanyakan kelanjutan dari informasi pinjaman daring yang ditawarkan tadi pagi. Alva hanya menggelengkan kepala.
“Loh! Gimana, sih? Jangan ditunda-tunda lagi pinjam duitnya,” celetuk Humairah, “Pinjamnya sat-set dan wat-wet, kok.”
“Eh! Eh! Eh! Apa, ya?” Nando tergoda.
Humairah melirik sinis ke arah Nando.
“Pasti pinjol, kan?” tebak Nando, “Hayo, ngaku, deh!”
Humairah tidak menanggapi Nando. Ia justru semakin berusaha meyakinkan Alva untuk segera melakukan pinjaman daring agar masalahnya lekas selesai. Nando tidak mau kalah.
“Lah! Kamu ngapain ngusulin pinjol-pinjol gitu? Bukannya kamu suka kampanye anti-riba di kantor, ya?” protes Nando dengan tatapan sinis ke Humairah.
“Apaan, sih?” sahut Humairah dengan nada seperti orang jijik melihat sesuatu, “Orang aku cuma berniat bantuin Alva, kok.”
“Bukan main,” pungkas Nando sambil bertepuk tangan kecil dan menggelengkan kepala, “Orang yang menyuarakan anti-riba ternyata main pinjol juga, toh.”
Nando dan Humairah terlihat seperti kakak dan adik yang sedang bertengkar perkara kepemilikan barang. Humairah yang merasa tersindir, menuduh Nando asal-asalan membantu Alva dengan merekomendasikan pinjaman daring abal-abal. Nando yang tidak terima dengan tuduhan tersebut menyindir sikap serta cara berpakaian Humairah. Ketika keduanya sedang seru nan asyik saling serang, Alva beranjak meninggalkan keduanya.
“Al, mau ke mana?” tanya Nando yang mendapati Alva berjalan meninggalkan mereka.
“Berisik dengar kalian debat,” sahut Alva singkat.
Humairah mengejar Alva sambil berkata, “Tapi jadi, kan pinjamnya?”
“Enggak.” Keputusan Alva sudah bulat.
Humairah membiarkan Alva berjalan keluar dari kantin kantor. Seminggu kemudian, ketika Nando dan Humairah sedang berbelanja kebutuhan kantor di sebuah toko alat tulis. Nando melihat Alva berjalan masuk ke arah sebuah toko emas yang berada di seberang toko alat tulis, tempat mereka berdiri. Tidak lama kemudian, Humairah membenarkan yang dilihat oleh Nando. Keduanya pun berjalan menghampiri Alva.
“Al! Udah membaik keuangan kamu?” Humairah memastikan Alva memang benar-benar membeli perhiasan emas di toko tersebut.
Alva mengangguk seraya tersenyum lebar. Humairah senang mendengar Alva sudah tidak kebingungan lagi dengan masalah keuangan. Sebaliknya, firasat Nando mengatakan bahwa rekan kerjanya belum merdeka secara finansial.
“Kamu pasti bohong, kan?” tebak Nando dengan penuh percaya diri atas firasatnya, “Mana mungkin ada orang yang tiba-tiba merdeka secara finansial dalam waktu seminggu? Kecuali…”
“Kecuali?” Huamirah mengernyitkan dahinya.
“Kecuali ketiban durian runtuh,” celetuk Nando, “Eh, durian runtuh dari mana? Spill-spill, dong. Kali aja bisa diikuti.”
Alva tiba-tiba nyengir dan berkata, “Aku dapat pinjol yang jauh lebih murah dari yang kalian rekomendasikan.”
Nando dan Humairah terbelalak. Mereka tidak percaya dengan yang baru saja didengar. Seketika Nando membisu.
“Katanya kemarin nggak mau pinjol?!” protes Humairah, “Tapi kamu, kok malah…”
“Intinya gini. Nggak ada kecap nomor dua. Semua kecap selalu minta nomor satu, bukan?” ucap Alva yang berusaha membenarkan sikap dan keputusannya, “Termasuk pinjol yang ditawarkan sama istriku. Berhubung dia istriku. Dia udah pasti jadi prioritasku, maka sebaik-baiknya kecap di luar sana hanya kecapnya yang nomor satu.”
Mendengar jawaban nyeleneh tersebut, Nando dan Humairah spontan menepuk jidat masing-masing. Sedangkan Alva justru menggaruk kepalanya sambil memasang raut wajah seperti orang yang tidak memiliki dosa.
“Harusnya kalian berjodoh, sih,” sindir Nando sambil menunjuk ke arah Alva dan Humairah, “Sama-sama dagelannya. Sungguh.”
***
===
*Dhianitha bukan nama yang sebenarnya dan masih sering terlibat proyek nulis bareng (nubar). Sekitar awal tahun 2021 berhasil menulis buku solo perdana berupa kumpulan cerita pendek berjudul Kaleidoskop di Komidi Putar yang diterbitkan oleh SIP Publishing. penulis merupakan warga Instagram dengan nama pengguna @dhianitha_12.
Pingback: Publikasi Tulisan – dhi·an·i·tha