1 Juni 2025
Puisi-Puisi Pitrus Puspito
Oleh Pitrus Puspito*

Ibu Bumi
Merawat ialah ungkapan cinta tanpa kata,
tanpa kalimat-kalimat bersayap.
Alam raya tahu cara merawat
dan menumbuhkan apa pun
yang bertunas di atasnya.
Kemudian berbunga.
Lalu lenyap selamanya.
Alam. Semata menunaikan tugasnya:
menghidupkan segala tanpa menolak
kematian. Alam paham perihal
yang gugur dan yang patah.
Bumi adalah ibu. Keduanya adalah
satu pribadi dalam dua ungkapan.
Mereka tahu ada kematian di ujung
sulur-sulur yang terus tumbuh.
Mereka lebih dulu mengenal tangismu.
Daripada perasaan-perasaan setelahnya.
Mereka akan selalu mengingat kesedihan
sebagai bekal sepanjang laju waktu.
Surakarta, 2024
Sajak Perempuan yang Menunggu
1/
O, hidup! Hari-hari hanyalah hembusan napas.
Apa gerangan perempuan itu?
Diterimanya matahari setiap pagi.
Dipeluknya rindu di malam hari.
Bunga-bungatumbuh di pinggiran telaga
pohon-pohon menjulang di rimba raya
hari-hari senantiasa merawat harapannya.
Berapa lama ia sanggup menunggu?
Waktu serupa angin yang mendesir-desir:
merawat cuaca, mengupas usia.
Berapa lamakah lagi ia menunggu?
Ia seperti setangkai mawar segar
di terik matahari. Akar-akarnya kuat
berpegang jantung bumi.
2/
Biarlah kecemasan dan sesal
menuntun langkahmu,
awan-gemawang mengepungmu
dan hujan membasuh seluruh tangismu.
Malam ini, biarkan dirimu
dicekam kegelapan dan
sesunyi sepi mengantar
lelap tidurmu.
Ya, terimalah masa kegelapan
dalam hidupmu. Nantikan
bintang-bintang fajar.
Jangan ragu akan datangnya surya,
hari-hari dengan terang seterusnya.
3/
Kesabaran menjadikannya seperti lebah madu:
lembut dan tangguh, indah sekaligus rapuh.
Ia menanti musim memekarkan kelopak puspa.
Bergegas ia menyusup ke mahkota bunga_
sebelum bunga-bunga lain tumbuh di tanah
dan waktu membuat sepasang sayapnya lelah
Ia perempuan yang menunggu. Sungguh
dia tahu perihal menyayangi dan merelakan.
Namun harapan, senantiasa membuatnya bertahan.
Ada secercah kebahagiaan yang sangat ia yakini.
Ada seluruh kehidupan yang harus ia jalani setiap pagi.
Surakarta, 2024
Jadikan Hidup Lebih Hidup
Sesal dan tidak berdaya
ialah sesuatu yang menimpamu
setelah kau sering kehilangan
yang kau sayangi.
Keduanya akan tinggal dalam
benakmu melampau tahun-tahun
sebagai kutukan tak kenal ampun.
Ada kalanya ingatan tak berisi apa-apa.
Bahkan ketika kau berusaha mencari
nasihat ibu di sana.
Ada kalanya hidup tak harus memenangkan
apa-apa_ kecuali cara agar hidup
tidak terlalu klise.
Yogyakarta, 2020
===
*Pitrus Puspito adalah guru bahasa Indonesia dan peneliti bidang bahasa dan sastra Indonesia. Ia menempuh pendidikan terakhir di Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2020-2023). Selain menulis puisi dan cerita anak, ia juga menulis esai dan artikel ilmiah. Buku yang telah terbit yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019).