LiteraSIP

5 Februari 2023

Sajak-Sajak Amaliya Khamdanah

Oleh Amaliya Khamdanah*

 

(P)ULANG KEMBALI

Aku mengantarkanmu, sampai gerbang pertemuan,
menuntaskan rindu pada kampung halaman,
sisanya tak seperti yang lalu, katamu tanpa senyuman

Aku mengantarkanmu, sampai ruang pertemuan;
di otakmu, yang leluasa menyimpan kenang, aku melihat kau membisu,
semua yang telah berlalu tak seperti harapmu

Aku mengantarkanmu lagi, sampai ruang keluarga
kulihat, tak ada tanda-tanda ada di matamu,
setelah kepergian panjangku, apa yang terjadi,
katamu

Di ruang keluarga, tak terdengar apapun,
kecuali bising ingatanmu yang berulang-ulang,
yang memaksamu mengulang,

Jangan-jangan pulangmu kali ini hanya untuk mengulang,
apa yang hendak diulang,
sedang kau sibuk tanpa merapal tasbih rindu?

Demak, 27 November 2018

  

TATAP MENATAP TEMPAT

; November, dari tulisan pendek tentang Yogyakarta

Ada tempat yang mesti kita kunjungi lagi. Sekadar melewati atau berteduh di bawah pohon rindang seperti sore itu.

Ada tatap yang sempat menatap matamu; malu-malu. Pada lisan yang juga sempat menyebut nama kamu dan tersipu-sipu.

Ada tempat yang mesti kita ringkas. Menjadi perjalanan yang pendek atau panjang. Cerita-cerita yang pantas tuk dikenang atau dilupakan. Atau biar ia memasuki ruang semestinya.

Keping-keping ingatan itu kini menjadi satu, berkumpul dalam satu dekap dan ruang.

Lusa atau kapankah itu, kita akan mengingat, dengan sedikit sesak atau tersenyum; jalan mana saja yang telah kita lalui, bangunan mana saja yang sempat kita tatap, plang nama jalan yang sempat kita eja, angkringan yang kita jadikan jeda, dan tempat teduh di tengah keramaian.

Demak, 13 Juni 2020

 

BEKAL

Tanah-tanah telah mempersiapkan diri, akan ada perjalanan jauh, katanya.

tanah-tanah menyambut suka cita, dipersiapkan baik-baik; bekal berisi kerikil, pasir secukupnya, serta sedikit daun kering dan akar tempat lahir mereka, agar tidak mudah kangen, begitu sahutnya.

Kini, tanah-tanah beralih tangan, diangkut ke punggung-punggung beralas besi yang terbatas. tidak terlalu buruk, sepertinya benar tempat baru akan menyenangkan, katanya penuh gembira.

Jauh atas harapnya, tanah-tanah melihat air dalam jumlah tak terbatas, bukan kali, atau sungai, orang-orang bilang namanya laut.

Sejak hari itu,
tanah-tanah tidak tahu, tanda-tanda takdir yang mulai terbaca,
pada kelak yang menggiring mereka pada keabadian.

Demak, 21 April 2021

 

===

*Amaliya Khamdanah, tinggal di Demak. Pernah menulis buku Suara Hati Tentang Masa Lalu (2019). Gemar memotret hal-hal random di sekitarnya melalui ponsel. Bisa disapa melalui Instagram @AmaliyaKh7.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *