25 Februari 2024
Puisi-puisi Agus Widiey
Oleh Agus Widiey*

Elegi Laut
Laut itu luas, anakku
tak ada batas.
ombaknya bebas berderu,
ke segala penjuru.
Di sana,
ikan bernafas lega,
karena warnanya jernih terjaga.
Di sana pula,
layar perahu mengembang,
mengikuti mata angin dan gelombang
Laut menampung garam kehidupan
asin, tapi penuh makna.
meragamkan warna harapan
tanpa harus menyeragamkan
yang ada,—di dalamnya.
Tetapi hari ini, ibu
laut makin berantakan
dimakan kepentingan
dan nafsu penghabisan.
Yogyakarta, 2023
Kepada Ibu
–Minatun
Demi hari-hari yang berlari
kukenang kasihmu, ibu
dengan racikan bahasa
Sebagaimana engkau dulu;
yang tabah menyorong kayu
di antara kepulan asap tungku.
Ibu, bagaimana rindu bisa matang
sementara jarak masih membentang
hingga dewasa ini
sunyi terasa mentah di hati.
Kepulanganku, ibu
sudah tertunda berkali-kali
tunggal bayanganmu
melintas di ruang pikiranku.
Di sini, ibu
semata wayang harapanmu
diancam bermacam kegagalan
ditindih beragam godam kesepian
Tapi dengan membayangkanmu, ibu
nyaliku menyala sebagaimana engkau dulu:
menghidupkan tungku, dan mematangkan kedewasaanku.
Yogyakarta, 2024
Di Malioboro
Malam ini, Ibu
gerimis perlahan raib
ia seperti membasahi nasib
pada setiap jalanan berdebu
yang setiap celah batu-batu
menyimpan harapanku.
Samar-samar kudengar sebuah lagu
yang mengingatkanku pada masa lalu
Di sini, Ibu
keistimewaan masih terjaga
meski ada juga kesedihan
tapi ketenangan tak kunjung terbenam.
Yogyakarta, 2023
Zeus
Mengapa cuaca makin tak teratur, Zeus
hujan yang gagal turun hanya menyisakan suara guntur
seperti menautkan kepedihan demi kepedihan ke dada
sedang daun gugur menimbun serakan masa lalu.
Mendung raib di atas mawar
Maka berikan kepada kami bukti,
bahwa alam ini dapat kau kendalikan
sesuai apa yang kau harapkan
sebelum kami kehilangan kehidupan.
Tiba-tiba matahari jadi memar.
Tapi jika benar, kau dapat mengendalikan musim
doa macam apa yang harus kami kultuskan
agar tak ada kekecewaan yang tertanam
atau palu Dewa Thor masih sering dicuri?
Yogyakarta, 2024
===
*Agus Widiey, Lahir di Sumenep 17 Mei. Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis dan Resensi. Tulisannya tersebar diberbagai surat kabar seperti, Tempo, Rakyat Sultra, Sastra Media, Lombok Post, Nusa Bali, Banten Raya, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat dll. Pernah menjuarai lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Sekarang menjadi anggota komunitas Damar Korong (DK) Sumenep.