11 Juni 2023
Puisi-Puisi Eddy Pranata PNP
Oleh Eddy Pranata PNP*

DI UJUNG JEMBATAN
Di ujung jembatan, ada jalan kecil menikung ke kanan
Di situlah terakhir pertemuan, aku ke ke jalan kecil itu
Engkau lurus ke jalan lebar ke kota jauh. Untuk beberapa
hari, untuk mengurai pikiran kusut tentang pusaran jalan
hidup yang tak karuan, tak jelas ujung pangkal, bagai
sesuatu benda yang tergantung tidak bertali, tidak ada
sentuhan kasih-sayang. Ibarat pohon dengan ranting-
ranting yang meranggas, hidup segan mati tak mau
: “Aku akan segera mengakhiri segala yang kusut,
dengan menebar Doa-doa”
Air mata gugur di atas ranjang kehidupan yang bimbang
Di ujung jembatan, ada jalan kecil menikung ke kanan
ke situlah aku memilih melanjutkan perjalanan, dengan
menjaga Kesetiaan, Kasih-sayang, dan Nyanyian Cinta
tentu, dengan Puisi-puisi juga, realitistis pada jarak, ruang
dan waktu bahwa berbagi Sunyi Wangi harus hati-hati
tidak boleh ceroboh, agar perahu terus berlayar, menembus
selat dan menyisir tebing-tebing karang, dengan bahagia
: “Dekaplah sehabis-habis rindu, walau sekali Sembilu!”
Jaspinka, 01 Mei 2023
CERMIN RETAK
Seseorang yang mungkin pernah kau kenal, berdiri tegak
dengan air mata tak henti-henti tetes di depan cermin retak
jemari tangannya gemetar meraba wajah dalam cermin
Ia tahan segala perih. Ia sangat tahu diri. Bahwa segala
keterbatasannya tidak akan bisa membahagiakan orang lain
Ia tidak punya harta benda. Tidak punya puisi. Tidak punya
sesuatu sekecil apa pun untuk dibanggakan. Ia amat rapuh
Tinggal sebongkah harga diri yang ia punya. Yang akan
membawanya pergi ke sebuah jalan sunyi yang panjang
Tempat ia mengabadikan sejarah jingga. Bahwa pertemuan
dan perpisahan hanya soal waktu. Ia tak mampu menahannya
Ia hanya bisa melihat kelebat kenangan. Sesak dada. Lara
Begitu mudahkah seseorang melepaskan buhul yang menjerat
hati dan jiwa? Hanya air mata. Hanya air mata.
Jaspinka, 27 April 2023
JALAN BERSIMPANG
Akhirnya sampai jua di jalan bersimpang. Aku ke Tenggara
engkau ke Barat Daya. Aku bukan Bandung Bandawasa dan
engkau bukan Rara Jonggrang. Kita bertemu bukan untuk
satu lakon, tetapi pagi terasa sungguh panas. Dada berguncang
Telah kita lewati jalan terjal berliku. Kita arungi laut dan selat
Kita sama berbagi baris-baris puisi. Sampai kemudian engkau
singkap masa lalu, dengan seribu alasan dan pembenaran
Hanya sebuah kenangan. Dan aku kalah.
Aku akan pergi jauh. Sejauh-jauhnya. Entah ke kota mana, entah
ke pelabuhan mana. Mungkin ke geronggang paling sunyi
di antara liang luka dan kubur cinta.
Aku ingin tidak peduli apakah ada Rara Jonggrang, Cinderalla
atau Nawang Wulan atau Sinta, aku ingin tidak peduli.
Biarkan aku pilih jalan paling sunyi. Di antara liang luka dan
kubur cinta. Aku hanya mau mati dalam peluk puisi.
Jaspinka, 14 April 2024
BULU-BULU CAMAR YANG RONTOK
DI RIMBUN HUTAN BAKAU
Yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan. Ngilu darah
Sembilu waktu. Ia pergi jauh. Meninggalkan Benteng Pendem
Lorong-lorong kamp Belanda. Senyap. Dingin. Ke Teluk Penyu
Perahu menyeberangi selat Nusakambangan. Ke Segara Anakan
Selat kecil. Hutan bakau berjajar, bersilangan. Ke Batu Gajah
Ada rombongan berang-berang berburu ikan. Satu dua bangau
bertengger di ranting pohon. Ia terpekur. Hatinya bagai lebur
Di hadapannya, bulu-bulu camar rontok. Karena pengkhianatan
Menjerit. Camar tetes air mata. Hutan bakau nyengat bau garam.
Andai tidak ada pertemuan. Dan tidak ada pengkhianatan. Camar
tak tetes air mata. Tak rontok bulu-bulu. Sembilu waktu. Kabar
buruk dari hutan bakau, tak ada sajak. Hanya rintih camar
Ia kayuh biduk. Berpeluh, berdarah-darah. Menjauh dari
hutan bakau ke bawah mercusuar. Ia ingin cahaya. Kilau cahaya!
Jaspinka, 12 April 2023
===
*Eddy Pranata PNP adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kau Masukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).