LiteraSIP

Puisi

Puisi-Puisi Anindita Buyung

7 September 2025 Puisi-Puisi Anindita Buyung Oleh Anindita Buyung*     Tempuh /1/ mari kita mulai perbincangan dengan melupakan hujan yang berhenti doa-doa urung disiarkan pelantang sementara azan mulai berkumandang bumi siap menangkap langkah yang kembali lekas atau tubuh yang akhirnya rebah didekap tanah di pelupuk mata tumbuh bayang-bayang dari seluk hati yang menyerah atau …

Puisi-Puisi Anindita Buyung Read More »

Puisi-Puisi Agrus Riyan

31 Agustus 2025 Puisi-Puisi Agrus Riyan Oleh Agrus Riyan*     Membaca Kita yang Dilelapkan Keadilan Dari rinai senja, kita tandaskan nepotisme pada kulminasi pekan menyantap aneka polemik yang bercokol apik dalam jemalamu sejenak sebab betapa distorsi teramat kacau menjamumu mencetuskan kronik sengketa; riuh sampai ricuh pun kita saksikan humanitas gentas mengingu keadilan di kujur …

Puisi-Puisi Agrus Riyan Read More »

Puisi-Puisi Husni Hamisi

24 Agustus 2025 Puisi-Puisi Husni Hamisi Oleh Husni Hamisi*     Masabumi Hosonomi ( satu ) Jejak sepatu meninggalkan kamarnya. suaranya lebih hujan dari malam yang pernah kau temui dia tak tahu, jam berapa mereka tiba. hanya tahu sisa kopi di meja tumpah dan gelasnya pecah di ubin berceceran mereka tak menyebut namanya : tapi …

Puisi-Puisi Husni Hamisi Read More »

Puisi-puisi Dali Daulay

17 Agustus 2025 Puisi-Puisi Dali Daulay Oleh Dali Daulay*     Afeksi Purba Pekarangan waktu. bangkai. jalan terbuka—lebar di bawahnya, terkubur jejak-jejak dinosaurus. mobil tua, dinamo yang sekarat; mengarungi gurun. sebuah tempat, rongsokan dunia lama. Begitu banyak yang telah berubah, sayang, kecuali caramu memelukku: tangan yang melilit erat bahuku seperti titanoboa. mesra dalam afeksi purba. …

Puisi-puisi Dali Daulay Read More »

Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati

3 Agustus 2025 Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati Oleh Rafidah Nur Hidayati*     Libellulla  (Siapkah?)  Sore menjelang Angin membawa aroma aspal dan debu kota Aku duduk di balkon lantai empat Menyesap teh yang lebih pahit dari ingatanku sendiri Ketika makhluk bersayap itu datang Mengoyak kesunyian dengan dengungan lembutnya Seekor capung, hijau metalik Bersinar seperti rahasia …

Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati Read More »

Puisi-Puisi Saifa Abidillah

27 Juli 2025 Puisi-Puisi Saifa Abidillah Oleh Saifa Abidillah*     Situs Muara Jambi tidak ada jam tidur, setiap jam tidur adalah hantu yang menakutkan. kau duduk di beranda matamu membaca buku tua penuh api purba. matamu, puzzle arkaik yang sukar dipecahkan ilmuwan paling berpengalaman. sebuah peradaban besar lahir dari mata mungilmu yang jenaka. mata …

Puisi-Puisi Saifa Abidillah Read More »

Puisi-Puisi Galeh Pramudianto

6 Juli 2025 Puisi-Puisi Galeh Pramudianto Oleh Galeh Pramudianto*     Personifikasi Plastik aku terlahir dari kilau pabrik berbentuk sachet mungil pengemas rasa instan dibawa angin digelinding hujan menyusuri got, sungao lalu samudra kesepian tubuhku tak membusuk hanya pecah menjadi mikroplastik mengendap di antara sedimen dan tulang ikan mati plankton mencicipiku dikira aku serpih cahaya …

Puisi-Puisi Galeh Pramudianto Read More »

Puisi-Puisi Pringadi Abdi Surya

29 Juni 2025 Puisi-Puisi Pringadi Abdi Surya Oleh Pringadi Abdi Surya*     Sumur Doa ribuan nama—bahkan lebih berbisik dari lumut waktu yang lekat di dinding perigi. Setiap huruf adalah doa yang tak pernah putus, bagai mata air yang terus mengisi mengalir ke atas, melalui corong sepi, menuju alamat yang tak pasti. Sambil menengadah, hanya …

Puisi-Puisi Pringadi Abdi Surya Read More »

Puisi-Puisi Amelia Halfa R

22 Juni 2025 Puisi-Puisi Amelia Halfa R Oleh Amelia Halfa R*     Ruko yang Menangis di Tengah Malam Di antara lampu neon yang pura-pura terang, ruko-ruko tua bersandar lelah penuh utang, penuh diam, menyimpan cerita yang tak dibeli siapa-siapa. Tukang parkir terkantuk di pojok warung kopi, mimpi jadi bos tapi tak punya KTP. Sementara …

Puisi-Puisi Amelia Halfa R Read More »

Puisi-Puisi S. Kamar

15 Juni 2025 Puisi-Puisi S. Kamar Oleh S. Kamar*     Kebohonganku hujan menjelang magrib air mukamu mengentalkan perdebuan tanahku membasuh kerinduan meruap wewangian puji demi puji mengulur bagai benang layangan malam hinggap di atas atap dua burung gagak berkepak :kabarkan kebohonganku aku malu   Sesembahan dan burung itu terbang menembus batas langit kau punguti …

Puisi-Puisi S. Kamar Read More »