8 Juni 2025
Kambing Kurban Musa
Oleh Ahmad Ijazi Hasbullah*

Mbeeeek…. terdengar suara lantang Jebo dari balik jendela. Musa gegas menghampiri lalu mengeluarkan kambing kesayangannya itu dari kandangnya.
Kamu sudah lapar, ya? tanya Musa sambil mengusap-ngusap kepala Jebo dengan lembut. Dua hari lagi, lebaran Idul Adha akan tiba. Lusa, Jebo harus diantarkan ke masjid kelurahan untuk dijadikan hewan kurban.
Hari masih pagi. Tak jauh dari rumah Musa, ada padang rumput yang luas. Di sanalah Jebo bisa makan rumput sepuasnya.
Menjelang sore, Musa mengajak Jebo ke tepi sungai dekat hutan ulayat. Sambil memberi minum kambingnya, Musa kembali mengingat saat ia menemukan Jebo pertama kalinya.
Waktu itu Musa sedang membantu ayah mencari kayu bakar di tepi hutan ulayat. Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba terdengar teriakan anak kambing dari dalam sungai. Anak kambing itu ternyata terseret arus yang deras. Musa dan ayah dengan cepat menolong anak kambing itu lalu membawanya pulang.
Musa dan ayah berusaha mencari sang pemilik anak kambing itu. Mereka mendatangi para peternak kambing yang ada di desa. Namun, tak seorang pun dari mereka yang merasa kehilangan anak kambingnya.
Kalau begitu, kita harus merawatnya sampai besar, bisik Musa sungguh-sungguh.
Ayah tersenyum dan mengangguk setuju.
Tak terasa, umur Jebo sudah hampir dua tahun. Keluarga Musa sangat bahagia. Buah dari kesabaran merawat Jebo akan segera mereka petik hasilnya. Sebab, sudah lama mereka ingin merayakan lebaran Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban. Akhirnya, impian itu bisa mereka wujudkan tahun ini.
Namun, keesokan harinya, Musa terkejut bukan kepalang. Ia mendapati kandang Jebo sudah dalam keadaan kosong! Ia lalu menghampiri ibu yang sedang memasak sarapan di dapur.
“Apakah Ibu melihat Jebo?”
Sejak subuh tadi, Ibu perhatikan, Jebo sudah tidak kelihatan di kandangnya, jawab Ibu sambil memasukkan daun bayam ke dalam kuali.
Dengan perasaan cemas, Musa segera berlari menuju masjid kelurahan. Mungkin, tanpa sepengetahuannya, ayah sudah menyerahkan Jebo ke panitia kurban.
“Pak, apakah ayahku sudah mengantarkan Jebo ke panitia kurban pagi ini?” tanya Musa tak sabar.
”Belum ada tuh!” sahut salah seorang panitia kurban sambil meneliti daftar nama peserta kurban di buku catatannya.
”Coba Musa cari dulu di sekitar rumah. Siapa tahu Jebo ingin jalan-jalan sendirian dulu sebelum dikurbankan,” hibur salah seorang panitia kurban yang lain.
Namun, setelah Musa cari-cari di sekitar rumah, Jebo tetap tidak ditemukan juga. Musa sudah tak tahan. Ia berlari kencang ke tepi sungai. Dengan air mata bercucuran, ia terus memanggil-manggil nama Jebo.
“Musa, kenapa menangis sendirian di sini?” tiba-tiba terdengar suara Ayah.
”Jebo hilang, Ayah!” Musa menangis tersedu-sedu.
”Hmmm, siapa bilang Jebo menghilang? Jebo masih, ada, kok.”
”Hah? Bener, Ayah? Di mana Jebo sekarang, Ayah?”
”Jebo sekarang ada di kota, di Kantor Dinas Kehutanan.”
Jebo menatap ayahnya keheranan.
Ayah lalu menjelaskan. Jebo yang selama ini mereka pelihara ternyata adalah jenis kambing hutan yang dilindungi. Habitatnya sudah sangat langka. Rencananya, setelah salat Id, Jebo akan dilepas ke habitat asalnya, di hutan ulayat.
”Ayah minta maaf, Musa, tadi tidak membangunkanmu. Soalnya, usai salat Subuh, Ayah harus menumpang mobil pick up Bang Diman yang bawa dagangannya ke kota.”
”Berarti…, tahun ini, kita gagal berkurban lagi ya, Ayah?” tanya Musa dengan wajah sedih.
”Justru tahun ini kita bisa berkurban lebih banyak. Karena Bapak Kepala Dinas Kehutanan bersedia mengganti Jebo dengan dua ekor kambing ternak yang gemuk-gemuk.”
”Ya, Allah! Beneran Ayah?” Musa tidak percaya.
”Iya!”
”Alhamdulillah!” Musa memeluk ayahnya dengan penuh haru.
Akhirnya, lebaran Idul Adha tahun ini akan menjadi lebaran yang sangat istimewa baginya. Sebab, keluarganya bisa merayakannya dengan berkurban dua ekor kambing sekaligus!
===
*Ahmad Ijazi Hasbullah kelahiran Rengat, Riau, 25 Agustus. Skenario film pendeknya yang berjudul Cita-cita Elliah menjadi pemenang 2 Sayembara Menulis Skenario Film Pendek Islami Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI 2022. Pernah juga menjadi nomine lomba menulis prosa Kemenpora 2011 dan puisi Tulis Nusantara Kemenparekraf 2013. Buku kumpulan sajaknya yang bertajuk Bahtera memenangkan penghargaan Anugerah Sagang 2015.