LiteraSIP

22 Oktober 2023

Mati Suri

Oleh Kartika Catur Pelita*

 

   

Tubuhku membeku. Terbujur kaku pada ambin kayu. Orang-orang mengatakan aku telah mati. Kerabat, handai taulan, dan tetangga menguar sedih. Kedua orangtua dan saudara kandungku meratap, pilu menangisiku. Para tetangga sibuk memasang tenda, menata kursi, menyiapkan pemakamanku.

    Sebentar lagi prosesi pada  mayat akan dilakukan. Modin yang akan menanganiku sedang dalam perjalanan menuju rumahku. Seperti aku yang sedang berjalan dalam lorong maha panjang. Aku berjalan terpekur menanti ujung jalan. Tapi semakin  jauh berjalan, yang kutemui hanyalah padang gersang.

Matahari-matahari jalang  membakarku. Aku menghentikan langkah saat seseorang mencegatku. Ia makhluk tinggi besar, tampangnya aneh, menakutkan.

“Hendak ke mana kau, heh?!”

“Aku tak tahu ke mana harus pergi.”

“Sungguh hina kau  manusia durjana.  Bahkan hendak ke mana tujuanmu berjalan pun kau tak tahu. Selama hidupmu di dunia hanya menuruti nafsu busuk. Hidupmu hanya untuk  senang-senang, mabuk-mabukan…”

“Maukah kau membantuku. Tolong tunjukkan ke jalan mana aku mesti melangkah?”

“Cih, mana sudi aku membantu orang  yang semasa hidup tak  pernah menyebut namaku, suka bohong dan munafik.”

“Aku lapar…”

“Kau ingin makan?”

“Sudikah kau memberiku  sebutir nasi?”

“Silakan.” Ia mengulurkan sekotak nasi dari api.

Aku memakannya dan lidahku, mulutku terbakar. Tapi sedetik lidah dan mulutku muncul lagi. Kini aku merasakan kehausan.

“Aku kehausan. Tolong beri aku air.”

Ia memberiku air.

Air mendidih beraroma api. Aku meminumnya. Tenggorokanku terbakar, mulutku terkelupas, bibirku lepas. Tapi aneh, dalam hitungan detik kemudian, mulut dan bibirku kembali utuh. Betapa  aku merasakan kehausan teramat sangat. “Aku haus, aku haus sekali.”

“Dasar manusia hina, tiada berguna!”

“Siapa kau yang menyakitiku?! Siapa kau makhluk celaka…”

“Kau yang makhluk celaka. Dulu kau hidup di dunia tiada pernah menjalani perintah Tuhan. Kau  selalu melanggar larangan-Nya. Kau tak pernah berdoa, tak pernah menyebut  namanya, bahkan saat kau jelang ajal pun kau tak menyebut nama Tuhanku. Enyahlah kau dari hadapanku, kau tak  layak bertemu Tuhanku.”

Aku ditendang kuat-kuat. Aku seperti debu yang diterbangkan badai. Melewati labirin-labirin waktu. Menyusuri terowongan teramat panjang hingga bersua sepercik cahaya yang kemudian mendekapku, menyelubungiku.

Tubuhku telah dimandikan, dan hendak dikafani. Satu lapis mori  putih tmembungkusku, kala aku tiba-tiba  merasa sesak. Sangat sulit bernapas. Cahaya yang menyelubungiku membuat tubuhku terasa hangat.

Aku menggeliat, mencoba beranjak dari dipan. Aku meronta. Aku kembali bernapas, denyut jantungku  timbul lagi. Aku hidup lagi. Orang-orang ketakutan berlarian. Modin menyentuh dadaku, mengelus tubuhku yang telanjang, dan berbisik. “Belum saatnya kau mati, Nak. Beruntung  Allah masih memberimu kesempatan untuk  hidup. Berbuatlah  di jalan yang diperintahkan-Nya!”

***

“Namanya Bahrun, usianya delapan belas tahun saat ia meninggal tersebab motor yang dikendarainya menabrak  trotoar. Modin tengah memandikan jenazah Bahrun saat tiba-tiba ia terbangun  lagi. Bahrun yang sudah dinyatakan mati  hidup kembali. Orang-orang  heboh. Ketakutan….”

“Benarkah orang yang telah mati hidup kembali, Ustaz?” empat  kanak-kanak menatap sang guru ngaji.

Ustaz Gozi, lelaki tambun yang  parasnya selalu bersinar, mengiyakan.

“Apakah  ustaz melihat sendiri?”

“Ya, saat peristiwa langka itu terjadi, umur  ustaz  masih sepuluh. Bila ada tetangga atau orang yang dikenal meninggal, selalu diajak  almarhum ayah takziah. Semula ustaz takut melihat orang mati. Apalagi melihat orang meninggal kemudian dipocong.”

“Seperti film-film pocong.”

“Mending aku nonton film kartun.”

“Kalau aku mah daripada nonton film atau sinetron, mendingan baca  buku.”

“Sudah, sudah. Masih mau tidak mendengar kisah orang yang sudah mati hidup lagi?”

“Ustaz, tadi ceritanya sampai di mana?”

“Ketika itu ustaz mendekat, ingin melihat modin yang mengkafani  mayat. Ustaz mencelat kaget, ketika mayat hidup lagi. Demi Allah,  ustaz melihat mayat yang digeletakkan di ambin   kayu bangkit, mencoba duduk. Ustaz sungguh  takut. Saking takutnya, kencing di celana.”

Anak-anak tertawa.

“Kemudian apa yang terjadi, ya Ustaz?” si kanak berkopiah bertanya.

“Orang-orang panik.  Untung  modin segera bertindak. Ia memeriksa mayat. Kemudian Modin berbicara, bahwa Allah telah menunjukkkan kebesaran-Nya. Semuanya atas kehendak Allah Swt,  jenazah Burhan hidup  seperti sedia kala.”

“Jadi kisah orang yang  telah mati kemudian hidup kembali, bukan bohong? Benar-benar telah terjadi, ya, Ustaz?”

“Ya, ketika Allah berkehendak, tiada hal yang tak mungkin  terjadi.  Peristiwa yang  terjadi pada Bahrun adalah bukti kebesaran Allah. Dialah yang menghidupkan, Dia pulalah yang mematikan makhluknya. Allah Maha Berkehendak.”

Ustaz Gozi melanjutkan menuturkan kisah. “Sejak diberi kesempatan  kedua, hidup  lagi, maka Bahrun berubah menjadi  pribadi soleh. Bahrun yang  tak pernah salat, sekarang ia rajin salat. Ia belajar mengaji dan  membaca Al-Quran. Ia memilih bergaul dengan  remaja masjid dan orang-orang saleh. Ia belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh, menjalankan syariat,  menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”

Ustaz Gozi berceramah lagi, “Alangkah malangnya  muslim yang meregang nyawal dalam keadaan maksiat.  Seperti  koruptor yang meninggal ketika bersama pelacur, maling yang mati saat mencuri, selebritis yang tewas karena narkoba. Beruntunglah muslim yang meninggal dalam  keadaan husnul khatimah. Orang yang wafat ketika mengimami salat, perempuan meninggal kala melahirkan buah hati, hamba Allah yang gugur di medan perang.”

***

Kisah kematian Bahrun menjadi menu wajib materi dakwah  bagi para mubalig di kota kami. Kisah seorang  pemuda  berandalan yang suka berbuat maksiat, kemudian mati suri, dan  atas kehendak Allah ia hidup lagi.

Ketika diberi kesempatan  kedua  Bahrun menjadi orang saleh, hingga malaikat Izrail menjemputnya saat beliau  berusia delapan puluh tahun.

Ya, kamilah para cucu dan anak-anak Bahrun, yang setelah menunaikan ibadah haji di Makah, mengganti namanya menjadi Muhammad Bahrun Alkar. Beliau mendirikan pesantren dan memilih jalan sebagai mubalig hingga mangkat pada usia sepuh. Seperti wasiatnya pada kami, maka kami memakamkannya di pekuburan keluarga.

Hingga dua puluh empat tahun kemudian, kompleks pekuburan, termasuk makam kakek kami, digusur, hendak dibangun jalan tol. Kami memindahkan makam kakek. Pada saat penggalian  terjadilah hal yang menakjubkan, jenazah kakek kami, ustaz Muhammad Bahrun Alkar masih utuh. Jenazah masih menghadap kiblat, bahkan kami masih mencium harum minyak kasturi dari sosok leluhur kami.

***

Kota Ukir, 03 Juli 2023

 

===

*Kartika Catur Pelita menulis prosa dan puisi dalam Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.  Tulisannya dimuat di media cetak dan online seperti Suara Pembaruan, Nova, Kartini, Kedaulatan Rakyat, Media Indonesia, Jawa Pos, Republika, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Majalah Jayabaya, Panjebar Semangat, Djaka Lodang, Basis. Bukunya karyanya: ‘Perjaka’, ‘Balada Orang-Orang Tercinta’, ‘Perempuan yang Ngidam Buah Nangka’, ‘Karimunjawa Love Story.’ Buku terbarunya jelang terbit, ‘Ribka dan Binatang Predator.’Penggiat komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *