LiteraSIP

19 Februari 2023

Karma Mencari Jalan Pulang

Oleh: Endang S. Sulistiya*

Sekujur tubuh Ratih bergetar hebat kala Hari meletakkan segepok uang pada telapak tangannya. Mata Ratih tiba-tiba berkabut. Dalam pandangannya, samar-samar segepok uang tersebut telah berubah menjadi seonggok bangkai yang menyebarkan bau busuk.

Jijik bercampur marah, Ratih melemparkan uang yang telah ia ketahui pasti berasal dari mana. Uang perdamaian dari pelaku pelecehan atas Indah – putrinya. Berhamburan. Lembar-lembar uang seratus ribuan melayang sesaat di udara lalu berjatuhan di lantai, meja, pula kursi.

Hari menyeringai sesaat, tetapi dia tidak meletupkan sedikit pun amarah. Dengan telaten, Hari mengumpulkan uang yang tercecer. Tumpukan lembaran uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan itu diikat Hari dengan karet lalu dimasukkannya ke dalam kantong plastik berwarna hitam.

Hari hendak melangkah ke kamar, tetapi urung. Lantaran mulut Ratih yang tadinya terkunci rapat mendadak meluncurkan sebaris kalimat yang langsung membuatnya tersudut.

“Sudah dapat rumah kontrakannya?” Ratih memandang tajam ke arah suaminya.

Hari tergugu. Jujur, dia tidak bisa serta-merta menjawab pertanyaan istrinya dengan cuek seperti biasa. Sebagaimana ketika interviu dengan HRD, kali ini Hari seakan-akan diharuskan menyiapkan jawaban yang benar-benar memuaskan.

“Sedang negosiasi harga,” ucap Hari kemudian.

Wajah Ratih bertambah mendung. “Mulut tetangga sangat tajam. Lebih-lebih jika tahu uang ganti ruginya sudah cair. Mereka akan semakin menghinakan kita.” Ratih mendengus. Sedih, kecewa, kesal bercampur jadi satu.

“Sudahlah. Abaikan saja,” tukas Hari, menasihati.

“Kita mungkin bisa. Tapi bagaimana dengan Indah?” sahut Ratih, ketus. “Bahkan bocah-bocah tetangga, teman sekolah maupun teman sepermainan Indah, ikut menjauhi dan mencemoohnya!” imbuh Ratih, geram.

“Anak-anak itu akan aku beri pelajaran!” cetus Hari, mengepalkan tangannya. Geram.

“Kekerasanmu tidak akan menyelesaikan masalah! Sebaiknya kamu segera saja selesaikan urusan kontrakan. Kita harus lekas pindah!” sergah Ratih.

“Baiklah.” Hari yang merasa tidak akan menang debat dari istrinya mengalah.

“Satu lagi. Aku tidak mau melihat uang itu lagi!” Ratih menegaskan kalimatnya sambil memalingkan muka. Menghindarkan bola matanya berbenturan dengan kantong plastik hitam yang dipegang erat oleh Hari di depan dadanya.

“Mungkin uang ini akan aku simpan di bank untuk masa depan Indah,” ungkap Hari tanpa sempat berpikir panjang atas susunan kalimat yang diucapkannya.

Ratih terperanjat. Amarahnya seketika menyembur. “Apa kamu pikir Indah masih punya masa depan setelah pelecehan yang dialaminya? Masa depan Indah telah hancur. Bahkan jika kamu pukuli pria bejat itu sampai mati, tidak akan bisa mengembalikan masa depan Indah. Begitu pun dengan sebanyak apa pun uang ganti rugi yang kita dapatkan. Dan aku merasa begitu najis lantaran menyetujui perdamaian itu.” Ratih menangis terisak-isak setelah memuntahkan gumpalan kepedihan dari benak dan pikirannya.

Hening sesaat menguasai ruangan dan segala isinya. Akan tetapi hening itu koyak setelah seorang gadis kecil berseragam SD menerobos masuk ke dalam rumah dengan tangisan histeris. Itulah Indah, putri dari Hari dan Ratih.

Lagi, Indah pulang sekolah dengan seragam yang kotor. Bahkan kali ini di bajunya terdapat tulisan merah berhuruf kapital: ANAK KOTOR. Tak perlu bertanya lagi, Hari dan Ratih sudah bisa menyimpulkan bahwa Indah dirundung lagi oleh teman-temannya.

Tergugu. Hari tidak habis pikir dengan anak-anak yang menjahati putrinya. Bukannya merasa kasihan kepada Indah yang terkena musibah, mereka justru mencaci maki. Tidak hanya anak-anak, warga masyarakat pun kini seolah memandang rendah kepada Hari sekeluarga.

Warga masyarakat mencabut kembali dukungannya setelah keluarga Hari diketahui melakukan kesepakatan damai dengan pelaku pelecehan. Bahkan keluarga Hari bersedia menerima uang ganti rugi. Warga masyarakat berasumsi bahwa Hari dan Ratih tega menjual kelamin putri mereka sendiri.

Hari mencengkeram kantung plastik erat-erat. Dadanya mendadak sesak. Saluran pernapasannya serasa menyempit. Sirkulasi udara seakan-akan terhambat masuk dari lubang hidungnya.

Ingatan Hari melaju cepat ke masa lalu. Mengikuti ajakan teman-teman nongkrongnya, sepulang sekolah, dia menonton film porno untuk pertama kalinya. Sepulangnya dari acara rahasia itu, Hari gelisah. Sepanjang malam dia tidak bisa tidur. Sesuatu dari dalam dirinya terus memaksa untuk dicarikan pelampiasan.

Pada suatu petang yang senyap, hasrat Hari sudah tidak tertahankan lagi. Bayangan adegan tak senonoh yang ditontonnya bersama teman-temannya terus menghantui kepalanya. Naas. Mata jelalatan Hari mengincar gadis kecil yang merupakan anak tetangganya.

Gadis kecil yang sepertinya baru pulang dari bermain itu berjalan sendirian melewati jalanan setapak di samping rumah Hari yang sepi. Hasrat yang kian menggebu-gebu membuat Hari kehilangan akal sehatnya. Segera saja ia tarik gadis itu ke dalam rumahnya yang kosong.

Gadis itu terlalu kecil dan lemah untuk melawan. Ia sekuat tenaga meronta, tetapi tenaga mungilnya tiada artinya. Tak pelak ia hanya bisa menangis dengan mulut terbekap oleh telapak tangan besar remaja laki-laki di hadapannya.

Sejak hari kelabu itu, Hari kadang-kadang waswas perbuatannya akan terbongkar. Namun ia jadi lega setelah menyelidiki kondisi keluarga dari si gadis kecil. Lantaran orang tua dari si gadis kecil terlalu sibuk dengan pekerjaannya, mereka tidak peka sama sekali terhadap perubahan sikap putrinya yang menjadi lebih pendiam. Maka Hari merasa aman karena dosanya tertutup rapi sampai kini.

Gadis malang itu memang tidak bersuara dan tidak sanggup berbuat apa-apa. Tidak mengadu pada orang tua, tidak ada laporan ke polisi, hingga tidak ada tuntutan ganti rugi.

Hanya saja, entah mengapa, Hari merasa bahwa gadis kecil yang kini telah tumbuh mendewasa itu selalu menghunjamkan runcing kebencian tiap berpapasan dengannya. Membuat Hari waswas karena gadis kecil yang telah dewasa itu seolah-olah mengancamnya, “Kamu akan mendapat balasan setimpal!”

Tiap saat Hari jadi gelisah. Maka Hari kemudian berusaha menenangkan diri sendiri dengan fakta bahwa gadis kecil yang telah dewasa itu sekarang sudah memiliki rumah tangga yang harmonis. Agaknya mustahil gadis itu akan mengungkit kejadian suramnya di masa lalu. Lantaran membuka aib sama saja dengan bunuh diri. Gadis itu tentu tidak mau pernikahannya yang adem ayem hancur berantakan.

Namun benar bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Karma akan mencari jalannya sendiri untuk pulang. Selalu sepanjang sejarah, balasan yang datang akan berkali-kali lipat lebih kejam. Hari tiba-tiba ambruk ke lantai. Seperti orang gila, dia merobek-robek lembar demi lembar uang di hadapannya. Sementara Ratih hanya mengamatinya dengan tatapan kosong.

===

*Endang S. Sulistiya, menetap di Boyolali. Alumnus FISIP UNS jurusan Administrasi Negara. Tujuh tahunan vakum, ia berusaha kembali ke dunia tulis menulis pada awal tahun 2021. Tergabung dalam Grup Diskusi Sahabat Inspirasi membuatnya selalu termotivasi untuk terus berkarya.

Pernah menggunakan nama pena Lara Ahmad lalu berganti menjadi Endang S. Sulistiya. Cerpen-cerpennya sudah cukup banyak yang mendapatkan kesempatan dimuat media lokal dan nasional.

1 thought on “Karma Mencari Jalan Pulang”

  1. Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 19 Februari 2023 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *