6 Agustus 2023
Puisi-Puisi Sapto Wardoyo
Oleh Sapto Wardoyo*

Tentang Sebatang Pohon
musim-musim tak lagi mencatat. tabahmu
yang penat, sebagaimana ayah tak lagi
membasahi setiap denyut kehidupan dengan
keringat sebelum ibu menanaknya dengan
doa dan air matanya. walau sedikit samar
aku masih menyimpan rupa-rupa kenangan
tentang rimbun daun, angin, dan juga kata
-kata yang terus berguguran
sampai tiba masanya sebuah kota menjelma
lautan cahaya, dan anak-anak jadi begitu
acuh pada sebuah pekarangan yang teduh, dan
lebih mencintai dunianya yang kumuh
ketika tahun-tahun mulai sibuk menyimpan
kesunyian, aku jadi semakin paham
ternyata tak ada yang lebih perih selain sebuah
kembara
di mana aku tak lagi bisa menyaksikan ibu
menyapu guguran daun-daun itu. setelah sisa
hujan yang penghabisan tubuhmu menggigil
kesepian
sebelum ayah mengayunkan kapaknya dan
menoreh tubuhmu dengan begitu banyak luka
dan segala daun
segala ranting
segala dahan
diam-diam beranjak menuju sunyi
sebelum menggeliat di nyala api
Bekasi, Maret 2023
Wiji
ia pernah datang, menabur benih
tumbuh menjadi kata-kata, lawan!
ia tak pernah takut disergap bahaya
dan ia selalu sadar
kelak akan tiba masanya
ada derap sepatu penguasa
ada berpasang-pasang mata
yang terus mengawasinya
bahkan mungkin letusan senapan
yang menyalak di hening malam
tapi ia tak mau mengkhianati
kata-kata yang merimba di kepalanya
kenyataan harus dikabarkan
meskipun ada pihak yang beranggapan
ia telah menabuh genderang
peperangan
ia pernah datang, menabur benih
tumbuh menjadi kata-kata, lawan!
ialah simbol perlawanan, kata mereka
padahal ia tak membawa senjata
apa-apa, selain kata-kata
kata-kata yang tak disukai oleh penguasa
kata-kata yang telah membakar sebuah
negara
kata-kata yang telah membuatnya
menjadi tiada!
Bekasi, 2023
Sipon
ia tak pernah punya selembar peta
yang bisa mengantarnya menuju sebuah
pusara
untuk menaburkan kembang atau
kenangan
dan juga mengirim doa-doa
yang mampu mengetuk pintu surga
baginya tak ada yang lebih ditunggu
selain sebuah rindu
yang tiba-tiba mengetuk pintu
mengantar peluk dan kehangatan
yang telah lama hilang
diculik oleh sejarah dan kekuasaan
ia adalah kesunyian
yang selalu meronta di tubuh malam
ia adalah tabah dan doa-doa
yang tak dijawab oleh Tuhan
ia adalah pencarian
yang tak pernah menemukan
ia adalah kemiskinan
yang dilarang untuk disuarakan
ia tak pernah punya selembar peta
yang bisa mengantarnya menuju sebuah
pusara
untuk menaburkan kembang atau
sekedar berbincang
tentang anak-anak yang tumbuh dalam
penantian
tentang hati yang berdarah-darah karena
sebuah kehilangan
juga tentang kata-kata
yang katanya telah membakar sebuah
negara!
Bekasi, 2023
Tentang Usia
di matamu, waktu menjelma serupa embun
yang merampas jarak pandang
segala sesuatu seperti tersembunyi
kecuali jejak musim
matahari yang timbul tenggelam di tubuhmu
hujan yang menggigil di jiwamu, seakan
saling berlomba menjadi sebuah pertanda
bagi usia yang mulai menua
telah terbentang sedemikian jauh, ternyata
jarak antara tegar dan tubuh yang penuh
memar
antara senyuman dan isak tangisan
lalu doa-doa mulai sibuk menawar kesempatan
sebelum musim-musim yang berlarian
tiba-tiba berhenti di pekarangan
mengabarkan sebuah alamat untuk berpulang
sebelum sunyi mulai bertalu, berbisik
di telingamu: aku menunggumu!
Bekasi, 2023
==
*Sapto Wardoyo, gemar menulis puisi atau cerpen. Sampai saat ini karya-karyanya banyak yang ditolak media, tapi ada juga yang dimuat di berbagai media. Seperti, koran BMR Fox, Harian Bhirawa, koran Rakyat Sumbar, Pos Bali, Nusa Bali, koran Merapi, Pikiran Rakyat, Bali Politika, magrib.id, Sastra Media, Barisan. co, majalah Elipsis, majalah Semesta Seni dan juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Tinggal di Bekasi.