12 Februari 2023
Puisi-Puisi Faidi Rizal Alief
Oleh : Faidi Rizal Alief*

tirakat laut
berhentilah sebentar ombak berdebur. diam sejenak angin di dada janur
bulan sudah menggelar sajadah lembut. pasir putih mengamini niat laut
di bibirnya perahu bulan mengaji. di jantungnya berdetak seluruh sunyi
sembahyang ini sembahyang batin laut. malam jadi saksi sampai subuh larut
Fatiha Yasin di lidah kian basah. dalam rukuk sujud tumbuh mawar indah
amis ikan jadi wangi paling rindu. dihidu batu halus bercadas nafsu
tahiyat menunjuk arah Maha Langit. sebab di bumi yang luas ini sempit
di dasar malam laut semakin laut. dari jauh gelombang semakin surut
bandungan, 2023
niat bulan
bulan lebih suka bermalam di laut. menyaksikan rindu moyang tak mengerut
sampansampan di sini menjadi zikir. disentuh bibirnya angin tak berdesir
yang bergulingguling itu bukan ombak. sebab di tepi, pasir menangkap jalak
bersama melayat berangkat melaut. menjaga doa tak tercebur ke maut
bulan lebih suka bermalam di laut. bahkan sampai dirinya hilang di rumput
di kota ia hanya sebentar saja. sekadar lewat atau melihat luka
baginya kota adalah luka dalam. bertahan di sini perih kesunyian
seluruh kenangan memar di dalamnya. kecuali hati laut yang terjaga
bandungan, 2023
ombak-ombak cahaya
bersama Kak Mahwi Air Tawar
dadaku dadamu samasama laut. ombaknya puisi yang tak pernah surut
meski di pesisir banyak tanah luka. masa lalu ditikam kolam petaka
di sini perahu yang adalah rindu. tetap meyakini laut itu biru
bukankah hidup hanya soal berlayar. angin ombak dari dulu jadi tikar
lihatlah bibir bulan cahaya putih. daundaun gugur menggugurkan perih
yang berdebur di laut kini puisi. yang pulang ke laut seluruhnya sunyi
kita melepaskan semua perahu. malam dan bulan melesat dari batu
sebelum pulang ke diri masingmasing. lautku lautmu bercahaya kuning
bandungan, 2023
tadabur laut
sudah kulepaskan seluruh perahu. sebelum kau ambil ombak di tanganku
biar nanti ia kembali padamu. sebagai puisi yang lebih pemalu
kusimpan tangis di sini dalam karang. agar yang kau dengar lagu kunangkunang
kupendam doa di tepi rahasia. malam dan bulan tak tahan bercahaya
lautan yang dalam seluruh diriku. tenggelamlah seluruh yang masa lalu
air mata yang kutumpuk kini batu. kelak akan menjadi penangkal rindu
jangan kembali bila untuk berenang. nanti sekujur tubuh tambah meriang
ikan yang telanjur lepas dari tangan. memang menyisakan amis dalam angan
dari debur luka ke debar gelombang. kutunggu kelopak lain dalam kembang
hingga sunyi menerima kesedihan. tidak dengan jalan tangis berlebihan
bandungan, 2023
===
*Faidi Rizal Alief belajar menulis puisi dan cerpen sejak nyantri di Lesehan Sastra dan Budaya Kutub Yogyakarta. Pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia. Beberapa puisinya terbit di media massa seperti MAJAS, KR, Tribun Bali, dll. Dan terbit di antologi bersama seperti Senyuman Lembah Ijen, Jazirah, Komunitas Negeri Poci dll. Buku puisinya Pengantar Kebahagiaan menjadi salah satu pemenang di Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival 2018 kategori Promising Writer.
puisi yang bagus dan penuh makna kak
Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 12 Februari 2023 - SIP Publishing