15 Oktober 2023
Puisi-Puisi Vito Prasetyo
Oleh Vito Prasetyo*

KEPADA HUJAN
aku terkoyak-koyak di tubuh sajakmu
bagai bait-bait kehilangan aksara
tubuhku menggigil kuyup
didera musim, yang menyampul gelisah
dan di telatah mimpiku jadi luka baru
kering, seakan sempurnakan kata-kata dahaga
di selintas jalan, kabut awan bergegas
tatapanku kian rapuh
aku berharap sajakmu menjelma rindu
sebab ada kalanya hujan tertulis
untuk membasuh ingatan kita
meski aksara cinta makin rumit terbaca
jika hari-hari ini penuh hujan
bukankah tangan kita makin bersih
bercengkerama di meja jamuan sajak
dengan aksara berkebat doa
meski lisan kita tak akan pernah
menjadi suluk kitab
yang memungkasi musim
dari letih dan penatnya
sederet abjad gelisah
dalam peradaban kini ditakwilkan hujan
PB, 2022
DI BUS ANTARKOTA
seraut wajah tertunduk lesu
duduk di bangku belakang bus antarkota
entah, mungkin pikirannya berkelana
kesana-kemari tanpa penghujung
atau mungkin, penat tubuhnya terlalu menggumpal
ludah di kerongkongannya telah kering
hingga tatapannya serupa lamunan
menyumpahi hembusan angin
yang kibaskan rambutnya
dan memberangus sisa aroma cinta
yang melekat erat di pangkal ingatannya
sementara seorang pengamen jalanan, tak peduli
bersenandung tentang kisah-kisah terluka
mengiringi laju bus
bagai setangkup musim
di antara hiruk-pikuk roda kehidupan
Malang, 2023
KAJOETANGAN
kerap tanah ini
menanti leluhur datang berziarah
dengan seonggok doa di tangan
sisa musim yang berkelindan hujan
hingga butiran ritual terbasuh
menggerus ringkih waktu
tinggalkan mimpi puisi
dalam keadilannya di sepanjang tanah ini
tanah, tempat menulis keberanian
- Kajoetangan
di simpang jalan, penanda batas
berserakan sisa kemarau panjang
yang mengusik kerak bumi
bagai tangkup gelisah
tatkala senja mulai rebah
di antara lampu-lampu redup
timbul tenggelam memancang keberanian
mengusik kelokan malam, kian gelap
kini jadi mimpi terindah, menjelma cafe
berjalan hilir mudik di telatah musim
dan merancap dalam ingatan sajak
masih adakah catatan tersisa
bagi mimpi-mimpi kajoetangan
memenggal musim, tatkala orkestra hujan
menggelar kenangan tradisi
di tanah-tanah yang kehilangan makna
Malang, 2023
TANAH-TANAH KEKAL
‘kau remas cahaya pagi
tatkala malamku retak
dihantam rimba, sesepi rimba belantara
yang memurkai api-api pegunungan
adalah bara api didekap musim
bertandang dalam ketakutan
menggelincir di tangan zaman
hingga seribu lafal di pangkal doa
bagai setangkup duka
hilir mudik bersama angin
melesap pada ingatan, palung cemas kita
tiada lagi lisan mampu berdaya
dipanggul aksara kematian
engkau terempas impian
yang tak akan kita rengkuh
hanya jejak tradisi
simpulkan keberanian
yang telah ingkar dalam kepolosannya
dan terus kita mainkan
pada tanah-tanah, tempat rebahkan penatnya aksara kekal
Malang, 2023
===
*Vito Prasetyo, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Pernah kuliah di IKIP Makassar. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, peminat bahasa dan budaya. Tulisannya tersebar di berbagai media, dan sering memenangkan lomba menulis karya sastra. Karya-karyanya pun tersebar di berbagai buku antologi bersama. Ia juga telah banyak menerbitkan buku puisi.
Terima kasih telah memuat karya saya
Bgus