LiteraSIP

25 Februari 2024

Gerimis Senja Stasiun Kroya

Oleh Dody Widianto*

 

 

Dave, pada pagar tembok berlumut di samping stasiun batas jalan raya, pada tiang-tiang besi yang terus saja bisu menyangga atap dan tak pernah letih memanggul umurnya sendiri, pada bangku-bangku besi kosong di depan peron yang dipeluk dingin, pada gerimis senja yang meresap di gimbal dedaunan angsana yang berjajar di tepi karena belum dicukur, aku pernah bertanya padamu, “Setelah negara ini merdeka, selain melawan kemiskinan dan kebodohan, hal berat apa yang harus dilakukan generasi penerus selanjutnya? Kau bilang negara ini belum sepenuhnya merdeka?”

Aku ingat kapan terakhir kali kau bertanya bagaimana moral penerus negeri ini tergerus zaman. Baru saja kudengar kemarin di berita: anak perempuan masih SMP berduel dengan benda tajam. Tak tahu apa yang diperebutkan. Pacar? Atau harga diri karena memperebutkan seporsi seblak karena tak mau mengantre?

Ada berita seorang murid memarahi gurunya karena PR-nya terlalu berat. Lalu, seorang pemuda tak dibelikan ponsel terbaru tega membunuh ibunya. Entah setan mana yang merasukinya. Dan entah berita apa lagi yang seharusnya tak layak terjadi di negeri gemah ripah loh jinawi.

Dave, dulu sekali ketika hidupku begitu bebas karena hanya diisi acara makan, tidur, sekolah, dan bermain, jemariku pernah menahan perih ketika Pak Roso – guruku kelas 3 SD, menyabetkan bambu kecil semeter. Aku mengakui kesalahanku. Kami semua siswa dituntut hafalan perkalian dan pembagian, berurutan dari angka 1 hingga 10. Yang tidak hafal dan salah menjawab pertanyaan Pak Roso, mendapat hukuman.

Aku mengadu kepada bapak, tetapi selanjutnya yang terjadi aku malah mendapat tambahan jewer di telinga. Lalu kau tertawa,  Dave.

Hanya gara-gara diomeli guru karena terlambat 5 menit dan dihukum berdiri di lapangan setengah jam, orangtua siswa itu marah-marah dan datang membawa pengacara ke sekolah. Bilang anaknya tak biasa kepanasan dan selalu pakai AC di rumah. Orangtua murid itu mencecar gurunya dengan kata “penyiksaan”. Sekali lagi kau bilang, negaraku benar-benar lebay sekarang. Tidak hanya darurat moral, tetapi darurat segalanya.

Dave, pertanyaanku sekarang: apakah kau tak rindu padaku?

Lupakan jurnalmu tentang sistem pendidikan di negaraku. Aku sedang tak ingin berpikir berat-berat sekarang. Menahan rindu padamu saja sudah berat.

Aku tak ingin bertanya tentang keadaanmu di benua biru sana. Aku hanya ingin cerita kalau kampungku sekarang banyak berubah.

Jika nanti disetujui, wilayahku mengalami pemekaran dijadikan kota sendiri. Entah kapan. Namun, aku hanya ingin mengajakmu sekali lagi menaiki kereta bersama, di atas dua pasang rel yang selalu mesra berdua bersama, membelah perut bukit-bukit dan menyusur dada kali Serayu. Di kejauhan sana tampak bukit hijau anggun dengan aliran bening bercahaya di sampingnya. Kau akan perlahan menyandarkan kepala di bahuku padahal kau duduk di sebelah jendela. Kurasa semua laki-laki akan jadi anak-anak dan manja jika bertemu perempuan pujaannya.

“Rhien, kapan kamu libur kerja? Aku kangen makan getuk goreng di alun-alun Banyumas. Yang ada patung pesawatnya itu ‘kan? Aku sedang di Jakarta sekarang. Kujemput kamu. Lalu nanti kita petik kelapa muda di rumahmu Kroya.”

Di bagian “banywas” aku tertawa. Kau tak fasih mengucap kata Banyumas. Bahkan aku tersenyum geli ketika kau bilang “Kroya” menjadi “korea”. Ingin sekali menarik lidahmu agar lebih panjang dan kau bisa mengucapkan dan melafalkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan aku lebih terbahak ketika kau pertama kali mengucapkan “gethuk goreng” dengan suara mendengung di hidung seolah itu adalah lafaz idgham bighunah yang harus dibaca berdengung. Maka kubalas celotehmu itu ketika kita menikmati makanan lain di senja itu di tepi alun-alun.

What’s this?”

Hihang hoheng.”

Penjual pisang goreng itu tertawa. Aku tertawa. Dave, kau hanya garuk-garuk kepala. Wajahmu yang putih kemerahan dengan rambut pirang itu bingung.

“Nanti jika ada waktu aku main ke situ. Aku sedang sibuk. Sukses terus, Rhien. Lagi pula suara rinduku sudah terobati dengan suaramu di radio. Serius. Nanti kalau pas libur, aku akan main ke Kroya. Kalau dari Purwokerto ke Cicalap tak perlu paspor dan visa bukan?”

Dave, semoga kau tak melarangku tertawa karena mendengar suaramu di telepon. Cicalap? Cilacap, Dave.

Duh, harus sampai berapa tahun mengajarimu berbahasa yang baik dan benar. Padahal tubuhmu lebih tinggi dan kekar, tentu saja lidahmu lebih panjang bukan? Aneh.

Hari Selasa depan aku libur, Dave. Rencana setelah pulang siaran aku akan pulang ke Kroya dari Purwokerto. Bibi tak mengizinkan naik motor. Sejujurnya, naik kereta hanya akan menambah rinduku bertambah-tambah, apalagi ketika bahuku kau buat tumpuan tepat sebelum masuk stasiun Kebasen. Entah apakah aku bisa menghapus ingatan di bagian itu jika Tuhan tak mengizinkan kita bersama. Semoga saja hal itu tak pernah terjadi.

“Dave?”

“Maaf, ini siapa?”

“Aku ‘Brian’. Dave sedang keluar. Siapa? Dari mana?”

“Rhien. Indonesia. Mau bicara sebentar dengan Dave.”

“Kamu siapa? Aku pacarnya. Boyfriend, you know.”

Suara ponsel di kejauhan menandakan jika segalanya memang harus berakhir di sini. Dua besi rel kereta selalu seiring sejalan, tetapi ia tak akan pernah bersatu dan bertemu. Barangkali seperti itu takdirnya. Sudah tiga kali aku menjalin cinta dengan laki-laki dan seperti sebuah kutukan, semuanya harus berakhir. Dave memang pernah datang dan mengisi hari-hariku ketika aku tak sengaja bertemu dengannya di stasiun Kroya saat gerimis senja. Ia kebingungan mencari alamat dan kutunjukkan arahnya. Dari sana segalanya bermula. Kulangkahkan kaki keluar stasiun dalam dada sesak.

“Apa yang telah kau lakukan untuk generasi muda demi kemajuan negara ini?” Dave pernah bertanya lembut di depanku.

Aku memang belum mampu melawan kemiskinan dan kebodohan, tetapi setidaknya aku telah berusaha melawan kegalauan anak-anak muda yang mendengar suaraku lewat gelombang radio. Mengobati segala rasa sakit hati dan kesedihannya dengan suaraku yang mengudara di angkasa. Dave, dulu kita pernah bersama. Sekarang lebih baik kita memilih jalan yang berbeda.

Di atas stasiun Kroya, yang terlihat selanjutnya hanyalah langit di atas sana yang tetiba memerah tembaga, mengubah gerimis jadi air mata. (*)

 

===

*Dody Widianto. Lahir di Surabaya. Menetap dan bekerja sebagai abdi masyarakat di Purworejo, Jawa Tengah. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Tuban, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Rakyat Sultra, Suara NTB, dll. Silakan berkunjung ke akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *