18 Februari 2024
Puisi-Puisi Titi Haryati Abbas
Oleh Titi Haryati Abbas*

Akulah Debu yang Ingin Memeluk Matahari
Telah meruah pada pekatnya mimpi
tentang sebongkah harap yang kusimpan diam-diam
yang sanggup dan memintal pelangi
lalu menembus cakrawala
Meski telah purba, kukepal semangat berserakan di kolong-kolong jembatan
punguti keping-keping nasib yang lusuh
bibirku hanya mampu senyumi kilau sosok yang tidak mampu terjamah
menertawakan keberanianku yang betah memintal mimpi
Pada subuh yang menggigil, kutepikan anganku
yang telah terbangkan sadarku akan dunia pijakku yang sebenarnya
aku hanya serupa sebutir debu yang ingin memeluk matahari
sementara cahayanya tak sedikit pun pernah sudi memberiku hangatnya
Cerita Perempuan Pemulung
Aku melihatnya tertatih memunguti nasib
di antara serpihan-serpihan keringat
yang mengalir pasi di tumpukan kardus usang
juga di plastik dan botol kumal yang menggunung
lalu rebahkan penat di pelataran dinding jiwa yang semakin ringkih
Telah berlembar lembar mimpi ia kais
demi menjangkau bintang yang telah purba ia rindui
telah berlaksa penat ia tepikan di dasar hati yang tak padam meringis
agar nestapa dan gulana segera tersibak berubah
Tidak, takdir ini bukan untuk disanggah
biarkan saja bergulir bersama semilir aroma yang menyengat
bahkan berbongkah-bongkah jijik telah ia tanggalkan
demi titah juang yang harus ia pikul sendiri
Dialah perempuan berbalut semangat membaja
yang hendak gemuruhkan lautan biru
yang hendak bentangkan keping-keping asanya
di kaki langit pada onggokan puing-puing yang terbuang
Di Penghujung Muara Doa-Doa Ibu
Semburat jingga sisa rembulan semalam
menyapamu berkemas benahi pagi
masih tampak gelayut kantuk di mata lelahmu
kau sibakkan begitu saja
demi sebuah asa yang terlanjur tertambat
di sela-sela penat meranggas
dan di antara senyum renyah tanpa jejak
hidup kamu usung semisal singgasana
menjaga kilaunya
menata indahnya
mengukir lekuk-lekuknya
menghalau debunya
Ibu,
tak henti kagumku meriak membuncah
pada detak waktu yang pecutkan harimu tanpa letih
gulirkanmu berpenggal-penggal inspirasi
seruakkan senandung musim semi
ketika hanya ada semerbak bunga di mana-mana
yang kamu hirupkan pada kelopak rindu di dada kami
anak-anakmu sang pendekap mimpi
“Bermimpilah, nak!
ibu pasti akan selalu menemanimu
mimpilah yang akan menggerakkan kelopak-kelopak hidup
tak perlu cemas atau pun takut
hidup adalah labirin berteka-teki
gelegarkan semangat keberanianmu
hirup rasa takutmu
gemerlap bintang kejora menunggumu
di penghujung muara doa-doa ibu”
ujar tulusmu abadi terapal melangit
Ayah
Butir-butir peluhmu telah bersenyawa di antara asa dan semangat
tiap kali kau sapa pagi dengan semangat berkepal-kepal
lalu kau deritkan kereta kehidupan di awal waktu
karena katamu, rezeki senantiasa tersenyum menyapa tetes embun pagi
Keluh kesahmu tersimpan rapi bahkan di nestapa gulanamu
karena derita pantang dipertontonkan, menurutmu
tak apa lusuhmu yang tampak
namun tegarmu tak akan goyah oleh hempasan badai
dan buatku paham, di sepanjang hidupmu kamilah penyemangatmu
Ayah, masa itu kini berserakan kembali dalam ruang ingatku
di antara zikir-zikir malamku, pun di antara sajadah-sajadah heningku
yang bersimpuh langitkan doa untukmu
tenanglah ruhmu di sisi asmaNya
Hari-hari seperti beku sejak langkahmu meninggalkan kefanaan
malam tak lagi hangat ditinggal olehmu
kecuali petuahmu yang abadi suluhkan jalan gelapku
dan buatku tetap terjaga, menapaki hidup yang tak lagi sempurna
===
*Titi Haryati Abbas adalah seorang guru di SMAN 2 Sinjai – Sulawesi Selatan, yang senang menulis. Beberapa antologi diantaranya; “Berguru Kepada Para Tokoh Muslim” (2014), Antologi Fabel Binatang Unik Dalam Al-Qur’an (2021), “78 Legenda Ternama Indonesia” (2022).