20 Agustus 2023
Yuki Onna
Oleh Sigit Candra Lesmana*

Sakamoto tiba-tiba merasakan udara dingin masuk dari sela-sela pintu. Menusuk-nusuk kulitnya dengan kedinginan yang tak masuk akal. Lebih dingin daripada musim dingin, padahal ini masih musim gugur.
“Apakah sekarang sudah turun salju?” ucap Sakamoto pada dirinya sendiri.
Sakamoto menggeser pintu dan menengok langit untuk mengecek apakah salju sudah turun di bulan Agustus ini. Terlihat pohon kesemek tua dengan daun-daun yang berguguran di halaman belakangnya. Tersinari cahaya purnama yang bersemu warna biru nan lembut. Seorang perempuan mengenakan kimono[1] putih bermotif bunga kesemek berwarna biru sedang melayang-layang. Mengelilingi pohon itu.
Rambutnya putih, seputih salju. Matanya sedikit bulat dengan kornea biru. Cahaya purnama menyelimuti sekujur tubuhnya hingga tampak bercahaya. Daun dan ujung dahan yang digenggamnya seketika kaku dan terselimuti oleh kristal es. Dia tampak riang bermain-main.
“Yuki-onna[2],” gumam Sakamoto.
Sadar kehadirannya tertangkap basah oleh Sakamoto, perempuan itu tak mampu menyembunyikan ekspresi kagetnya. Sebelum berubah menjadi butiran salju dan menghilang. Mata Sakamoto dan Yuki-Onna itu sempat bertemu. Memberikan kesan dan berbekas di hati Sakamoto.
Kehadiran Yokai[3] itu tak membuat Sakamoto takut atau ngeri. Justru, Sakamoto berharap dia kembali mengunjungi rumahnya. Rumah yang ditinggalinya sendiri sejak lima tahun yang lalu itu selalu sepi. Setelah kematian Mayu, istrinya. Dia tinggal berdua bersama sang anak, Ryuma. Namun, setelah lulus dari sekolah menengah atas, Ryuma pindah ke Tokyo untuk kehidupan yang lebih baik.
“Desa ini tak memberi banyak pilihan untukku, Ayah,” ucapnya kala menenteng sebuah tas lalu meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Sakamoto sebatang kara.
Sakamoto yang sudah pensiun dari pekerjaannya akhirnya mulai menekuni hobi baru. Beragam pepohonan dia kreasikan menjadi bentuk yang lebih kecil. Bonsai, begitu orang mengenal jenis hobi ini. Namun, hobi itu tak berjalan lama. Suatu hari dia mencoba untuk menjadi seorang pendaki gunung. Dia mendapat ilham setelah menonton tayangan di televisi dan kagum akan keindahan alam yang selama ini tak dia sadari. Tapi, itu juga tak berlangsung lama. Di depan hamparan keindahan alam yang tersaji, Sakamoto tetap merasa kosong. Seperti rumahnya saat ini.
Sekarang hari-harinya hanya dihabiskan untuk memandangi foto Mayu yang terletak di atas lemari kayu. Mayu begitu muda dan cantik di dalam foto itu. Rambutnya terkepang dua dan memakai seragam sekolah bergaya pelaut dengan rok panjang yang menjuntai ke bawah. Menutupi paha dan betisnya dengan sempurna.
Sakamoto mengutarakan keinginannya untuk menikahi Mayu saat duduk di pinggir sungai, di dekat kuil Shinto. Tak jauh dari sekolah mereka.
“Aku menyukaimu yang penuh semangat,” ucap Mayu.
“Jadi?” Sakamoto masih menanti kejelasan jawaban dari Mayu.
“Aku mau menikah denganmu,” Mayu melempar senyum lembut yang membuat wajah Sakamoto merona merah karena malu.
Di samping foto Mayu, terlihat foto Ryuma saat hari pertama masuk sekolah. Ryuma tersenyum manis, pipinya mengembang dan menggemaskan. Dia anak yang ceria saat masih kecil. Namun, sejak kematian ibunya, dia berubah menjadi pribadi yang tertutup. Bahkan tak banyak bicara kepada Sakamoto. Mayu adalah sosok yang amat penting bagi Ryuma. Sedangkan Sakamoto selalu sibuk bekerja. Bahkan akhir pekan jarang dilaluinya bersama keluarga.
Terdengar kembali langkah-langkah kecil pertama Ryuma. Tawa dan senyumnya melayang-layang dalam ingatan Sakamoto. Namun, kesunyian kembali datang. Menggeser pintu dan menusukkan belatinya ke dada Sakamoto. Dadanya nyeri saat kembali menyadari rumahnya saat ini kosong. Tinggal dia sebatang kara di usia kepala tujuh.
***
Saat purnama kembali bersinar, Sakamoto segera terbangun dari tempat tidurnya. Bulu kuduknya berdiri. Kulitnya kembali tertusuk rasa dingin yang tak masuk akal.
“Dia kembali.”
Sakamoto segera berlari menuju halaman belakang. Segera digeser pintu itu dan dugaannya benar. Yuki-Onna kembali, melayang-layang mengelilingi pohon kesemek yang daunnya semakin berguguran. Sama seperti malam itu, Yokai itu kembali mengenakan kimono putih bermotif bunga kesemek. Cahaya purnama kembali menyelimutinya, sehingga dia tampak bercahaya.
Dia melihat ke arah Sakamoto yang sedang duduk di pelataran. Kali ini, mata mereka bertemu cukup lama. Yuki-Onna tersenyum, Sakamoto sedikit terperangah sebelum turut melemparkan senyum. Senyum itu mengingatkan Sakamoto kepada senyum Mayu yang membuatnya jatuh hati dan memutuskan untuk menikahinya.
Yokai itu lalu turun perlahan. Mendekati Sakamoto. Kedua tangannya terjulur, Sakamoto menyambutnya. Hawa dingin membuat tangannya mati rasa, namun hatinya berdegup kencang dan penuh kehangatan.
Yuki-Onna duduk di samping Sakamoto. Angin malam musim gugur mengibarkan rambutnya yang berwarna seputih salju dan memantulkan sinar purnama yang membiru. Sakamoto yang terpesona lalu merebahkan diri di pangkuannya. Perlahan hawa dingin sedingin es merayap ke sekujur tubuh Sakamoto. Menembus kulit, memasuki dan membekukan aliran darah, lalu menghentikan detak jantungnya. Sakamoto menghembuskan nafas terakhir penuh kedamaian.
***
Esok harinya jasad Sakamoto ditemukan oleh anak tetangganya saat sedang memanjat pagar halaman belakang. Anak itu ingin mengambil bola bisbolnya yang melayang dan jatuh di halaman belakang Sakamoto. Orangtua anak itu kemudian menghubungi polisi. Jasad Sakamoto dievakuasi ke rumah sakit terdekat. Sakamoto meninggal karena gagal jantung yang disebabkan oleh kesepian. Begitu diagnosis yang dikeluarkan oleh rumah sakit.
“Kasus Kodokushi[4] Kembali Terjadi,” highlight yang tercetak di sebuah koran lokal keesokan harinya.
Jember, 04 Mei 2023
[1] Pakaian tradisional Jepang
[2] Sejenis mahkluk halus Jepang, dikenal juga dengan sebutan Gadis Salju, atau Peri Salju
[3] Mahkluk halus atau siluman
[4] Mati kesepian atau mati dalam kesendirian
==
*Sigit Candra Lesmana, pria kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Senang menulis artikel, puisi dan cerpen. Beberapa cerpennya menang lomba cerpen nasional dan dimuat di media cetak maupun online. Saat ini aktif berkegiatan di Forum Lingkar Pena Jember dan Prosatujuh. Instagram: @sigitcandral.
Sedih banget bacanya 😭😭😭