29 Oktober 2023
RUMAH BAGI MAMA’
Oleh Titi Haryati Abbas*

Kak Afif, tolong ke sini ya hari Ahad nanti. Sepertinya Mama’ drop lagi. Linda takut terjadi apa-apa dengannya.
Pesan yang masuk melalui ponselku hari itu mengacaukan pikiranku. Itu kabar tentang mama’ yang kondisinya kembali menurun. Padahal seingatku, baru dua minggu yang lalu aku menjenguknya di rumah Linda, adikku.
Saat itu, Linda mengabariku hal yang sama, mama’ sakit. Selama beberapa hari ia lebih banyak diam dan tak ada selera makan sama sekali.
Datang ya, kak. Mungkin mama’ membutuhkan kamu, kembali chat dari Linda masuk.
“Ma’, bagaimana sebenarnya perasaanta’?” saat itu kutangkap sinar matanya yang meredup.
Perempuan terkasih itu menggeleng. Pandangan matanya menerobos jauh ke hatiku. Begitulah yang kurasakan ketika tatapan mata kami bertemu.
“Mama’ ingin pulang, Fif. Mama’ rindu kampung. Hanya itu,” katanya mendesah.
Kata-kata yang selalu kudengar dari bibirnya. Aku dan Linda menganggapnya sebagai hal yang wajar jika kata-kata seperti itu selalu diucapkan orang tua yang jauh dari kampung, sanak keluarga dan kerabatnya.
Tak ada yang kami lakukan kecuali menghiburnya, melayaninya setulus hati serta sering-sering mengajaknya bercerita. Itulah bentuk kasih sayang kami kepadanya sebagai anak yang ingin berbakti.
“Ma’, ini kan rumahta’ juga. Rumah kami, rumah Mama’ juga. Jadi, Mama’ jangan lagi selalu berpikir untuk pulang ke kampung. Kami ingin merawat Mama’,” tak bosan-bosannya kami mengatakan itu padanya agar ia mengerti niat tulus kami.
Mama’ pun tenang tampaknya setelahnya. Ia pun mulai banyak tersenyum. tentu saja kami lega melihatnya.
Namun ternyata hal itu hanya bertahan sebentar saja. Beberapa waktu setelah itu, mama’ kembali seperti sebelumnya, meminta untuk pulang ke kampung lagi. Dan kalau sudah seperti itu, mama’ seperti tak punya semangat hidup. Selalu tampak termangu dan termenung sendiri.
“Apa tidak sebaiknya kita mengikuti saja keinginan mama’, kak?” lama kelamaan Linda iba juga melihat kondisi mama’ seperti itu.
“Tapi dengan siapa mama’ di sana nanti? Kita berdua, anak-anaknya, tinggal di sini. Apa kita tega membiarkannya hidup sendiri di kampung?” tanyaku resah.
Bukannya tanpa alasan kami memboyong mama’ kemari bersama kami. Sejak Linda, adik perempuanku, menikah dan mengikuti suaminya ke kota, mama’ mulai sering sakit-sakitan. Usianya yang semakin tua ditambah keadaannya yang harus menjalani hidup sendirian semakin memperburuk keadaan.
“Bagaimana, kak? Aku takut akan terjadi apa-apa dengannya jika kita terus menerus menahannya bersama kita di sini,” kembali Linda mendesakku.
Aku terdiam, bingung harus memutuskan bagaimana sebaiknya. Wajah pias mama’ tiba-tiba saja berkelebat di kepalaku. Ada perasaan iba dan tidak tega menelusup ke ruang pikirku. Aku berada di antara dua pilihan, dan aku betul-betul harus membuat pilihan yang tepat.
***
“Benarkah apa yang kalian katakan? Mama’ tidak salah dengar, kan?” ekspresi keterkejutan sangat jelas terlihat di raut mukanya saat kusampaikan bahwa akhirnya kami akan menuruti keinginannya untuk kembali ke kampung dan menetap di sana.
“Rasanya tak sabar ingin segera sampai di sana. Mama’ sudah sangat rindu dengan keadaan rumah, kampung kita dan semuanya yang ada di sana,” katanya tersendat.
Mungkin karena dikuasai oleh perasaan haru, mama’ tak dapat menahan air matanya. Bicaranya menjadi terbata-bata. Aku semakin iba melihatnya. Ternyata keputusan membawanya ikut ke kota Daeng ini bukanlah keputusan yang tepat buatnya. Aku dan Linda semakin merasa bersalah jadinya.
“Kami akan mengantar Mama’ ya? Jadi mama’ sabar saja dulu,” kataku meyakinkannya.
Mama’ mengangguk bahagia. Baru kali ini aku manyaksikannya sebahagia itu. Keputusanku semakin bulat, pulang ke kampung memang jalan yang terbaik untuknya.
***
Perjalanan panjang yang harus kami tempuh untuk sampai di kampung, Sinjai, yang jaraknya kurang lebih 200 kilometer dari kota Daeng, sama sekali tak mempengaruhi stamina mama’.
Ia tetap saja memperlihatkan wajah bahagiamya. Sama sekali tak tergambar gurat-gurat lelah di wajahnya. Mungkinkah karena suasana perasaannya yang tengah diliputi rasa senang karena sebentar lagi keinginannya akan segera tercapai?
“Rasanya tak sabar ingin segera sampai di rumah. Mama’ sudah sangat rindu,” kata-katanya tentang rindu rumah, tak putus-putusnya ia ungkapkan.
“Sabar ya Ma’! Sebentar lagi kita akan sampai,” dengan telaten Linda menenangkannya.
Mama’ mengangguk berkali-kali. Sorot matanya berbinar-binar. Semakin jelas tersirat kegembiraannya.
“Kamu tahu nak, bukan rumah semata yang Mama’ rindukan. Tetapi kenangan yang tertinggal di sana terlalu banyak untuk Mama’ abaikan begitu saja. Terutama kenangan bersama bapakmu,” seketika suaranya memelan.
Aku terhenyak. Seperti baru tersadar akan sesuatu yang sangat penting, sebuah momen yang selama ini tak pernah kuperhitungkan sama sekali.
Diam-diam aku semakin dihimpit perasaan sesal dan bersalah. Jadi ini jawabannya, mengapa mama’ tak pernah betah tinggal bersama kami di Makassar yang notabene berjarak sangat jauh dengan kampung halaman.
“Maafkan kami ya, Ma’!” kataku menahan perasaan sesak yang tiba-tiba menyerang.
“Mama’ masih selalu merasakan bapakmu ada di sana menunggu Mama’ datang menemaninya,” Mama’ terus saja berbicara seperti tak mendengarkan ucapanku barusan.
Aku semakin dihimpit perasaan bersalah jadinya. Kegalauanku semakin menjadi. Baik Linda maupun aku, akhirnya diam membisu menjelang semakin dekatnya kami tiba di Sinjai. Satu yang bisa kupastikan, kami berdua dililit perasaan menyesal dan bersalah karena tak pernah mencermati keadaan yang membuat mama’ demikian.
“Ma’, kita sudah sampai.” Linda memberitahu mama’ yang sedang terkulai di sampingnya. Mungkin ia kini kelelahan, pikirku.
Akhirnya kami tiba di kampung yang sudah lama mama’ rindukan.
“Ma’, bangun Ma’! kita sudah sampai di rumah.” Linda mengulangi kata-katanya karena mama’ tak juga menunjukkan tanda-tanda untuk bangun. Posisinya masih bersandar di kursi dalam keadaan seperti tertidur.
Melihat mama’ yang tak juga bangun dari tidurnya, aku tiba-tiba panik. Aku segera ke tempatnya yang masih juga diam tak bergerak.
“Ma’. Lihatlah, itu rumah kita!” kataku mencoba ikut membangunkannya.
Lama aku menunggu gerakannya, tapi tak terjadi apa-apa. Aku dan Linda saling bertatapan. Ada yang terasa lepas seketika saat kami akhirnya yakin bahwa mama’ akhirnya telah menemukan rumah yang selama ini ia rindukan.
***
Keterangan
- Mama’ : Panggilan umum semakna ibu bagi orang Bugis Makassar
- …ta’ : Sapaan kepada orang yang lebih tua, sapaan kepada orang yang
dihormati dalam dialek bahasa Bugis Makassar
===
*Titi Haryati Abbas adalah seorang guru di SMAN 2 Sinjai – Sulawesi Selatan, yang senang menulis. Beberapa antologi yang sudah dihasilkan diantaranya; “Berguru Kepada Para Tokoh Muslim” (Diva Press, 2014), Antologi Fabel Binatang Unik Dalam Al-Qur’an (LovRinz Publishing, 2021), “78 Legenda Ternama Indonesia” (Elex Media Komputindo, 2022)