18 Februari 2024
BACALAH BAIK-BAIK CERITA PENDEK INI, DARI AWAL SAMPAI AKHIR
Oleh: Emur Paembonan S.*

Bukankah itu yang orang-orang inginkan?
Begitulah Dargi, sejak saat itu, ia tidak pernah menginap lagi di rumahnya. Meski setiap hari ia membawakan orang tuanya makanan dan minuman, dan melarang orang tuanya memasak, menggoreng atau apapun kegiatan dapur.
Setiap pagi, sebelum pukul delapan, Dargi sudah tiba di rumah orang tuanya. Membawa beberapa penganan; baik itu kue, bubur, nasi bungkus ataupun jajanan lainnya. Makan siang dan makan malam pun Dargi selalu bawakan untuk kedua orang tuanya.
Dargi melarang kedua orang tuanya mencuci pakaian pun menyetrika. Semua baju dan celana kotor orang tuanya dibawa Dargi ke binatu.
Orang tuanya pernah bertanya: “Di mana Dargi tinggal?”
“Tinggal sendiri. Kan sudah dewasa. Daripada tinggal di sini, saya dibilangin pengangguran. Di rumah saja, cuma makan, tidur, berak. Yang penting, saya dapat uang bukan dari hasil korupsi atau merampok.“
Dargi segera beranjak. Tak ingin lama-lama mengobrol. Orang tuanya tidak pernah bertanya lagi meski masih penasaran di mana Dargi tinggal dan dari mana dapat uang.
Seperti perkiraan Dargi, tidak sampai sebulan, semua keluarga dan teman-teman yang menganggapnya pengangguran menjadi heran, meski sekaligus kagum. Soalnya Dargi yang katanya punya profesi penulis itu sudah membayar listrik, rekening PAM, bahkan pajak rumah orangtuanya.
Setiap hari, ada saja dua remaja datang ke rumah orang tuanya; menyapu di dalam dan di luar rumah termasuk mengepel, membuang sampah, mencuci bak, menyiram bunga dan kadang mencuci pakaian dalam kedua orangtuanya. Semuanya digaji oleh Dargi.
Dargi juga masih mengantar ayah-ibunya ke mana saja, jika mereka sedang butuh. Namun jika Dargi tak bisa, maka Dargi menyiapkan ojek atau mobil grab.
Biasanya dalam seminggu, ada dua remaja pria menginap di rumah orangtuanya selama dua hari. Mereka dikhususkan membantu di malam hari; mengangkat air, memasak, mengunci pagar, mengurut jika diperlukan dan hal-hal lainnya. Semuanya digaji oleh Dargi.
Dan lebih membuat heran lagi, karena di antara keluarga dan teman-temannya yang menganggap remeh profesi penulis itu, ada yang seumuran bahkan lebih tua (adapula yang sudah menikah dan punya anak)—meski sudah ASN atau pekerjaan yang sudah pasti digaji sebulan—tapi masih tinggal dengan orang tua. Mereka kini tak berkutik.
Setahun berlalu, Dargi sudah tiga puluh tujuh tahun, belum menikah tapi sudah kebal dengan pertanyaan “Kapan nikah?”, meski masih banyak yang sewot namun tak berani mengutarakan langsung kepadanya.
***
Wanita itulah yang mengerti jalan hidup yang ditempuh Dargi. Memahami keputusan Dargi. Mendukung Dargi seratus persen, kalau perlu sejuta persen.
Seorang wanita yang dikenal Dargi di suatu sore, saat Dargi berolahraga di lapangan kecil seukuran lapangan futsal.
Saat itu, dua orang bule melintasi lokasi itu dengan berjalan kaki. Dan bertanya ke beberapa orang. Namun tak ada yang paham omongan si bule. Dargi turun mulut. Dia menunjukkan ke arah mana sebaiknya kedua orang asal Amerika Serikat itu melangkah.
Orang-orang kagum kepada Dargi, meski Dargi biasa-biasa saja dan melanjutkan lari-lari kecilnya.
Dargi tak memperhatikan bahwa saat itu ada seorang wanita memperhatikannya. Wanita itu duduk santai di gazebo. Tak lama kemudian, Dargi pun duduk di situ sambil meminum air putih dari botol yang sudah disiapkannya dari rumah.
Wanita itu mendekati Dargi dan mengaku melihat Dargi berbahasa Inggris dengan kedua orang Amerika itu. Dia meminta tolong kepada Dargi untuk menerjemahkan beberapa kalimat di sebuah artikel.
“Nanti saya bayar.”
“Maaf. Saya bukan penerjemah bayaran. Tapi ya, nanti saya coba menerjemahkannya,” kata Dargi setelah membuka sebuah tautan lewat ponsel androidnya.
Dargi bertanya kenapa tidak mencari tempat kursus. Tapi kata wanita itu, ia baru tinggal di kota ini. Dipindah tugaskan dari kantornya. Ia belum terlalu hafal jalanan di kota itu.
Mereka pun berkenalan dan sejak itu hubungan mereka makin lama makin akrab dan wanita itulah satu-satunya manusia di dunia ini—selain Dargi tentunya—yang tahu bahwa Dargi kerap menerjemahkan film-film berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia lewat situs subscene.com. Dargi juga kadang menerjemahkan film-film berbahasa Perancis, Spanyol, Italia dan film berbahasa non Inggris lainnya—setelah mendapatkan terjemahan Inggris-nya—ke dalam bahasa Indonesia.
Dan membuat wanita itu semakin jatuh cinta pada Dargi, sebab Dargi melakukan semua itu tanpa dibayar. Padahal Dargi bisa saja mengumpulkan puluhan juta dalam sebulan lewat kegiatannya itu.
Wanita itu pernah bertanya: ”Kenapa kamu melakukan hal itu?”
“Sebab saya juga sering men-download terjemahan orang lain untuk saya nikmati dan pelajari dan saya tidak membayarnya. Lagipula mereka juga menyediakannya semuanya dengan gratis,” jawab Dargi.
***
Wanita itu pun hamil hasil hubungan mereka di tempat kos si wanita yang juga sekaligus tempat tinggal Dargi selama itu. Lantas mereka memutuskan untuk menikah. Tapi mereka sulit menikah karena berbeda agama.
Sempat terpikirkan di benak mereka untuk menggugurkan kandungan. Tapi segera mereka tampik pikiran itu. Mereka memutuskan untuk keluar kota namun bukan juga ke kota tempat tinggal orang tua si wanita.
Lantas mau ke mana? Walau si wanita sudah memutuskan berhenti kerja. Lalu bagaimana dengan orangtua Dargi, jika mereka pindah keluar kota?
Memang, Dargi masih punya adik kandung yang sudah menikah dan punya anak dua. Namun sudah bertahun-tahun tinggal di luar provinsi, jauh di luar pulau, bersama suaminya.
Dalam keadaan membingungkan, di suatu malam, mendadak—di tempat kos si wanita—mereka kedatangan seseorang yang mengaku bisa membantu orang-orang yang ingin menikah beda agama.
Meski senang namun mereka masih diliputi keheranan, dari mana orang itu tahu masalah mereka. Si wanita bertanya. Lalu orang itu menjawab, “Dari cerpen yang ditulis kekasihmu ini,” sambil melihat ke si wanita lalu menoleh ke si pria penulis.
Lalu Dargi bilang bahwa ia memang sudah menulis cerpen itu, tapi belum mengirimnya ke media apapun bahkan belum pernah dia publikasikan di manapun, termasuk belum dia perlihatkan pada kekasihnya.
***
“Saya sedang menulisnya di ponselku,” kata Dargi pada kekasihnya di suatu malam. Dan dia memperlihatkannya pada sang pacar.
Si wanita lalu membacanya, dan tersenyum. “Ah! Dasar pengarang!. Bagaimana saya mau hamil? berhubungan badan saja belum pernah.” Dan mereka pun tertawa kecil.
===
*Emur Paembonan S. Lahir di Parepare, Sulawesi Selatan 1978. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di sejumlah media cetak dan digital, antara lain: Majalah Dunia Pendidikan, LenteraTimur.com, Radar Surabaya, ngemper.com. Buletin Jejak Literasi, pijarnews.com, magrib.id, Majalah Bhinneka dan media yang lain. Menulis juga di platform : kwikku.com