3 Maret 2024
Suatu Malam di Panggung Langit
oleh: Reni Asih Widiyastuti*

Aku tidak tahu, kelak suatu malam namamu terus menerus digumamkan. Jadi aku membiarkan rasa ketidakpedulian mengungkung hati. Padahal, mereka begitu mengagumi sosokmu yang sangat ramah, ringan tangan, dan peduli kepada sesama, terutama orang tua. Namun, aku justru tak menaruh sedikit pun rasa simpati kepadamu. Entahlah, lebih baik fokus menuntut ilmu daripada memikirkan hal lain yang belum tentu membawa kebaikan.
Bukannya aku tak ingin mencari tambatan hati, tetapi menempuh pendidikan S2 di negeri orang seperti ini tentu tak mudah. Jangan menyia-nyiakan kesempatan dan bermain-main saja, tekadku kepada diri sendiri. Jodoh pasti bertemu. Jadi tak perlu risau, sebab Tuhan akan menghadirkannya di waktu dan kondisi yang tepat. Meski memang harus diiringi dengan usaha dan doa. Namun, Tuhanlah segala penentunya.
Kumar, begitulah kau biasa dipanggil. Kau lahir dan besar di negeri ini. Namun, yang begitu mengejutkan adalah kau bisa berbahasa Indonesia, walau tidak terlalu lancar. Beberapa kali kita sempat bertegur sapa, tetapi tak ada sesuatu yang terjadi pada hatiku. Biasa saja. Sungguh berbeda dengan kondisi para perempuan itu setelah seolah terhipnotis oleh paras tampanmu.
“Tatapannya sangat teduh, Alka. Jantungku terasa hampir lepas dari sarangnya karena berdegup begitu kencang,” ucap Asha suatu ketika setelah tak sengaja bertabrakan denganmu.
Asha, ia adalah sahabat baikku yang juga menjadi salah satu di antara para perempuan pemuja Kumar. Aku tak terlalu menanggapi serius ceritanya kala itu. Sekadar mendengarkan dengan khidmat sebagai bentuk menghargainya. Ungkapan kegilaan dari para perempuan lain terus saja mampir di telingaku. Sampai suatu ketika, tiba-tiba saja Kumar mendatangi dan mengajakku ke Sungai Gangga.
“Sungai Gangga mengandung nektar keabadian, Alka. Maukah kau menemaniku ke sana? Tenang saja, kau tak perlu takut. Gangga tak sekejam sungai yang sedang riuh diberitakan. Para pewarta hanya melebih-lebihkan supaya negara lain ramai mengolok-olok negara ini. Aku hanya ingin menunjukkannya kepadamu.”
Sayangnya, tak ada jawaban atas pertanyaan maupun pernyataan itu. Aku memilih diam, lantas pergi meninggalkan Kumar begitu saja. Asha mengetahui bahwa aku menolak ajakan Kumar. Ia berulang kali membodoh-bodohkanku. Bisa-bisanya menampik lelaki yang digilai begitu banyak perempuan. Aku hanya bergeming tanpa berusaha melawan ocehannya. Tidak penting. Toh Kumar justru tersenyum dan terlihat menerima saat ia berlalu dari hadapanku. Bukan suatu masalah besar.
Sehari setelah kejadian itu, Kumar tidak menampakkan batang hidungnya. Aku bersikap masa bodoh dan menganggapnya sedang sakit atau ada kepentingan keluarga. Namun, beberapa hari ke depan, ia masih saja belum terlihat beredar di kampus. Para perempuan pemujanya mulai bertanya-tanya, di manakah ia berada. Tak tahan dengan kebisingan suara mereka, aku pun diam-diam mendatangi Gangga—sungai suci itu. Barangkali, seseorang pernah melihatnya di sana akhir-akhir ini.
Malam ini—setiba di Sungai Gangga, aku terkejut karena namamu begitu ramai disebut. Bahkan di salah satu sudut gelap terlihat sekumpulan orang—yang kuterka adalah sebuah keluarga. Menangis sambil berpelukan satu sama lain. Rasa penasaran menyelubungi hati hingga langkah tergerak untuk mendekat. Saat jarakku dengan sekumpulan itu hanya sekira lima meter, aku benar-benar mengerti kenapa mereka menangis.
“Aku sungguh tak mengira Kumar benar-benar pergi meninggalkan kita semua dengan cara mengerikan. Kenapa bukan aku saja yang Kaugantung, ya, Dewa,” ratap seorang perempuan tua yang kutebak ia adalah ibunya Kumar.
“Tak perlu menyesali semua yang telah terjadi. Ini sudah kehendak Tuhan. Kita tak usah menyalahkan orang lain.”
“Tapi Kumar melakukan itu karena patah hati. Kau lihat sendiri surat yang dia tinggalkan di atas meja, kan? Kita harus buat perhitungan dengan perempuan itu. Semua ini terjadi karena dia!”
“Cukuplah. Jangan begitu. Ikhlaskan saja. Kita juga sudah melarung abunya di sini. Kumar tentu tidak ingin kita meributkannya.”
Mereka semakin erat dalam pelukan. Barangkali menerbangkan doa di atas panggung langit sana. Aku ikut melaungkan doa. Mungkin saja Kumar patah hati karena aku.
Semarang, Juni 2022-Januari 2024
===
*Reni Asih Widiyastuti kelahiran Semarang, 17 Oktober 1990. Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini telah dimuat di berbagai media, seperti: Kompas Klasika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Harian Rakyat Sultra, Suara NTB, Padang Ekspres, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Kabar Madura, Harian Singgalang, Medan Pos, Harian Analisa, Harian Sinar Indonesia Baru, Waspada, Bali Post, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Tanjungpinang Pos, Pontianak Pos, Bangka Pos, Majalah UTUSAN, Majalah JAYA BAYA, Majalah Djaka Lodang, Majalah Swaratama, Tabloid TARGET Makassar, Tabloid Pendidikan EDUKATOR, magrib.id, ceritanet.com, harakatuna.com, barisan.co, Maarif NU Jateng, dan Ruang LiteraSIP. Buku tunggalnya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam (Stiletto Indie Book, Juni 2019) dan Pijar (LovRinz Publishing, Maret 2022).