11 Februari 2024
Lelaki yang Pergi Mencari Cintanya
Oleh Aldi Rijansah*

Di sanalah aku menemukanmu, dalam keramaian yang membingungkan dan menyesakkan. Berdiri di tengah kerumunan tawar-menawar manusia. Rambutmu terikat ekor kuda dan hitam serupa batu bara. Lalu dalam sekejap kamu lenyap. Hilang. Bagai asap diterbangkan angin.
Panik karena kehilangan sosok dirimu, aku mencari-cari ke segenap penjuru pasar itu. Ke bagian sayur yang hijau dan layu. Ke bagian ikan yang penuh sisa sisik dan bau amis. Ke bagian daging yang penuh organ dalam dan warna merah. Ke bagian pakaian yang penuh celana jeans dan obral murah. Sia-sia. Tak berhasil aku menjumpaimu kembali. Sejak itulah usaha pencarianku untuk menemukanmu bermula.
Aku mulai bertanya ke setiap orang yang kebetulan kutemui. Kepada pembeli, penjual culas, pencopet, pengemis korengan, preman tukang palak. Tentang seorang perempuan dengan ciri-cirinya yang adalah kamu sendiri. Mereka menatapku heran bagai aku seorang yang dungu, karena menanyakan mengenai seseorang yang penampilannya serupa banyak perempuan lain. Padahal telah kuterangkan bahwa ciri-ciri yang kuberikan mengenai dirimu tak mungkin keliru.
Tak mau kalah, mereka lanjut menyuruhku melupakanmu. Menuduh dirimu cuma sekadar hantu atau jin atau jelmaan yang tak sengaja aku lihat. Tapi aku tak sudi percaya. Siapalah mereka yang menuduhmu tak nyata, padahal melihat setan yang selalu mereka takuti saja tak pernah. Maka kembali kucari dirimu ke segala penjuru. Tak akan berhenti hingga ketemu.
Setiap hari kukunjungi pasar ini kembali. Menunggu di gerbang masuknya guna menyambut jika kamu kebetulan muncul. Dan ketika telah bosan menunggu, aku masuk ke kerumunan orang-orang. Mungkin saja kamu sedang menyamar dan memainkan coba temukan aku untuk menambah rasa misteri yang melekat pada dirimu. Maka aku pun mencarimu dari manusia satu ke manusia lain. Dari sudut yang ini ke sudut yang sana. Nihil. Kamu tetap tak ketemu. Agaknya kamu memang seorang ahli penyamaran dan sembunyi-sembunyi.
“Coba kau pergi ke sana.” Hingga seorang lelaki tua pemungut sayur-sayur busuk terbuang yang melihat kegusaranku, menyarankan agar aku menemui seorang peramal yang menerima pelanggan hanya setiap malam ketika semua toko lain menutup pintu. Aku pun menunggu hingga malam memuntahkan siang. Saat semua orang telah pulang dan kini hanya aku seorang diri di pasar itu.
Dan di sinilah aku kini. Tengah berhadapan dengan si peramal yang setengah wajahnya tertutup kain hitam dan cuma menyisakan rambut panjang gelap tergerai dan dua pasang mata yang serupa tatapan seekor harimau buas.
Tak dapat kuterka usianya, apakah ia dibawah atau diatasku? Atau barangkali dia sepantaran dengan diriku juga.
“Bagaimana menemukan yang aku cari?” tanyaku langsung.
Agaknya ia agak tersinggung dengan pembawaan diriku yang tanpa basa-basi, sekejap dapat kulihat matanya berkedut.
Ia tetap diam, hanya memandangku lekat-lekat entah kenapa. Membuatku tak nyaman dan tak sabar.
“Apa yang kau tunggu, segera keluarkan kartu tarot atau bola kacamu,” suruhku.
Ia makin kelihatan tak senang.
“Kau terlalu banyak menonton TV,” balasnya datar.
Detik itu juga aku sadar bahwa peramal ini tidak berasal dari negeri kita, tetapi dari negeri-negeri jauh di Asia Selatan sana.
“Tak kusangka aku akan meminta seseorang dari negeri jauh untuk minta bantuan.”
“Jika kau keberatan,” ucapnya dengan aksen yang kelewat kental sambil memandang sinis. “Kau bisa keluar.”
Aku mendengus lebih sinis dan membalas hanya akan pergi setelah ia membantuku menemukanmu.
***
Di sinilah aku sekarang, di atas perahu yang dihanyutkan oleh arus sungai untuk dibawa pergi entah ke mana. Ke negeri para liliputkah? Atau ke Neverland tempat semua hal ajaib berada dan tak menua? Atau hanya ke ujung dunia, tempat air laut jatuh ke kehampaan yang tak berdasar—seperti yang diyakini para Penganut Bumi Datar itu. Entahlah.
Sejak si peramal mengatakan untuk melupakanmu, serta menawarkan dirinya sendiri. Aku menghardiknya sebagai penipu yang hanya cari kesempatan dalam kesempitan. Ia adalah orang terakhir yang kutanya perihal dirimu. Selepas itu aku berkelana ke seluruh penjuru negeri yang kebetulan kusinggahi. Bukan hanya ke tempat para manusia berdiam, juga ke wilayah-wilayah yang terlarang dikunjungi. Tapi kau tak di sana. Tak juga di mana pun.
Ketiadaanmu membuat siangku tak lagi terang dan malamku jadi lebih kelam. Aku terkatung-katung di tepi antara hidup dan tak hidup. Aku hanya setengah hidup. Ragaku berada di dunia, tapi tidak dengan jiwaku yang terikat padamu.
Bertahun-tahun aku berusaha menemukanmu, tapi kamu seolah fatamorgana yang jauh dan tak teraih. Yang hanya memberiku harapan palsu tanpa pernah memberi kesempatan untuk bertemu kembali.
Selama pencarianku ini, telah kucoba melupakanmu melalui para perempuan lain, yang cantik dipandang, yang asyik diajak berbincang, yang nikmat kuajak naik ranjang. Tapi apa daya, bayang-bayang dirimu seolah merasuk dan menimpa rupa para perempuan yang kuajak memadu kasih ini. Tanpa kusadari, mungkin kewarasanku telah sangat berkurang. Aku telah jadi gila. Gila yang tak terselamatkan lagi.
Oh Cintaku, kapan aku berpeluk mesra dengan cintaku.
Oh Cintaku, tak dapatkah kamu menjelma jadi nyata, tak hanya jadi sosok di dalam mimpi.
Agar orang-orang berhenti mengolok-olok bahwa kamu tak nyata dan aku bukan sekadar lelaki gila yang dibuat patah hati oleh sosok yang tak pasti.
===
*Aldi Rijansah. Lahir di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Cerpen-cerpennya telah tayang di media cetak maupun digital. Bisa diajak berteman melalui Instagram: @aldi_saja04.