LiteraSIP

Puisi

Puisi-Puisi Yoga Dzulkarnain

11 Desember 2025 Puisi-Puisi Yoga Dzulkarnain Oleh Yoga Dzulkarnain*     Memoar Pertemuan Barangkali memoar yang kutata di meja subuh adalah hadiah paling mewah dari tangan-tangan waktu sebab, detak dan detik yang kupelihara tanpa jumawa memberi kehangatan dekap tuhan atau inikah bala baik orang-orang yang kutolong dari keheningan jantug malam kala itu, kita saling termangu …

Puisi-Puisi Yoga Dzulkarnain Read More »

Puisi-Puisi Cahaya Daffa Fuadzen

30 November 2025 Puisi-Puisi Cahaya Daffa Fuadzen Oleh Cahaya Daffa Fuadzen*     Dongeng Belom Bahadat Pada sebuah lantunan sempuri purba aku simak sangat suara Kai Piduka. “Belom Bahadat, anakku, ialah tubuh adat bagai rajah iban melekat di atas kulit dadamu.” Kai Piduka begitu masyuk membalada serupa sekumpulan kayu bakar datang membawa sebuah kabar. “Belom …

Puisi-Puisi Cahaya Daffa Fuadzen Read More »

Puisi-Puisi Zajima Zan

23 November 2025 Puisi-Puisi Zajima Zan Oleh Zajima Zan*     Rakam Aku temukan Rakam, desa yang lahir dari suara seorang perempuan pada subuh yang masih muda. Dalam hatiku, dunia sedang diperbaiki ulang oleh Tuhan; Bila cinta sebening langit, maka yang kutemukan di desa itu adalah perintahnya; “bangun! dunia sedang mencatat namamu.” suara yang kemudian …

Puisi-Puisi Zajima Zan Read More »

Puisi-Puisi De Eka Putrakha

2 November 2025 Puisi-Puisi De Eka Putrakha Oleh De Eka Putrakha*     Melarut Kalut malam kian hitam kesunyian merajam larutkan secawan dendam kekalutan merangkul tiada sebentuk pelukan tak lain hanyalah bujukan tumpah sepahit kopi sesakit sepi katanya lantas terbiar merana mengalir—mengering : terlelap terbaring 08.06.2025   Terdiam Kata di Tepian Cangkir merenung pada malam-malam …

Puisi-Puisi De Eka Putrakha Read More »

Puisi-Puisi Maria Utami

26 Oktober 2025 Puisi-Puisi Maria Utami Oleh Maria Utami*     Gerimis Kenangan di Toples Kaca Di dalam dadaku, ada sebuah toples kaca bening. Ia tak lagi berisi kunang-kunang, melainkan gerimis kenangan yang turun tanpa henti, membasahi dinding-dindingnya dengan rindu yang hening. Setiap butir gerimis jadi rekaman masa kecil: tentang aroma tanah basah sehabis magrib, …

Puisi-Puisi Maria Utami Read More »

Puisi-Puisi Diana Rustam

19 Oktober 2025 Puisi-Puisi Diana Rustam Oleh Diana Rustam*     Sunyi yang Tersisa Di sudut malam ada sepotong cahaya lampu jalan yang tak pernah lelah menunggu. Ia berdiri sendirian menyaksikan orang-orang lalu-lalang tanpa sempat menoleh padanya. Aku ingin seperti lampu itu: tetap berdiri di sana meski tak ada siapa pun yang benar-benar peduli apakah …

Puisi-Puisi Diana Rustam Read More »

Puisi – Puisi S. Sigit Prasojo

12 Oktober 2025 Puisi – Puisi S. Sigit Prasojo Oleh S. Sigit Prasojo*     Bayang di Air Petang tiba tanpa suara, hanya pantulan langit di permukaan air yang perlahan berubah warna. Aku melihat diriku di sana— tak utuh, bergetar karena angin, tapi tetap mencoba tenang meski tak tahu arah riak selanjutnya. Barangkali hidup seperti …

Puisi – Puisi S. Sigit Prasojo Read More »

Puisi – Puisi Moehammad Abdoe

5 Oktober 2025 Puisi – Puisi Moehammad Abdoe Oleh Moehammad Abdoe*     Kitab Keempat Perihal Gusi Domba Telah dibunyikan gong dari bahan taring ular dan bulan takzim menetes lewat sela genting tua di halaman bekas ladang kuaci dan ceracau nenek moyang tergolek seekor domba berbulu seputih frasa yang belum sempat diucap nabi ia mengunyah …

Puisi – Puisi Moehammad Abdoe Read More »

Puisi-puisi Indri Anggraeni

28 September 2025 Puisi-puisi Indri Anggraeni Oleh Indri Anggraeni*     Kenapa Tak Ada Kata ‘Rumah’ di Silsilahku aku mencari namaku di lembar-lembar tua, tapi hanya menemukan alamat yang disilang, tanda tangan yang buram, dan tanggal pindah yang ditulis tergesa, seolah hendak lari dari sejarah. ibuku berasal dari gerobak soto yang tak pernah menetap, ayahku …

Puisi-puisi Indri Anggraeni Read More »

Puisi-Puisi Mentari Eka

21 September 2025 Puisi-Puisi Mentari Eka Oleh Mentari Eka*     Paragraf Tua Sebagai paragraf tua yang huruf-hurufnya mulai menciut, tiada lain yang kau inginkan selain datangnya titik. Kalimatmu telah purna menyampaikan seluruh makna. Meski terbaca getir di sepanjang goresannya. Ialah anakmu, yang kau harap datang membawa pena. Bukan untuk menambah lembar, tapi agar paragraf …

Puisi-Puisi Mentari Eka Read More »