LiteraSIP

6 Agustus 2023

Mat Mencari Kerja

Oleh Fahrul Rozi*

 

 

Sudah dua bulan lebih enam hari Mat mencari kerja. Surat lamaran kerja yang dia kirim tempo lalu belum ada balasan. Sesuai saran teman kuliahnya, dia mengirim surat lamaran ke beberapa perusahaan dalam berbagai bidang, termasuk menjadi driver.

Sebelum lulus kuliah dia selalu dihantui bayang pengangguran di gang-gang rumahnya. Dia takut menjadi bagian bayangan itu sehingga dia menghabiskan waktu kuliahnya hanya memenuhi tugas-tugas dari dosen dan menolak ajakan bergabung organisasi atau acara ngumpul-ngopi-ghibah.

Selama dua bulan lebih enam hari, Mat Landuk hanya hidup di dalam rumah. Membakar rokok sampai berbungkus-bungkus hingga kamarnya bau apak. Bagai memasuki hutan berkabut, Mat Landuk tertelan dalam asap, terdistorsi dalam ketakutan yang berlebihan.

Sayangnya, dia tidak memiliki teman di daerah rumahnya. Teman-teman masa kecilnya sudah menikah, bekerja di luar kota, dan menghilang entah kemana. Itulah alasan utama mengapa dia mengurung diri di kamarnya.

Mat Landuk memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Yang laki-laki bekerja digital marketing di perusahaan kerajinan kayu, yang perempuan masih sekolah menengah ke atas.

Orang tua Mat tergolong penyayang, namun karena usia keduanya semakin bertambah dan keinginan memiliki cucu memuncak, Mat Landuk terus-menerus digoda untuk menikah. Karena prinsip yang dia pegang sejak kuliah keinginan orang tuanya tidak diloloskan.

Awalnya, orang tua Mat cemas melihat perilaku anaknya yang selalu mengurung diri di dalam kamar. Dia tidak akan keluar kamar jika tidak ada keperluan. Orang tuanya tidak tahu apa yang dikerjakan Mat sehari-semalam di kamar.

Satu hari, adik laki-lakinya masuk ke dalam kamar Mat. Dia masuk tanpa mengetuk pintu. Seperti biasa, kamarnya dipenuhi asap rokok. Adik laki-lakinya berjalan hati-hati seraya memanggil Mat.

“Ada apa, Bad?”

“Makan malam sudah siap,”

“Aku masih kenyang. Kalian makan duluan saja,”

“Baiklah, jangan lama-lama nanti Ibu ngomel-ngomel.”

Di rumah Mat terdapat aturan yang sangat ketat, seperti berada di kamp kerja paksa; seseorang harus menuruti tiap aturan. Tidak boleh tidak. Badrus, adik Mat memiliki peran penting dalam keluarganya. Dia banyak berkontribusi dalam ekonomi keluarga. Maka tidak heran, Mat merasa risih jika berada satu ruangan dengan Badrus. Mat tahu jika adiknya sudah memiliki kekasih sejak SMA, dan dia tahu betul Badurs ingin segera menikahinya, namun karena aturan keluarganya yang ketat dia harus menunggu sampai Mat menikah lebih dulu.

Badrus keluar kamar sembari batuk-batuk. Hutan berkabut, awan mendung, koak gagak dan kehampaan yang mematikan. Itulah perasaan yang timbul setelah masuk kamar Mat. Keluarganya tidak tahu dari mana Mat mendapat uang untuk membeli rokok, kopi, dan buku. Mereka hanya tahu Mat pengangguran. Tidak memiliki pekerjaan merupakan kutukan bagi sarjana sepertinya.

Pada hari minggu, sebelum keluarganya bangun untuk rutinitas, Mat terjaga pagi sekali. Dia keluar rumah dan berlari sampai pukul  07.24. Pada jam segitu hanya ada ibunya di rumah, yang lain berkegiatan di luar. Ketika sampai di rumah, Mat melihat ibunya membaca koran.

“Kamu dari mana?” tanya ibunya seraya menutup koran.

“Lari,” jawab Mat singkat. Dia meraih koran di atas meja dan mencari rubrik Jendela. Setelah menemukan namanya di kolom esai, dia mengembalikan koran.

“Apa yang kamu cari?”

“Apalagi selain lowongan kerja,” setelah mengatakan itu dia mengurung diri dalam kamar sampai langit gelap.

###

Sehari setelah tulisannya terbit, surat lamaran Mat dibalas oleh pihak terkait. Ada sekitar dua puluh tiga surel yang menyatakan Mat lolos seleksi dan memintanya untuk datang wawancara. Sama seperti sidang skripsi satu tahun lalu, Mat takut. Tubuhnya bergetar hebat dan matanya membulat bak purnama hampa. Membayangkan seorang lelaki bertubuh tegap mewawancarainya dengan tatapan intimidasi. Bibir yang bagai mulut senapan dan lengan besarnya seperti pentungan polisi.

Mat berpikir sejenak, dia tidak bisa mundur lagi. Berkat tulisannya dimuat koran nasional, surat lamaran Mat dibalas setelah sekian lama menunggu. Dia sadar pengaruh koran nasional sangat besar. Dia sangat tahu itu.

Dia bangkit dari tempat tidur, melihat jam dinding lalu pergi mandi. Dia sudah siap untuk berangkat ke lokasi wawancara. Hari ini ada lima wawancara. Dia tidak bisa memilih salah satu dari dua puluh tiga tes wawancara. Sebab, dia tidak tahu akan diterima di mana. Ketakutan yang sejak tadi menderanya dia guyur dengan air, jatuh bagai air terjun dan masuk lubang gelap.

###

Waktu berlalu. Mat berjalan gontai di depan stasiun. Dia sudah sangat lelah setelah melakukan lima wawancara di tempat yang berbeda selama tiga hari berturut-turut. Dia berharap bisa sampai rumah dengan cepat dan merebahkan tubuh.

Tidak ada angkutan umum atau ojek motor yang beroperasi. Dia berjalan sepanjang trotoar, lampu jalan kedap-kedip bak di diskotik. Dia berhenti untuk menyulut rokok lalu menyusuri jalan yang sunyi. Ketika sampai di perempatan tepat di depan halte, dia menemukan ojek motor.

Setibanya di rumah, Mat masuk, berharap orang tuanya telah tidur. Dia tidak ingin ada pertanyaan lagi tentang hidupnya. Dia masuk dengan hati-hati agar tidak membangunkan mereka.

Di ruang tengah, dia mendengar suara TV. Dia ingin melihat di balik sofa siapa gerangan yang menonton TV dengan volume nyaring tengah malam begini.

“Kamu sudah pulang?” Perempuan paruh baya dengan mata mengantuk menoleh ke arah Mat.

“Iya,”

“Bagaiaman wawancaranya?”

“Seperti biasa, membosankan.”

Mat beranjak meninggalkan ibunya. Dia sudah memegang gagang pintu kamarnya, namun berhenti dan menoleh ke asal suara.

“Tadi siang ada lelaki tambun yang mengaku dari Bran Grup datang mencarimu. Dia menitipkan surat. Ibu meletakkan surat itu di atas meja belajarmu.”

Dia mengingat satu tawaran yang diajukan oleh manajer Bran Grup, “Kamu memiliki potensi yang tidak dimiliki banyak orang dan perusahaan ini membutuhkanmu. Kamu hanya cukup menulis sesuai tema yang kami inginkan. Bukankah itu sangat mudah untuk penulis sepertimu?”

 

===

*Fahrul Rozi, lahir pada 10 Agustus 2001. Penulis lepas dan buruh tata letak buku. Saat ini tinggal di Jogja. Bisa dihubungi di instagram @Ojiy__

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *